Memperbaiki Hubungan dengan Orang Tua

Memperbaiki Hubungan dengan Orang Tua

Muslimah News, NAFSIYAH — Kita sering menemukan tidak harmonisnya hubungan yang terjalin antara orang tua dan anak-anak mereka. Akibat umat Islam berada dalam atmosfer kehidupan kapitalistik, kerap kali hubungan orang tua dan anak diikat oleh ikatan manfaat. Jika salah satu tidak mendatangkan manfaat, maka tidak terjalin hubungan baik.

Orang tua menganggap anak tidak bermanfaat jika tak memberi materi dunia yang berlimpah. Baru dianggap sebagai anak jika berkarier bagus di dunia. Adapun, anak saat mendapatkan kesulitan merawat orang tua yang tidak lagi berdaya, ia memilih menghindari ataupun mengabaikan. Menganggap waktunya banyak tersita jika harus mengurusi orang tua, tidak memberi manfaat materi baginya. Astaghfirullah.

Jika terjalin hubungan yang buruk seperti ini, apa yang harus kita lakukan? Islam telah menunjukkan bagaimana idealnya hubungan antara orang tua dan anak. Pentingnya menanamkan keteladanan dan pendidikan dari orang tua kepada anaknya.

Cara mendidik anak serta perlakuan orang tua kepada anaknya akan memberi kesan yang kuat agar terbentuk karakter atau kepribadian anak ketika dewasa kelak. Didikan yang buruk dari orang tua tentu akan memperburuk kepribadian anak saat dewasa.

Padahal keburukan yang besar di hadapan Allah Swt. salah satunya ialah seorang anak yang tidak mampu berbuat baik terhadap orang tuanya. Saudariku, tidak berkualitasnya kehidupan kita disebabkan tidak berkualitasnya hubungan kita dengan orang tua. Dosa besar bagi siapa pun yang memperlakukan orang tuanya dengan buruk. Keburukan ini akan dibalas langsung oleh Allah di dunia dan mendapat siksa di akhirat.

Perlu kita pahami saudariku, siapa pun yang memperlakukan orang tuanya seperti raja, urusan hidup mereka akan diurus seperti raja pula. Namun, memperlakukan orang tuanya dengan buruk seperti pembantu, maka Allah pun akan menjadikan kualitas hidupnya seperti pembantu.

Meski ada orang yang rajin juga taat dalam ibadahnya, salat, puasa, dan bersedekah, tetapi ia melakukan dosa besar karena durhaka terhadap orang tuanya, ibadah yang ia lakukan sampai puluhan tahun tidak bisa menutupi semua keburukan perilakunya terhadap orang tua karena membuat hati mereka terluka.

Ada utang yang harus kita tebus nantinya di akhirat kelak jika di dunia belum kita tunaikan. Pertama, zalimnya kita kepada orang yang beriman. Kedua, buruknya perlakuan kita kepada orang tua.

Kunci kualitas kehidupan kita bukanlah terletak pada tingginya gelar akademik yang kita miliki. Melainkan, baiknya kualitas hubungan kita dengan orang tua. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita benar-benar memperhatikan kualitas hubungan kita dengan orang tua.

Sebagian besar orang memahami keburukan zina dan khamar, tetapi sedikit sekali orang yang memahami keburukan terhadap orang tua. Mari kita belajar dari peristiwa berikut ini.

Ada seorang anak muda mengadu kepada Rasul saw. Ia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ada ayahku ingin mengambil hartaku.” Kemudian, Rasul berkata, “Pergilah kamu dan bawa ayahmu ke sini.”

Setelah anak muda itu pergi berlalu, Malaikat Jibril pun turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada Nabi. Jibril berkata, “Ya Muhammad, Allah Swt. menyampaikan salam untukmu dan berpesan, kalau orang tuanya datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh telinganya.”

Tidak lama kemudian, anak muda itu datang bersama ayahnya. Rasulullah bertanya kepada orang tua itu, “Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin mengambil uangnya?”

Lalu sang ayah yang telah berusia senja itu menjawab, “Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah. Bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibunya), dan untuk keperluan saya sendiri?”

Rasul bersabda lagi, “Lupakanlah itu, sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu.”

Tiba-tiba wajah keriput lelaki tua itu pun menjadi cerah dan tampak bahagia. Ia berkata, “Demi Allah, ya Rasulullah, dengan ini Allah Swt berkenan menambah kuat keimananku dengan kerasulanmu. Memang saya pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya.” Rasulullah mendesak, “Katakanlah, aku ingin mendengarnya.”

Lelaki tua itu berkata dengan berlinang air mata, “Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini. ‘Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah. Lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita.’

“Lalu air mataku berlinang mengucur deras. Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti datang. Setelah engkau dewasa dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran, dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan.”

“Sayang, kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan aku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel padamu. Seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.”

“Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu, seraya berkata, ‘Engkau dan hartamu milik ayahmu.’” (HR Thabrani diriwayatkan oleh Jabir ra)

Duhai saudariku, sudahkah kita berlaku baik kepada orang tua? Terkadang sebagai seorang anak kita lupa terhadap perjuangan mereka mencari nafkah. Ayah telah memberikan segala apa yang dimilikinya tanpa pernah meminta kembali.

Begitupun ibu, telah mencurahkan segala kasih sayangnya untuk merawat, menjaga, dan mendidik anaknya. Namun, saat dewasa dan telah berumah tangga, kita banyak pertimbangan saat memberi. Tidak jarang, kita mencari banyak alasan untuk tidak mengunjungi mereka, tidak memenuhi harapan dan pinta mereka.

Perbaikilah hubungan kita dengan orang tua, cintai, dan sayangi keduanya. Sebelum mereka pergi meninggalkan kita di dunia untuk selamanya. Firman Allah Swt., “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Al-Isra: 23-24). [MNews]

Foto sampul: iStock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *