[Fikrul Islam] Distorsi Pemikiran Menegakkan Khilafah (Bagian 1/2)

[Fikrul Islam] Distorsi Pemikiran Menegakkan Khilafah (Bagian 1/2)

Penulis: Ahmad Mahmud

Muslimah News, FIKRUL ISLAM – Sebagian umat Islam berpendapat bahwa upaya menegakkan Khilafah cukup ditujukan kepada para penguasa serta kroni mereka. Yang dimaksud dengan kroni penguasa adalah kelompok elite yang berada di lingkaran kekuasaan dan mengendalikan berbagai urusan pemerintahan dari negara. Menurut kalangan ini, jika dakwah kepada mereka berhasil, masyarakat secara praktis akan berubah dengan mudah ke arah kepentingan Islam.

Sebaliknya, jika dakwah kepada mereka gagal, tidak akan ada perubahan apa pun. Pemahaman semacam ini didasarkan pada sebuah asumsi bahwa usaha untuk mendirikan Khilafah dengan cara mendakwahi umat Islam kebanyakan pasti akan menjatuhkan mereka ke jurang penindasan para penguasa dan mengakibatkan mereka harus menanggung beban yang sangat berat, yang bisa membuat mereka frustasi. Dalam hal ini, menurut mereka, seorang muslim dilarang untuk menjerumuskan diri ke dalam realitas semacam ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. berikut,

لا ينبغي لمسلم أن يذل نفسه ، قيل وكيف يذل نفسه؟ قال يتعرض من البلاء لما لا يطيق

“Tidak selayaknya seorang muslim menghinakan dirinya sendiri.” Ditanyakan, “Bagaimana mungkin seorang muslim menghinakan dirinya sendiri?” Rasulullah saw. bersabda, “Yaitu menanggung bencana yang tidak sanggup ia pikul.” (HR Ahmad, At-Turmuzi, dan Ibnu Majah)

Siapa pun yang mengamati realitas tempat propaganda-propaganda semacam ini tumbuh akan melihat bahwa propaganda-propaganda tersebut muncul di tengah masyarakat yang dipenuhi oleh banyak kezaliman, kefasikan, kekerasan, alienasi, dan kesulitan hidup. Munculnya fenomena semacam ini diakibatkan oleh jauhnya keimanan kepada Allah berikut batas dan haknya dalam penetapan hukum. Pada masa lalu, para nabi, termasuk Rasulullah, pertama-tama menyeru umat manusia untuk beriman kepada Allah dan beribadah kepada-Nya.

Secara umum, masyarakat mana pun, baik dulu maupun sekarang, senantiasa dipimpin oleh para penguasa dan kroni mereka. Akidah/ideologi yang batil dan undang-undang yang dilahirkannya kemudian muncul untuk melayani berbagai kepentingan mereka. Mereka senantiasa menjaga akidah/ideologi mereka sebagaimana halnya mereka menjaga berbagai kepentingan dan posisi mereka.

Mereka tidak segan-segan mencurahkan segala kemampuan yang mereka miliki demi membela dan melindungi akidah/ideologi mereka. Inilah yang mendorong seorang Badui yang bijak ketika mendengar dakwah Rasulullah untuk mengucapkan suatu perkataan yang menunjukkan kedalaman pemahamannya, “Sesungguhnya perkara ini dibenci oleh para raja.”

Rakyat di dalam masyarakat seperti ini dipimpin oleh penguasa dan kroninya. Mereka acap kali terpengaruh jauh lebih banyak daripada pengaruh yang mereka sebarkan. Mereka sering terpaksa tunduk pada sistem yang menguasai mereka, meskipun mereka membencinya. Mereka pun kerap menyadari bahwa ketika mereka membiarkan kezaliman penguasa, mereka pada dasarnya harus ikut bertanggung jawab.

Para nabi dan rasul diutus oleh Allah kepada kaum mereka agar menyampaikan kebenaran dan menunjukkan kepada mereka jalan yang lurus. Ketika itu, yang memegang tanggung jawab penolakan dan memimpin perlawanan terhadap para nabi dan rasul adalah para penguasa despotik dan kroni mereka.

Kroni penguasa adalah para pejabat dan para konglomerat yang menjadi kaki tangan mereka. Mereka adalah para tokoh dan pemimpin masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang biasa memberikan berbagai usulan yang bersifat politik maupun pemikiran kepada penguasa. Penguasa sendiri banyak bergantung kepada mereka dan kerap meminta bantuan mereka.

Kroni penguasa, sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah, akan selalu menjadi pemimpin orang-orang yang menentang para nabi Allah. Jiwa-jiwa mereka telah dipenuhi oleh kecintaan pada harta, kedudukan, dan berbagai kepentingan mereka yang berkaitan dengan posisinya.

Oleh karena itu, ketika mereka disuruh ke jalan Allah, mereka beranggapan bahwa seruan tersebut berlawanan dengan berbagai kepentingan mereka, serta mengancam kedudukan mereka. Mereka lantas maju untuk menentang dakwah sembari melakukan provokasi untuk membangkitkan ketinggian dan kemarahan penguasa. Mereka selanjutnya membujuk penguasa untuk memerangi dakwah dan membumihanguskannya.

Jiwa mereka yang penuh kejahatan dan dosalah yang mendorong mereka untuk “menasihati” penguasa. Konfrontasi yang amat keras akhirnya terjadi antara para nabi dan para penguasa yang selalu dikelilingi oleh kroni mereka. Sejak itu, perang pemikiran dan pergulatan politik antara para nabi Allah dan para penguasa berikut kroni mereka praktis terjadi dengan mengorbankan rakyat.

Para nabi senantiasa menyerukan kebenaran dengan cara yang benar. Mereka pada mulanya sendirian, lemah, dan tidak memiliki kekuatan selain perkataan yang benar dan berpengaruh terhadap jiwa mereka. Pada mulanya, para penguasa dan kroni mereka pun menentang para nabi denganhujahyang batil. Mereka, misalnya, menyebutkan bahwa dakwah para nabi itu adalah sihir yang nyata atau dongeng masa lalu; bahwa para pengemban dakwah adalah orang-orang gila dan tukang bohong; bahwa orang yang meyakini kebenaran dakwah itu adalah orang-orang bodoh dan rendah.

Namun demikian, ketika semua lontaran mereka tidak menunjukkan hasil, mereka mulai meningkatkan gangguannya dengan melakukan berbagai macam siksaan, pengusiran, dan pembunuhan terhadap para pengemban dakwah. Konfrontasi para nabi dan para pengikut mereka dengan penguasa dan koloninya serta orang-orang yang masih menganut agama raja mereka akhirnya makin meluas. Fenomena semacam ini sebetulnya merupakan salah satu keniscayaan sebagaimana diceritakan Al-Qur’an secara ringkas, tetapi mencakup keseluruhan.

Inilah yang, antara lain, dialami oleh Nabi Nuh as. ketika mendakwahi kaumnya. Kalangan yang pertama kali menentang beliau adalah para elite penguasa kaumnya. Dalam hal ini Allah berfirman,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (59) قَالَ الْمَلأ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ (60) قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلالَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (61)

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya.’ Sesungguhnya (kalau kalian tidak menyembah Allah), aku takut kalian akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). Pemuka-pemuka kaumnya berkata, ‘Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.’ Nuh menjawab, ‘Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun, tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam.'” (QS Al-A’raf: 59-61)

Demikian juga dengan Nabi Hud as. ketika mengajak kaum ‘Ad. Kalangan yang pertama kali menentang dakwah beliau adalah kelompok elit di kalangan kaumnya. Allah berfirman,

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلا تَتَّقُونَ (65) قَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (66)

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Ad saudara mereka (Hud). Ia berkata ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain dari-Nya. Maka mengapa kalian tidak bertakwa kepada-Nya?’ Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, ‘Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.'” (QS al-A’raf: 65-66). [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 2/2

Sumber: Ahmad Mahmud, Dakwah Islam

Foto sampul: iStock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *