Banjir Melanda, Mitigasi Masih Ala Kadarnya?

Banjir Melanda, Mitigasi Masih Ala Kadarnya?

Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.

Muslimah News, OPINI — Banjir menggenangi sejumlah daerah di tanah air. Di Lhokseumawe, Aceh, banjir menggenangi sejumlah wilayah di kota tersebut sejak Selasa (04/10/2022). Banjir dipicu oleh hujan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah itu sehingga terjadi luapan debit air sungai. Tercatat 46 orang mengungsi akibat banjir dan tidak ada korban jiwa. Namun demikian, setidaknya 4.900 hektare lahan sawah di Kabupaten Aceh Utara juga terendam banjir. Sebagian wilayah dipastikan mengalami gagal panen.

Banjir juga melanda ibukota Jakarta. Pada Rabu (12/10/2022) per pukul 06.00 WIB, terdapat 50 RT terendam banjir akibat luapan Sungai Ciliwung. Ketinggian banjir pagi itu bervariasi, tertinggi mencapai 2,2 meter di Kelurahan Cawang, Jakarta Timur.

Tidak Hanya Banjir

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan informasi peringatan dini cuaca ekstrem terhitung mulai tanggal 9 sampai 15 Oktober 2022. Menurut BMKG, sepekan ke depan wilayah Indonesia akan berpotensi mengalami gejala fenomena alam seperti gelombang tinggi, angin kencang, angin putih beliung, hujan deras, dan dapat disertai petir.

Setidaknya, ada dua potensi bencana yang kerap terjadi saat musim hujan, yaitu banjir dan tanah longsor. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto, menyatakan sebanyak 2.718 kali bencana alam terjadi di Indonesia sepanjang periode 1 Januari hingga 9 Oktober 2022. Kejadian bencana alam yang mendominasi adalah cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor. Rinciannya, bencana banjir terjadi sebanyak 1.083 kali, tanah longsor 483 kali, dan cuaca ekstrem 867 kali.

Selain itu, juga terdapat bencana alam yang lain. Gempa bumi terjadi sebanyak 21 kali, kebakaran hutan dan lahan 239 kali, serta gelombang pasang dan abrasi 21 kali. Bencana alam tersebut menimbulkan korban meninggal dunia 160 jiwa, hilang 28 jiwa, 790 luka-luka, serta terdampak dan mengungsi 3.193.001 jiwa.

Mitigasi Ala Kadarnya

Menyoroti hal ini, selain tentunya butuh mitigasi, dalam rangka mengantisipasi dampak banjir dan longsor, pengawasan dan kewaspadaan dini perlu dilakukan. Hanya saja, yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah progres mitigasi yang selama ini berlangsung.

Sejauh mana instrumen mitigasi sudah mampu berperan menanggulangi bencana alam, khususnya banjir dan tanah longsor sehingga pada masa/musim selanjutnya kedua bencana langganan tersebut bisa diminimalisasi?

Juga sudah seberapa besar peran serta kebijakan politik dan birokrasi yang tepat guna untuk melayani kepentingan-kepentingan masyarakat saat cuaca ekstrem dan memburuk sehingga tidak sampai terjadi bencana alam yang parah dan berulang?

Hampir sepanjang 2022 ini, banjir sudah terjadi lebih dari 1.000 kali di Indonesia. Namun, sistem mitigasi yang ada masih belum mampu menjawab tantangan penanggulangan bencana, khususnya banjir. Harus berapa kali lagi banjir terjadi agar dapat menjadi pelajaran dalam rangka mencapai tingkat mitigasi terbaik? Sebaliknya, ini semua justru menegaskan bahwa mitigasi bencana di negeri ini masih ala kadarnya. Astaghfirullah.

Wawasan Lingkungan?

Sungguh ironis, di luar sana pemerintah begitu jor-joran menyuarakan pembangunan berwawasan lingkungan beserta ide energi bersih yang tampak sangat bergengsi. Sejak 2017, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga masif menyerukan pentingnya implementasi pembangunan berwawasan lingkungan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.

September lalu, KLHK bahkan menegaskan pentingnya pelibatan komponen generasi muda dalam pengendalian perubahan iklim. Keberadaan generasi muda saat ini, menurut Menteri LHK Siti Nurbaya, menjadi yang terbesar dalam sejarah. Oleh karena itu, jelas Siti Nurbaya, ini saatnya generasi muda Indonesia menunjukkan potensi besar yang dimiliki, dan menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan.

Kepedulian generasi muda terhadap lingkungan ini, kata Siti Nurbaya, bahkan menjadi komitmen yang dihasilkan dari pertemuan Youth 20 (Y20) di Balikpapan pada sambutan Co-Chair Y20 tanggal 21 Mei lalu.

Namun, sayangnya, hal ini tidak dibarengi dengan komitmen para kapitalis dan korporat global maupun nasional untuk mengendalikan tindakan eksploitasinya terhadap alam, baik itu berupa alih fungsi hutan primer menjadi lahan terbuka, pabrik, hingga perkebunan sawit, termasuk kasus karhutla dan pertambangan; maupun pengusaha properti yang sangat tidak bijak mengonversi lahan menjadi permukiman. Padahal suburnya bisnis properti toh tidak juga menjawab krisis tempat tinggal bagi masyarakat miskin.

Lantas, di mana letak komitmen wawasan lingkungan yang telah terwacanakan? Akankah hanya berakhir menjadi mimpi belaka? Pun pihak siapa yang lantas dimenangkan? Ternyata para kapitalis lagi, bukan?

Nirlogika Ekowisata

Lebih menyesakkan lagi, pemerintah malah sedang menggenjot ekowisata, sebagai sektor baru pariwisata pascapandemi ini. Konon, pandemi Covid-19 telah mengubah wajah industri pariwisata Indonesia, dari sekadar pariwisata menjadi lebih ke alam atau yang biasa disebut dengan ecotourism atau ekowisata.

Menurut Chief Strategy Officer Grup Plataran Anandita Makes Adoe, ekowisata bahkan menempati posisi sebagai masa depan industri pariwisata Indonesia pascapandemi. Anandita mengatakan, saat ini tren pariwisata berorientasi ke alam, yakni dengan lebih bertanggung jawab secara sosial dan juga terhadap lingkungan. Artinya, dengan ekowisata, maka pariwisata akan lebih dari sekadar liburan.

Jelas sekali, pemberdayaan aspek wawasan lingkungan ternyata juga tidak untuk kepentingan masyarakat luas. Lingkungan malah sedang diolah menjadi komoditas ekonomi baru bertajuk ekowisata yang lagi-lagi hadir menghasilkan keuntungan ekonomi bagi kepentingan kapitalis. Lantas, apa kabar penanggulangan banjir beserta mitigasinya, berikut bencana alam lainnya? Ini benar-benar nirlogika!

Negeri yang Baik

Allah Taala berfirman, “… Baldatun tayyibatun wa rabbun gafuur ((negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun).” (TQS Sabaa’ [34]: 15).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini menyatakan, “Sabaa’ adalah (sebutan) raja-raja Negeri Yaman dan penduduknya. Dulu mereka berada dalam kenikmatan dan kebahagiaan yang mengisi negeri dan kehidupan mereka, kelapangan rezeki mereka, serta tanaman-tanaman dan buah-buahan mereka. Allah Taala lalu mengutus kepada mereka para rasul. Para rasul itu menyeru mereka agar memakan rezeki yang Dia berikan dan agar bersyukur kepada-Nya dengan mentauhidkan-Nya dan beribadah kepada-Nya. Keadaan mereka (yang baik) itu terus berlangsung hingga masa yang Allah kehendaki. Lalu mereka berpaling dari apa yang diserukan kepada mereka. Akibatnya, mereka dihukum dengan datangnya banjir bandang dan terpencar-pencarnya mereka di banyak negeri.” (Tafsir Ibnu Katsîr, 6/445).

Adapun makna “rabbun gafuur”, menurut Imam ath-Thabari rahimahullah, bermakna, “Rabb kalian adalah Rabb Yang Maha Pengampun jika kalian menaati-Nya.” (Tafsir ath-Thabari, 6/215).

Selain itu, terdapat sabda Rasulullah saw., “Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya.”(HR Muslim dan Ahmad)

Ulasan ini menegaskan setidaknya ada dua aspek yang bisa menjadi mekanisme penanggulangan banjir musiman yang terus berulang ini. Pertama, aspek akidah, bahwa bencana alam berasal dari Allah, maka selayaknya kita juga mohon pertolongan Allah agar diberi kesabaran menjalaninya.

Kedua, aspek kemaslahatan umum. Banjir yang berulang menunjukkan bahwa mitigasi tidak berjalan kontinyu dan simultan. Program mitigasi hanya parsial pada tahun tertentu saja, tetapi belum tentu bisa terlaksana lagi di tahun berikutnya. Andaikata program mitigasi bisa kontinyu, biasanya tidak terjadi akselerasi pada tahun selanjutnya. Akibatnya, program mitigasi tidak mengalami kemajuan, alih-alih menghasilkan capaian yang lebih baik.

Belum lagi, peralatan yang digunakan saat mitigasi pun bukan yang berkualitas terbaik sehingga mudah rusak. Kalaupun peralatannya sudah yang berkualitas terbaik, yang seringkali terjadi adalah minimalisnya perawatan pada peralatan sehingga akhirnya juga rusak.

Benar-benar malang negeri ini, sistem kufur yang tengah berlangsung mustahil memberikan keberkahan. Sistem kufur juga melahirkan para pejabat yang tidak amanah dan melaksanakan tugas secara ala kadarnya. Amal mereka dalam mengemban jabatan sangat jauh dari kualitas amal yang sempurna lagi terbaik. Tidak heran jika negeri ini juga jauh sekali dari karakter negeri yang baik (baldatun tayyibatun).

Khatimah

Sungguh, kita semua tentu mendambakan kondisi suatu negeri yang aman, sentosa, serta jauh dari bencana dan mara bahaya. Inilah negeri impian bagi setiap orang. Sungguh celaka negeri yang sedemikian indah hingga berjuluk zamrud khatulistiwa, tetapi harus merana akibat banjir di mana-mana akibat tegaknya sistem kufur di negeri tersebut.  Ini masih belum bencana-bencana lain yang menjauhkan berkah Allah darinya.

Allah Taala berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(QS Al-A’raaf [7]: 96). Wallahualam bissawab. [MNews/Rgl]

Foto sampul: iStock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *