Agar Remaja Terhindar dari Perilaku Kekerasan

Agar Remaja Terhindar dari Perilaku Kekerasan

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, KELUARGA — Kondisi perilaku kekerasan di tengah-tengah remaja negeri ini sungguh sangat memprihatinkan. Baik remaja sebagai pelaku maupun yang menjadi korban. Beberapa waktu lalu, masyarakat dihebohkan dengan video sekumpulan pelajar SMA yang menendang seorang nenek hingga mental. Di Tarakan, beberapa hari lalu, seorang remaja dibunuh karena melawan saat diculik oleh komplotan penculik yang ingin meminta tebusan kepada orang tua korban (Detiknews, 4-12-2022).

Maraknya kekerasan di kehidupan remaja muslim ini harus menjadi perhatian serius orang tua, keluarga, pendidik, masyarakat, bahkan negara. Akan dibawa ke mana bangsa ini jika para pemudanya terbiasa hidup dengan kekerasan. Akan seperti apa generasi mendatang jika kehidupan yang melahirkannya miskin kelembutan dan tidak berhati manusia.

Buah Penerapan Sekularisme

Harus disadari oleh semua pihak bahwa banyaknya kasus kekerasan di kalangan remaja adalah karena dijauhkannya agama Islam dari kehidupan mereka. Masyarakat terus ditakut-takuti dengan isu ‘Islam radikal’ di kalangan remaja. Padahal banyak pelajar yang mereka tuding terpapar radikalisme adalah mereka yang taat beribadah dan berakhlak mulia, bahkan banyak yang berprestasi. Sementara itu, sebagian remaja yang lain terbiasa dengan kata-kata umpatan dan kasar, melawan orang tua dan guru, serta melakukan perundungan.

Sekularisme juga semakin masif di dunia pendidikan. Sistem pendidikan hanya mementingkan prestasi akademik dan berorientasi pada lapangan kerja, bukan demi membentuk kepribadian Islam. Pelajaran agama di sekolah dan di kampus amat minim. Itu pun hanya diajarkan dalam bentuk hafalan untuk mengejar target kurikulum dan ujian kenaikan kelas.

Sistem Pendidikan Islam

Berbeda dengan sistem pendidikan Islam yang menjadikan akidah Islam/keimanan sebagai dasar pendidikan. Dalam sistem pendidikan Islam, kepada para pelajar ditanamkan keimanan kepada Allah Swt. dan ketaatan pada ajaran Islam. Dengan begitu, setiap ilmu yang dipelajari menjadikan mereka semakin beriman dan bertakwa.

Mencetak kepribadian Islam (syakhshiyyah islamiah) adalah tujuan pendidikan. Remaja diarahkan menjadi pribadi yang memiliki kecerdasan beragam untuk berkontribusi bagi umat.

Remaja dibentuk pola pikir dan pola sikapnya agar senantiasa selaras dengan Islam. Untuk itu, pengajaran Islam diberikan kepada mereka agar menjadi petunjuk kehidupan yang praktis.

Ketakwaan Remaja, Keluarga, dan Masyarakat

Ketakwaan adalah faktor utama agar remaja terhindar dari perilaku kekerasan. Tidak hanya remaja yang harus bertakwa, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Dan ketakwaan tidak terbentuk dengan sendirinya. Harus ada upaya memahami Islam agar setiap orang menjadi pribadi yang bertakwa.

Dengan mempelajari Islam secara intensif, maka ketakwaan akan terbentuk dan dipupuk hingga konsisten. Bukan hanya remaja yang dibina, tetapi keluarga dan masyarakat pun harus terbina dengan Islam.

Dengan demikian, ketakwaan menjadi alarm yang membuat setiap orang akan berhati-hati ketika dia melangkah di setiap tangga kehidupannya serta waspada dalam setiap pikiran, perasaan, dan perilakunya sehari-hari. Yakni memikirkan, apakah sesuai dengan tuntunan Islam dan membawa kemaslahatan bagi semua ataukah melanggar aturan Allah dan berakibat kemudaratan bagi sesama. Namun, apa jadinya jika pembinaan Islam dicap sebagai wadah penebar radikalisme?

Jadi, pembentukan ketakwaan membutuhkan kesadaran negara akan pentingnya memiliki aset penerus bangsa, yaitu generasi muda yang bertakwa.

Negara, Penjamin Utama agar Remaja Aman dari Perilaku Kekerasan

Tidak hanya sistem pendidikan yang harus dibenahi oleh negara. Namun, juga segala informasi yang beredar di masyarakat tidak boleh ada yang mempertontonkan perilaku kekerasan sebagai perbuatan biasa. Negara harus berani memblokir media yang menyajikan berbagai tayangan yang tidak mendidik dan tidak mencerdaskan masyarakat, apalagi sampai menjadi jalan bagi semua perilaku maksiat. Sebab tidak ada kebaikan sedikit pun pada setiap perbuatan yang melanggar syariat.

Begitu pula dalam sistem pergaulan, interaksi antaranggota masyarakat harus dijaga agar tidak ada perbuatan yang dapat membahayakan mereka. Juga sistem ekonomi, harus dapat menjamin terpenuhinya seluruh kebutuhan orang per orang dengan cara yang mudah dan makruf. Hal ini akan menutup celah bagi orang untuk berpikir pendek dengan melakukan tindakan kekerasan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selanjutnya adalah sistem sanksi yang tegas sehingga membuat orang berpikir seribu kali jika melakukan tindak kekerasan yang sama serta benar-benar membuat jera pelakunya.

Semua ini hanya ada pada negara yang menerapkan Islam di seluruh sistem kehidupan, tidak pada negara demokrasi yang justru menjauhkan Islam dari kehidupan manusia. Dan negara yang seperti ini hanya negara Khilafah Islamiah yang akan tegak kembali sesuai dengan janji Allah Swt..

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Akan tetapi, barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.“ (QS An-Nur : 55). [MNews/Rgl]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *