[Nafsiyah]  Obat Sedih

[Nafsiyah] Obat Sedih

Muslimah News, NAFSIYAH — Saudariku, saat Allah menguji kita dengan kehilangan orang-orang yang kita cintai, berbagai kesulitan hidup, ataupun kehilangan harta benda yang berharga, kemudian kita mengingat Hari Akhir sebagai tempat untuk berjumpa kembali, hati kita akan menjadi senang. Ini karena ada harapan untuk dikumpulkan lagi dan bertemu dengan mereka yang dicintai. Ada surga yang Allah berikan bagi mereka yang bersabar. Tetesan air mata dapat berubah menjadi harapan.

Ada beberapa hal yang dapat mengobati rasa sedih.

Pertama, mengimani akhirat. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa saja yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya, Allah akan letakkan kekayaan di hatinya, Allah mudahkan urusannya, dan dunia mendatanginya dalam keadaan hina. Sebaliknya, siapa saja yang dunia menjadi orientasi hidupnya, Allah akan meletakkan kefakiran di antara kedua matanya. Allah akan cerai beraikan urusannya dan ia tidaklah mendapatkan dunia kecuali sebesar yang Allah takdirkan untuknya.” (HR Tirmidzi)

Ibnul Qayyim ra. mengatakan, “Jika seseorang menjumpai waktu pagi dan petang dalam keadaan tidak ada yang dipikirkannya kecuali Allah semata, Allah menanggung dan memikul semua hajatnya, dan Allah bersihkan dirinya dari segala sesuatu yang menyusahkannya. Allah kosongkan hatinya sehingga hanya mencintai Allah. Allah kosongkan lisannya sehingga hanya untuk berzikir kepada Allah. Allah kosongkan badannya sehingga hanya untuk beribadah kepada Allah Taala.”

“Namun, jika seseorang berada pada waktu pagi dan petang dalam keadaan dunialah yang ia pikirkan, Allah bebankan kepadanya kegalauan, kecemasan, dan kesusahan dunia. Allah pasrahkan ia pada dirinya sendiri. Allah sibukkan hatinya dari mencintai Allah kepada mencintai makhluk. Allah sibukkan lidahnya dari mengingat Allah kepada mengingat makhluk. Allah sibukkan badannya dari ketaatan terhadap Allah kepada kekhidmatan dan kesibukan terhadap makhluk.” (Al-Fawaid, hlm.159)

Bagi setiap muslim yang fokus dengan bekal untuk kehidupan akhiratnya, ia akan merasa cukup dengan yang Allah berikan kepadanya. Tanpa merasa iri dengki kepada orang lain. Ia tidak akan sedih dengan sedikitnya harta yang dimiliki dibandingkan harta orang lain.

Ia juga tidak merasa cemas saat orang lain memberikan penilaian buruk terhadapnya karena penilaian manusia tersebut tidak akan memengaruhi penilaian Allah terhadapnya.

Kedua, mengingat kematian. Rasulullah saw. bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena kematian itu, jika diingat oleh orang yang sedang dalam kesusahan hidup, akan melapangkannya. Dan jika diingat oleh orang yang sedang lapang, akan menyempitkannya.” (HR Al-Bazzar)

Setiap muslim yang senantiasa mengingat kematian akan merasa lebih lapang hatinya ketika ujian menerpa. Ia menyadari bahwa kesedihan, kecemasan, dan kegalauan dunia tidak akan kekal abadi selama ia bertakwa kepada Allah Taala. Semua ujian dunia akan terputus saat kematian datang.

Kehidupan setelah kematianlah kehidupan yang sesungguhnya. Setiap muslim yang mengingat kematian tidak akan bergembira berlebihan saat diberi nikmat kesenangan oleh Allah Taala. Ini karena ia mengingat bahwa seluruh kesenangan akan terputus saat kematian tiba.

Bahkan, kesenangan akan berganti kesedihan yang berlipat saat ia gunakan untuk kemaksiatan. Orang yang senantiasa mengingat kematian akan merasa kanaah. Ia akan memanfaatkan waktunya sebaik mungkin untuk mengumpulkan bekal karena ia tidak mau mati-matian mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa mati.

Ketiga, berdoa kepada Allah Swt.. Hendaknya seorang muslim selalu berdoa kepada Allah Taala. Mengadu, merendah, dan minta agar dijauhkan dari kesedihan hidup. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw., Anas bin Malik ra berkata, “Dahulu aku melayani Nabi saw., jika beliau singgah di suatu tempat, aku sangat sering mendengar beliau berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari al-hamm (galau dengan sesuatu yang belum terjadi), al-hazn (sedih dengan sesuatu yang sudah terjadi), ketidakberdayaan, kemalasan, pelit, ketakutan, utang yang tidak bisa terbayarkan, dan ditindas oleh orang.’” (HR Bukhari)

Rasulullah saw. juga berdoa jika ada sesuatu yang menyusahkan beliau, “Wahai Zat Yang Maha Hidup, wahai Zat Yang Berdiri Sendiri, dengan kasih sayang-Mu aku meminta pertolongan.” (HR Tirmidzi)

Semoga kita bisa menyikapi rasa kesedihan dengan tepat. Mengobatinya sesuai tuntunan Islam. Tidak tenggelam dalam kesedihan hingga lupa untuk memperbanyak amal kebaikan. Sungguh rasa sedih datangnya dari Allah Taala, Allah pulalah yang kita minta untuk mengganti rasa itu dengan ketenangan. Mendekatlah kepada-Nya, niscaya hati akan menjadi tenang. Wallahul musta’an. [MNews/Rgl]

Sumber gambar: unsplash

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *