Penulis: Ummu Aiman
Muslimah News, NAFSIYAH — Menyedihkan, tetapi itulah kenyataannya, ketika seorang perempuan dengan mudah melepaskan khimarnya, meninggalkan jilbabnya, dan merasa nyaman mempertontonkan kecantikannya. Entah dengan alasan menjunjung tinggi kebebasan, kepuasan pribadi, materi dunia, maupun popularitas, yang semuanya berujung pada satu hal, yaitu hawa nafsu yang tidak dikenalkan pada ketaatan yang sempurna.
Mengerikan, tetapi inilah yang sering terjadi, ketika seorang lelaki terpana pada wanita yang tidak halal baginya, yang berdandan menggugah syahwat, yang mengumbar seluruh keelokannya tanpa batas hingga menghancurkan keimanannya. Entah dengan alasan “menghargai” keindahan wanita, “menolong” wanita sehingga tega menganiaya wanita yang sudah menjadi tanggung jawabnya, menyalahkan istri yang tidak mampu berdandan, yang semuanya berujung pada satu hal, yaitu hawa nafsu yang tidak terkendali.
Padahal, nun di surga sana, terdapat makhluk yang begitu cantik, yang begitu indah, yang belum pernah seorang pun melihat ada makhluk secantik dan seindah itu. Mereka sangat pemalu dan terjaga sehingga kecantikan mereka hanya bisa dinikmati oleh suami-suami mereka di surga.
Allah Subhanahu wa taala telah memberikan pada bidadari kebaikan dalam penciptaan dan akhlak, kecantikan wajah, kulit halus yang mengagumkan sehingga pikiran dan lisan manusia yang lemah tidak mampu mengungkapkannya.
Allah Subhanahu wa taala berfirman,
فِيْهِنَّ قٰصِرٰتُ الطَّرْفِۙ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ اِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَاۤنٌّۚ ٥٦ فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ ٥٧ كَاَنَّهُنَّ الْيَاقُوْتُ وَالْمَرْجَانُۚ
“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS ar-Rahman: 56-58)
Mari kita simak ayat-ayat Al-Qur-an dan hadis-hadis yang menceritakan tentang para bidadari surga:
Kesempurnaan Bidadari Surga
Bidadari itu terbebas dari segala kotoran dan sesuatu yang menjijikkan, baik lahir maupun batin. Allah Subhanahu wa taala berfirman,
وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۗ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ قَالُوْا هٰذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ¡وَاُتُوْا بِهٖ مُتَشَابِهًا ۗوَلَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci, mereka kekal di dalamnya.” (QS al-Baqarah: 25)
Banyak ahli tafsir mengatakan bahwa al-muthaharah berarti suci dari haid, kencing, nifas, berak, ingus, ludah, dan setiap kotoran serta perkara yang menjijikkan seperti apa yang terjadi pada wanita di dunia ini (Tafsir Ibnu Katsir: 1/63)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Bersamaan dengan itu, batin mereka juga suci dari akhlak yang buruk dan sifat-sifat yang tercela, lisan mereka suci dari kekejian dan ucapan yang kotor, pandangan mereka suci dari keinginan kepada selain suami dan pakaian mereka suci dari kotoran yang bisa mengotorinya.” (Bada’iut Tafsir: 1/292)
Bidadari Surga hanya untuk Hamba-Hamba-Nya yang Taat Beriman Sempurna
Di antara balasan besar yang disediakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala bagi hamba-hamba-Nya yang beriman di dalam surga yang mulia adalah mereka akan menikah dengan para bidadari, Allah Subhanahu wa taala berfirman,
مُتَّكِـِٕيْنَ عَلٰى سُرُرٍ مَّصْفُوْفَةٍۚ وَزَوَّجْنٰهُمْ بِحُوْرٍ عِيْنٍ
“Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.” (QS ath-Thur [52]: 20)
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam bersabda,
«أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَلِجُ الْجَنَّةَ صُورَتُهُمْ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، لَا يَبْصُقُونَ فِيهَا وَلَا يَمْتَخِطُونَ وَلَا يَتَغَوَّطُونَ، آنِيَتُهُمْ فِيهَا الذَّهَبُ، أَمْشَاطُهُمْ مِنْ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَمَجَامِرُهُمْ الْأَلُوَّةُ، وَرَشْحُهُمْ الْمِسْكُ، وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ، يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ مِنْ الْحُسْنِ، لَا اخْتِلَافَ بَيْنَهُمْ وَلَا تَبَاغُضَ، قُلُوبُهُمْ قَلْبٌ وَاحِدٌ، يُسَبِّحُونَ اللَّهَ بُكْرَةً وَعَشِيًّا» [رواه البخاري برقم 3245 ومسلم برقم 2834]
“Kelompok pertama yang akan memasuki surga akan memiliki wajah yang sama seperti bulan purnama, mereka tidak meludah, ingusan dan tidak pula berak padanya, bejana-bejana mereka di dalamnya adalah emas, sisir-sisir mereka dari emas dan perak, tempat bukhur (gahru) mereka terbuat dari kayu yang sangat harum, mereka dari mereka minyak misk, setiap mereka memiliki dua istri, bagian dalam betisnya tampak dari balik dagingnya karena kecantikannya, tidak ada perselisihan antara mereka dan tidak pula terjadi pertengkaran, hati mereka satu, mereka memuji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada waktu pagi dan petang”. (HR Bukhari no. 3245 dan Muslim no. 2834)
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab sahihnya dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu alaihi wasallam bersabda,
لَرَوْحَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ غَدْوَةٌ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَلَقَابُ قَوْسِ أَحَدِكُمْ مِنْ الْجَنَّةِ أَوْ مَوْضِعُ قِيدٍ ـ يَعْنِي سَوْطَهُ ـ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا، وَلَمَلَأَتْهُ رِيحًا، وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا» [رواه البخاري برقم 3796 ومسلم برقم 1880]
“Pergi pada waktu pagi di jalan Allah atau pada waktu petang lebih baik dari dunia dan seisinya, dan pendeknya anak panah salah seorang di antara kalian dari surga atau tempat cemetinya lebih baik dari dunia dan seisinya, dan seandainya seorang bidadari dari surga turun menghampiri penghuni bumi, maka dia akan menerangi antara langit dan bumi dan akan menyebarkan semerbak bau yang harum, dan selendang yang menutupi kepalanya lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR Bukhari no. 3796 dan Muslim no. 1880)
Bidadari Surga Sopan dan Pemalu
Allah Subhanahu wa taala menyifati bidadari dengan “menundukkan pandangan” pada tiga tempat di Al-Qur’an, yaitu:
“Di dalam surga, terdapat bidadari-bidadari-bidadari yang sopan, yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan biadadari itu permata yakut dan marjan.” (QS ar-Rahman: 56-58)
وَعِنْدَهُمْ قٰصِرٰتُ الطَّرْفِ عِيْنٌ ۙ
“Dan di sisi mereka ada (bidadari-bidadari) yang bermata indah, dan membatasi pandangannya.” (QS ash-Shaffat: 48)
وَعِندَهُمْ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرْفِ أَتْرَابٌ
“Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya.” (QS Shad: 52)
Seluruh ahli tafsir sepakat bahwa pandangan para bidadari surgawi hanya tertuju untuk suami mereka sehingga mereka tidak pernah melirik lelaki lain.
Wanita Beriman Lebih Baik daripada Bidadari Surga
Ahli tafsir Al-Qurthubi rahimahullah, menjelaskan bahwa wanita dunia lebih baik dan lebih cantik daridaripada bidadari karena amal baik mereka di dunia, berbeda dengan bidadari yang langsung Allah taala ciptakan di dalam surga. Wanita dunia juga akan menjadi ratu dan tuan putri di surga. Beliau rahimahullah berkata,
حال المرأة المؤمنة في الجنة أفضل من حال الحور العين وأعلى درجة وأكثر جمالا ؛ فالمرأة الصالحة من أهل الدنيا إذا دخلت الجنة فإنما تدخلها جزاءً على العمل الصالح وكرامة من الله لها لدينها وصلاحها ، أما الحور التي هي من نعيم الجنة فإنما خُلقت في الجنة من أجل غيرها وجُعلت جزاء للمؤمن على العمل الصالح ….؛ فالأولى ملكة سيدة آمرة ، والثانية – على عظم قدرها وجمالها – إلا أنها ـ فيما يتعارفه الناس ـ دون الملكة ، وهي مأمورة من سيدها المؤمن الذي خلقها الله تعالى جزاءً له
“Keadaan wanita beriman di surga lebih utama dari bidadari dan lebih tinggi derajat dan kecantikannya. Wanita salihah dari penduduk dunia masuk surga sebagai balasan atas amal saleh mereka. Hal ini adalah kemuliaan dari Allah untuk mereka karena bagusnya agama dan kebaikan mereka. Adapun bidadari adalah bagian dari kenikmatan surga. Mereka diciptakan di dalam surga sebagai kenikmatan bagi makhluk selainnya, sebagai balasan bagi orang beriman atas amal salehnya.
Jenis yang pertama, (yaitu wanita dunia) adalah sebagai ratu, tuan putri, dan yang memerintah. Adapun jenis kedua, (bidadari surga) dengan keagungan kedudukan dan kecantikannya—sebagaimana yang diketahui oleh manusia—maka kedudukan bidadari di bawah ratu. Dia menjadi pelayan bagi tuannya yang beriman yang Allah ciptakan sebagai balasan bagi orang beriman.” (Tafsir Al-Qurthubi, 16: 154)
Wahai kaum muslimin, raihlah kebahagiaan yang hakiki dengan ketaatan total kepada Allah Subhanahu wa taala. Seluruh kecantikan dan keindahan yang sempurna hanya ada pada jalan terindah yaitu jalan yang lurus, jalan yang ditempuh para hamba-hamba-Nya yang mulia, yang mengabdikan seluruh waktu, harta, dan hidupnya untuk berjuang menegakkan aturan Allah dalam seluruh sendi kehidupan. Jangan sia-siakan waktumu dan hartamu untuk hawa nafsu yang akan menyesatkan dan membawa penyesalan yang tiada akhir. Mari berjuang sebagaimana berjuangnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyyallahu anhum. Lailaha Illallah. Allahuakbar! [MNews/Rgl]
Foto sampul: unsplash
