Muslimah News, NASIONAL — Kasus meninggalnya Anan (65), warga kampung Halimun, Kabupaten Cianjur, yang ditandu menyusuri jalan rusak bukan pertama kali terjadi. Tercatat dua hingga empat orang meninggal dunia setiap tahunnya karena faktor tersebut.
Pemerhati kebijakan publik Iin Eka Setiawati mengaku prihatin atas peristiwa ini. Ia mempersoalkan kelalaian negara dalam membangun infrastruktur jalan di banyak daerah sehingga meninggalnya seorang warga suatu desa akibat terhambat sampai di rumah sakit karena jalan yang rusak atau infrastruktur transportasi yang hancur di negeri ini, terus berulang.
“Sungguh kisah miris. Hal ini jelas menunjukkan lalainya negara dalam membiayai pembangunan infrastruktur transportasi. Infrastruktur jalan yang rusak tidak diperbaiki hingga bertahun-tahun. Akibatnya, menghambat aktivitas masyarakat, bahkan sampai merenggut nyawa warga,” ujarnya kepada MNews, Sabtu (13/8/2022).
Vital
Padahal, jelasnya, jalan umum adalah suatu yang vital yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk melancarkan keperluannya dalam rangka memenuhi hajat hidupnya.
Iin kemudian mencontohkan Khalifah Umar bin Khatthab, seorang pemimpin yang memperhatikan kenyamanan dan keamanan jalan umum bagi rakyatnya.
“Beliau pernah mengatakan bahwa seandainya seekor keledai terperosok karena jalanan yang rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah Swt. ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?’,” kutipnya.
Namun, kritiknya, sungguh ironis, di negeri yang kaya sumber daya alam, infrastruktur transportasinya pada sebagian wilayah amat buruk.
“Dengan sumber daya alam yang ada, sebenarnya negeri ini mampu membangun infrastruktur terbaik untuk rakyatnya. Infrastruktur yang dapat diakses oleh semua orang, tanpa harus berbayar,” ungkapnya.
Terkait anggarannya, ia menuturkan, negara harusnya menyiapkan anggaran mutlak. “Maksudnya, ada atau tidak ada kekayaan negara untuk pembangunan infrastruktur transportasi yang sangat dibutuhkan, tetap wajib diadakan negara,” tegasnya.
Biang Keladi
Iin pun mengungkapkan, biang keladi masalah ini adalah penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang mengkomersialkan infrastruktur.
“Dengan fakta banyaknya infrastruktur yang rusak bahkan hancur, patut dipertanyakan sudahkah anggaran yang dikeluarkan negara digunakan untuk membangun infrastruktur yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat ataukah sebagian anggarannya dikorupsi?” tanyanya retorik.
Selain itu, ia menilai, hal ini juga bukti karut marutnya tata kelola transportasi yang berkaitan dengan pengelolaan infrastruktur dalam sistem kapitalisme liberal. “Jadi, masihkah kita berharap pada sistem kapitalisme ini?” tanyanya lugas. [MNews/Ruh]
Foto sampul: Ayo Bandung
