Mendambakan Pemerintahan yang Tulus Mencintai Generasi Citayam

Mendambakan Pemerintahan yang Tulus Mencintai Generasi Citayam

Penulis: Endiyah Puji Tristanti

Muslimah News, FOKUS — Sudah sejak 2019 anak-anak muda beradu outfit membuat konten “catwalk” di Sudirman, Jakarta Pusat. Anehnya, baru-baru ini saja masyarakat hingga warganet riuh membicarakan fenomena Citayam Fashion Week (CFW). Pro dan kontra pun muncul. CFW banjir pujian, tetapi juga menuai banyak kritikan. Mengapa mendadak viral?

Sejumlah artis, model berkelas internasional, para pejabat, politisi, hingga jenderal Polri turut meramaikan. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bahkan mengajak jajaran Bank Investasi Eropa “catwalk” di lokasi.[1]

Media dari Jepang tidak luput menyorot fenomena CFW dalam twitnya. Media mode asal Negeri Sakura, Tokyo Fashion, membandingkan fenomena CFW dengan gelaran mode jalanan ‘Harajuku‘.[2]

“Demam” CFW pun langsung menular ke beberapa daerah yang membuat ajang serupa dengan gaya modis. Prediksi Oey Wendy selaku pendiri Redknot ternyata benar, fenomena CFW tidak hanya ada di Jakarta, melainkan dapat diikuti di banyak daerah. Di Surabaya, Malang, Bandung, Makassar, Madiun, Yogyakarta, Salatiga, dan berbagai kota lainnya muncul duplikasi CFW bak cendawan di musim hujan.

Memberi Ruang Liberalisasi Generasi

Menurut jurnalis asal Bandung, Irfan Popish, perilaku para remaja asal Citayam, Bojong Gede, hingga Parung Panjang di kawasan Sudirman ini adalah hal yang sama yang dilakukan banyak anak remaja lain dari berbagai zaman di berbagai belahan dunia sejak subkultur dikenal di kalangan remaja.[3]

Subkultur adalah sekelompok orang dengan seperangkat perilaku dan keyakinan yang membedakan mereka dalam budaya dominan yang mereka menjadi bagiannya.

Mengingat bahwa generasi muda masih asing dengan ideologi (Islam), ekspresi polos mereka sangat rentan dan mudah terbajak. Banyak pihak sangat menyesalkan CFW telah menjadi ajang eksistensi diri kaum “tulang lunak” dan gerakan “pelangi”.

Beginilah, tatkala ekspresi pemuda disterilkan dari ideologi Islam, ekspresi pemuda hanyalah wujud euforia kebebasan yang dipromosikan sistem sekuler. Ini karena perilaku budaya dan peradaban manusia dibangun dari perilaku sadar atau melek ideologi.

Nalar bahwa kreasi pemuda perlu didukung apabila “baik selama tidak menabrak aturan”, menjadi mentah ketika standar baik dan buruk diserahkan kepada masing-masing individu.

Peraturan mana yang bisa membatasi para remaja muslim beradu outfit dengan menampakkan aurat, berjoget, dan bercampur baur laki-laki dan perempuan? Yang ada hanyalah aturan lalu lintas untuk mengurai kemacetan. Mana bisa karakter generasi disolusi dengan peraturan lalu lintas. Miris!

Ketika remaja laki-laki yang berpakaian perempuan akan diangkut Dinas Sosial karena dianggap menyimpang, mengapa kreasi yang memamerkan aurat dan campur baur laki-laki dan perempuan hingga meninggalkan salat dianggap wajar dan tidak perlu dipersoalkan?

Ekspresi dan kreasi juga seolah mendapat ruang atas nama hak atas kota. Remaja berbondong-bondong berdatangan untuk mencoba “ruang baru” yang lebih nyaman bagi mereka. Berbagai nyinyiran terhadap perilaku remaja itu pun berdatangan. Banyak pula yang menuding salah orang tua yang tidak membekali agama pada anak-anak mereka.

Masalahnya, berapa banyak orang tua yang mampu mencegah anak remaja mereka berangkat ke sana? Pemerintah sendiri malah memberi stimulasi dengan tetap membuka ruang untuk mengekspresikan liberalisme itu sendiri.

Kalaupun Pemprov DKI berencana “membubarkan” CFW, misalnya, bagaimana kebijakan pemda lain atau pemerintah pusat tatkala CFW telah menjadi fenomena generasi?

Aroma Kapitalisasi Mode Jalanan

Selain masalah karakter liberal remaja dan problem “tulang lunak”, masih ada problem serius yang sama-sama memiliki bobot bahaya besar dalam CFW, yakni ancaman kapitalisasi aksi kreasi generasi.

PT Tiger Wong Entertainment, perusahaan Baim Wong dan istrinya, Paula Verhoeven, pada 20/07/2022 mendaftarkan merek Citayam Fashion Week sebagai hak kekayaan intelektual (HKI) atau HAKI ke Pangkalan Data Kekayaan Intelektual (PDKI) Kemenkumham sebagai sebuah hak merek.[4]

Ada juga seseorang atas nama Indigo Aditya Nugraha yang mendaftarkannya ke DJKI pada 21/07/2022.[5] Meski pada akhirnya, Indigo mengurungkan niatan mendaftarkan HAKI CFW pada 25/07/2022 seiring banyaknya sorotan terhadap Baim Wong yang turut mendaftarkan hak paten.

Perebutan HAKI CFW  memang menjadi sorotan banyak pihak. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil termasuk salah satu yang mengkritisi melalui akun Instagramnya (25/07/2022) bahwa tidak semua harus dilihat secara komersial. Sementara itu, komika Ernest Prakasa menganggap perebutan tersebut sebagai tindakan yang sudah sangat keterlaluan.

Adapun kritik ideologis muncul dari influencer dakwah, Doni Riw. Menurutnya, jika proses pengambilalihan hak merek CFW berjalan lancar-lancar saja, jelas ini bukan “stolen“, melainkan “bought“. CFW bukan “created by poor”, tetapi “designed by genius“; bukan “stolen by rich”, tetapi “bought by rich”.

Sengketa HAKI CFW hanyalah secuil bukti aroma bisnis dan kapitalisasi mode jalanan remaja tidak bisa terhindarkan. HAKI yang konon dibuat untuk melindungi kreator kelas menengah ke bawah agar pekerja kreatif bisa sejahtera melalui ide dan karya autentik mereka, hanya menjadi dalih ambisi mengeruk dan menumpuk harta kekayaan bagi perusahaan mode papan atas.

Kalaupun para inisiator pendaftaran HAKI tidak ingin disebut mengeksploitasi Bonge dkk., ketika CFW benar-benar telah menjadi “haute couture”, dompet siapa yang makin tebal? Sengketa hak paten antar-“Bonge” juga berpeluang besar terjadi di kemudian hari.

Makin jelas, fenomena ini bukan sekadar ledakan kreativitas anak muda atas protes mereka terhadap mode populer ibu kota yang terkesan glamor. Fenomena ini patut diduga sengaja didesain kaum kapitalis yang membidik bisnis mode jalanan agar tidak ada pangsa pasar (baca: menengah ke bawah) yang luput dari genggaman.

Menakar Tanggung Jawab Pemerintah

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan kemunculan fenomena CFW merupakan hal yang wajar terjadi pada anak muda. Menurutnya, tidak perlu menanggapinya terlalu serius dan bahwa anak muda perlu mendapat ruang gerak untuk berekspresi.[6]

Adapun Mendag Zulkifli Hasan menyoroti antusiasme masyarakat penikmat mode. Ia menilai kesadaran muda-mudi terhadap mode makin terlihat. CFW menjadi sinyal bahwa mode menjadi makin inklusif dan diminati berbagai kalangan.[7]

Senada, penasihat Fraksi PAN di DPRD DKI, Zita Anjani, memandang kemunculan CFW berdampak positif, terutama bagi pelaku UMKM hingga pedagang kaki lima di sekitar lokasi. Oleh karenanya, ia meminta pemerintah dapat memberdayakan fenomena tersebut untuk menggerakkan roda perekonomian.[8]

Demikianlah respons beberapa wakil pemerintah dan anggota dewan terhadap fenomena CFW dengan melihat dari aspek ekonomi saja. Mereka tampak gagal memahami akar masalah dan lalai menjalankan amanah untuk melindungi generasi dari serangan budaya permisif. Mereka sama saja dengan para pemodal yang menggebu-gebu mengeksploitasi generasi berdalih menghargai kreativitas.

Inilah kesalahan paradigma dalam mengeksplorasi nilai positif generasi, sebuah paradigma sekuler yang lahir dari kapitalisme. Generasi yang dicetak akan tumbuh dalam situasi krisis identitas yang tidak memahami kondisi negara mereka sedang tidak baik-baik saja. Generasi ini hanya sibuk meraih eksistensi diri dan bangga dalam keadaan tereksploitasi korporasi dan politisi.

Masa depan mereka akan suram tanpa bisa memberikan harapan baru yang lebih baik bagi bangsa dan umat apabila pemerintah tidak segera mengubah paradigma sekuler ini dengan paradigma yang sahih, yakni Islam.

Walhasil, sesungguhnya generasi muda membutuhkan para pemimpin dan masyarakat yang tulus dan benar-benar mencintai mereka, semata mengharapkan rida Allah Taala.

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS An-Nisa’: 9) [MNews/Gz]


[1] https://www.tribunnews.com/metropolitan/2022/07/20/fakta-fakta-citayam-fashion-week-anies-ridwan-kamil-catwalk-pesan-lucu-brigjen-krishna-murti

[2] https://katadata.co.id/intannirmala/indepth/62dcf94073efd/panggung-protes-sub-urban-lewat-lenggok-bocah-citayam-fashion-week

[3] https://pophariini.com/menerka-citayam-fashion-week-dari-subkultur-sampai-musik/

[4] https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20220725184657-92-825970/apa-itu-haki-yang-buat-baim-wong-diprotes-karena-citayam-fashion-week.

[5] https://radarpapua.jawapos.com/hiburan/25/07/2022/citayam-fashion-week-didaftarkan-ke-haki-ernest-prakasa-serakah-banget-jadi-manusia-gak-tau-malu/

[6] https://www.tribunnews.com/metropolitan/2022/07/19/fenomena-scbd-citayem-fashion-week-menko-pmk-biasalah-anak-muda-nanti-juga-bosan

[7] https://www.inews.id/finance/bisnis/mendag-zulhas-citayam-fashion-week-jadi-sinyal-fesyen-makin-inklusif.

[8] https://radarnonstop.co/read/37899/Soal-Citayam-Fashion-Week-Wagub-DKI-Berani-Gak-Lawan-Putrinya-Mendag-Zulhas

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *