Penulis: Ummu Aiman
Muslimah News, NAFSIYAH — Rumah bagai kapal pecah, rumah yang tidak terurus, kamar mandi kotor, ruangan dipenuhi debu, halaman penuh sampah, cucian kotor menumpuk, serta piring-piring bekas makan berserakan. Ke manakah sang penghuni rumah? Keluar, sedang berdakwah. Suami aktif membina masyarakat, begitupun istri sambil membawa ketiga anaknya yang masih balita. Masyaallah.
Suami kembali ke rumah dengan lelah karena harus mencari nafkah dan berdakwah. Begitu pula istri yang sangat capek karena harus berdakwah sambil menggendong bayi dan membawa anak-anak balita, yang seringkali rewel meminta banyak perhatian. Dengan kepenatan keduanya sudah tidak ada tenaga untuk memperhatikan rumah tinggal mereka mau seperti apa. Apakah dakwah harus dihentikan?
Islam telah memberikan solusi terbaik dalam menyelesaikan setiap persoalan manusia. Tidak ada kewajiban dalam aturan Islam yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. Tinggal bagaimana manusia memahami aturan-aturan Islam dengan benar dan mengelolanya sesuai dengan teladan terbaik dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia.
Rumah Berbagi Peran
Kesibukan Rasulullah dalam berdakwah tidak menjadikan beliau tidak peduli pada masalah “remeh” yang ada di dalam tata kelola rumah tangga. Ada aktifitas ta’awun, kerjasama yang indah antara suami istri, antara penghuni rumah.
Sebagaimana yang disampaikan Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam ketika beliau berada di rumah.
عَنِ الأَسْوَدِ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصْنَعُ فِى أَهْلِهِ قَالَتْ كَانَ فِى مِهْنَةِ أَهْلِهِ ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ
Dari Al-Aswad, ia bertanya pada Aisyah, “Apa yang Nabi sallallahu alaihi wasallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?” Aisyah menjawab, “Rasulullah sallallahu alaihi wasallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu salat, beliau berdiri dan segera menuju salat.” (HR Bukhari, no. 6039)
Dalam hadis lainnya, Aisyah radhiyallahu anha menceritakan bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam mengerjakan hal-hal sederhana untuk membantu istri-istri beliau, semisal mengangkat ember dan menjahit bajunya.
عن عروة قال قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ قَالَتْ مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ
Urwah berkata kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam jika ia bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah berkata, “Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.” (HR Ibnu Hibban)
Dalam Syarh Al-Bukhari karya Ibnu Baththal rahimahullah, disebutkan bahwa Al-Muhallab menyatakan, inilah pekerjaan Nabi sallallahu alaihi wasallam di rumahnya. Hal ini adalah wujud ketawadukan (kerendahan hati) beliau, juga supaya umatnya bisa mencontohnya. Karenanya termasuk sunah Nabi, hendaklah seseorang bisa mengurus pekerjaan rumahnya, baik menyangkut perkara dunia maupun agamanya.
As-Sindi rahimahullah dalam catatan kaki untuk Sahih Al-Bukhari menyatakan bahwa membantu urusan rumah termasuk kebiasaan (sunah) orang-orang saleh.
Ketawadukan inilah yang nanti akan membuat Allah meninggikan derajat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda,
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Tidaklah seseorang tawaduk (merendahkan hati) karena Allah, melainkan Dia akan meninggikan derajatnya.” (HR Muslim, no. 2588)
Saling bekerja sama adalah kunci dari menutupi kekurangan dan kelemahan. Pekerjaan rumah tangga tidak bisa dibebankan hanya pada salah satu pihak (suami saja atau istri saja), tetapi kedua belah pihak yang akan menjadi teladan bagi penghuni rumahnya.
Rumah Ilmu yang Diamalkan
Menjaga kebersihan adalah ajaran yang selalu ditegaskan dalam Islam. Suci dari hadas besar dan hadas kecil menjadi salah satu syarat bagi seorang muslim dalam melaksanakan salat. Dan salat merupakan tiang agama.
Sebagai penganut ajaran Islam, sudah menjadi kelaziman untuk kita memahami ilmu agar diamalkan. Sejak empat belas abad silam, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam membawa teladan budaya hidup bersih. Kebersihan menjadi perintah dan setengah dari ajaran agama kita.
وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُطَّهِّرِينَ
“Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS: at-Taubah: 108)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,
تَنَظَّفُوْا بِكُلِّ مَا اِسْتَطَعْتُمْ فَاِنَ اللهَ تَعَالَي بَنَي الاِسْلاَمَ عَلَي النَظَافَةِ وَلَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ اِلاَ كُلُّ نَظِيْفٍ
“Bersihkanlah segala sesuatu semampu kamu. Sesungguhnya Allah taala membangun Islam ini atas dasar kebersihan dan tidak akan masuk surga kecuali setiap yang bersih.” (HR ath-Thabrani)
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ “. أخرجه مسلم
“Kebersihan separuh dari keimanan.” (HR Muslim)
Nabi juga mengingatkan dalam sabdanya yang lain,
تَنَظَّفُوْا بِكُلِّ مَا اِسْتَطَعْتُمْ فَاِنَ اللهَ تَعَالَي بَنَي الاِسْلاَمَ عَلَي النَظَافَةِ وَلَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ اِلاَ كُلُّ نَظِيْفٍ
“Bersihkanlah segala sesuatu semampu kamu. Sesungguhnya Allah Taala membangun Islam ini di atas dasar kebersihan dan tidak akan masuk surga kecuali setiap yang bersih.” (HR Ath-Thabrani)
Mengemban dakwah adalah tugas mulia. Dalam mengemban dakwah, bukan hanya tugas menyampaikan kebenaran yang dituntut, tetapi juga tugas untuk mengamalkan-menerapkan kebenaran (aturan-aturan Allah) pada diri sendiri, keluarga (anak, istri/suami), lingkungan masyarakat, dan bernegara.
Baiti Jannati
Rumah dakwah adalah rumah pengemban dakwah yang sejatinya akan menjadi rumah yang memberikan energi besar untuk berbuat kebaikan, memberi banyak manfaat, dan berkonstribusi positif bagi dirinya, orang-orang sekeliling, bangsa, dan negara.
Keteladanan pengemban dakwah sangat diperlukan, dimulai dari tanggung jawabnya mengelola rumah, bagian esensi pengelolaan rumah, tanggung jawab kebersihan .
Rumah dakwah adalah rumah pengemban dakwah yang dibangun sebagai basecamp-nya di dunia guna mempersiapkan perjalanan panjang menuju Rabb-nya.
Menata rumah dakwah adalah tanggung jawab bersama. Dan tidak bisa didasarkan pada kemalasan dan keegoisan masing-masing penghuninya.
Rumah dakwah adalah rumah teladan yang menginspirasi. Memberi teladan adalah amanah dan tanggung jawab yang besar di dunia dan akhirat. Pengemban dakwah harus menyadari posisinya di tengah umat yaitu menjadi sosok yang dapat diteladani sikapnya. Oleh karena itu, dia harus meningkatkan kualitasnya sehingga layak menjadi role model umat.
Pengemban dakwah juga harus menyelaraskan semua peran yang ada pada dirinya. Sebagai anak, sebagai istri dan Ibu, atau suami dan ayah, dan sebagai bagian dari masyarakat. Ketimpangan dalam menjalani peran ini akan menjadi penghambat keteladanan di tengah umat. Dan membahayakan dirinya sebagai hamba Allah dan keberlangsungan pengembanan dakwahnya.
Rumah dakwah adalah baiti jannati, tempat para penghuninya berbahagia karena taat kepada Rabb-nya, saling berbagi dalam melaksanakan peran dan fungsi yang diamanahkan Rabb-nya di dunia untuk bekal di akhirat kelak. “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”(QS at-Taubah: 71) [MNews/Rgl]
