Kota Santri Melakukan Pemilihan “Gus dan Ning”, Ada Apa, ya?

Kota Santri Melakukan Pemilihan “Gus dan Ning”, Ada Apa, ya?

Penulis: As- Syifa Ummu Sidiq

Suasana di Kota Santri / Asyik senangkan hati //
Suasana di Kota Santri / Asyik senangkan hati //
Tiap pagi dan sore hari / Muda mudi berbusana rapi //
Menyandang kitab suci / Hilir mudik silih berganti / Pulang pergi mengaji ///

Muslimah News, OPINI — Bait lagu di atas menggambarkan suasana Kota Santri. Para muda mudinya giat menuntut ilmu demi meninggikan kalam Ilahi. Namun, pemandangan itu sepertinya kini telah luntur.

Kota Tembakau, sebuah kota di sebelah timur Provinsi Jawa Timur yang beberapa waktu silam mengadakan Jember Fashion Carnaval  (JFC) dan sempat viral, kini mengadakan Pemilihan Gus dan Ning 2022.

Jika Anda membayangkan “Gus dan Ning” ini sebagai wakil para santri yang terpilih sebagai duta santri Jember, Anda salah. Faktanya, pemilihan “Gus dan Ning” adalah seleksi calon duta pariwisata Kota Jember.

Meski acara ini juga dilakukan di tempat lain, acara di Jember tersebut menuai kritik. Pasalnya, para calon Ning terpilih malah memperlihatkan kemolekan tubuhnya dengan berlenggak-lenggok di panggung. Auratnya terbuka dan disaksikan khalayak umum (Liputan 6, 20/07/2022).

Demi Duniawi

Aktivitas peragaan busana yang masuk dalam seremoni ajang Gus dan Ning 2022 langsung menuai kritik. Bagaimana mungkin peragaan busana yang memperlihatkan aurat perempuan diselenggarakan oleh kota yang memiliki pesantren terbanyak di Jawa Timur? Di mana penghormatan mereka terhadap para guru dan santri yang selama ini dipandang islami?

Belum lagi pada 6—7 Agustus 2022 nanti, acara JFC 2022 kembali diselenggarakan. JFC akan menampilkan sekumpulan orang mengenakan baju-baju unik (dan berdandan tentunya) dengan maksud melestarikan budaya leluhur. Namun, ada aktivitas campur baur, membuka aurat, berlenggak-lenggok, dsb. Semua acara itu jelas tidak menggambarkan bahwa Jember adalah Kota Santri.

Agenda Gus dan Ning 2022 sebenarnya merupakan pemilihan duta pariwisata. Siapa pun yang terpilih akan mengemban tugas sebagai wakil anak muda untuk memajukan pariwisata Jember.

Jika kita mencermati lebih dalam, penggenjotan pariwisata, termasuk bidang lainnya, bertujuan untuk menaikkan pendapatan daerah agar mendapat pemasukan besar untuk membangun daerahnya.

Alasan ekonomi memang menjadi alasan mendasar setiap daerah untuk melakukan pemilihan duta wisata. Meski bertentangan dengan kalam Ilahi, seolah tidak masalah bagi mereka. .

Pergeseran Pemikiran

Adanya pergeseran budaya dan kebiasaan dalam sebuah wilayah karena ada perubahan pemahaman dalam diri mereka. Jika dahulu mereka erat dengan para santri yang terkenal berilmu, saat ini mereka lebih dekat dengan budaya Barat. Tidak hanya itu, pemilihan duta wisata maupun JFC juga sangat kental dengan budaya leluhur atau nenek moyang yang tidak semua sesuai syariat Islam.

Kita bisa dengan mudah menemukan banyak hal yang bertentangan dengan Islam. Misalnya, pakaian tradisional yang tidak menutup aurat, berbagai upacara yang berbau kemusyrikan, dsb.

Padahal, jika mau menelisik, hal ini merupakan salah satu upaya Barat untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya. Theodore Cuyler Young dalam bukunya, Near Eastern Culture and Society, menyatakan, “Di setiap negara yang kami masuki, kami gali tanahnya untuk membongkar peradaban-peradapan sebelum Islam. Tujuan kami bukanlah untuk mengembalikan umat Islam kepada akidah-akidah sebelum Islam, tetapi cukuplah bagi kami membuat mereka terombang-ambing antara memilih Islam atau peradaban-peradaban lama tersebut.”

Upaya Barat untuk membuat kaum muslim bimbang terhadap agamanya sendiri sepertinya berhasil. Sudah banyak aktivitas umat muslim yang sejalan dengan keinginan mereka. Tidak terkecuali ide moderasi beragama yang masuk dalam setiap lini kehidupan. Salah satu poin yang sering mereka sampaikan dalam ajaran ini adalah “melestarikan budaya yang hilang”.

Agenda moderasi beragama dengan teori Theodore ini sangat cocok. Buktinya, kota yang dahulu terkenal dengan santrinya, kini pemikirannya dan budayanya sudah tergerus dan terpengaruh dengan gempuran budaya Barat serta isu moderasi beragama.

Perlu Meluruskan

Meski demikian, bukan berarti melestarikan budaya itu haram mutlak dalam Islam. Hanya saja, setiap aktivitas dalam melestarikan budaya wajib tidak bertentangan dengan Islam. Jika sesuai Islam, masih boleh dilakukan. Namun, jika bertentangan, tidak boleh mengambilnya. Ini tersebab setiap aktivitas yang kita lakukan tanpa ada syariatnya akan sia-sia, bahkan bisa berdosa.

Sebagaimana hadis, “Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Mengarahkan Potensi Pemuda

Pemuda memiliki jiwa perubahan yang besar. Harusnya, kemampuan seperti ini tersalurkan pada hal yang tepat secara Islam, bukan hanya kanalisasi atau dimanfaatkan sebagai pengeruk pundi-pundi materi. Mereka mempunyai kemampuan lebih daripada itu.

Jika para pemuda dikenalkan tentang Islam sebagai mabda (ideologi), mereka akan menjadi generasi cerdas layaknya Ali bin Abi Thalib, sekuat Umar bin Khaththab, setangguh Muhammad al-Fatih, dan lain-lain. Kuncinya adalah mendekatkan mereka dengan Islam kafah, bukan sekadar Islam moderat, apalagi Islam liberal.

Khatimah

Seluruh pihak semestinya sadar dan aktif melakukan pencerahan atas setiap aktivitas yang menjauhkan umat—khususnya kaum muda—dari syariat. Terlebih yang berada di Kota Santri, mereka memiliki kekuatan untuk mengedukasi umat agar tidak terjerumus pada jalan yang sesat. Lebih dari itu, butuh upaya masif dan komprehensif demi melindungi kaum muda dari seluruh pengaruh berbahaya. Wallahualam. [MNews/Gz]

Share

One thought on “Kota Santri Melakukan Pemilihan “Gus dan Ning”, Ada Apa, ya?”

  1. Moderasi agama telh masuk di berbagai rana.. Bhkan pesantren yg dikenal masi kental dengn islam saja, berhasil berambar utk mwmpengaruhi. Islam solusi tuntas atas problematika umat saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *