[Nafsiyah] Menyikapi Pelaku Kezaliman

[Nafsiyah] Menyikapi Pelaku Kezaliman

Muslimah News, NAFSIYAH — Saat ini, tidak henti-hentinya kita menyaksikan ataupun menemukan berbagai bentuk kezaliman di sekitar kita. Ketiadaan penerapan aturan Islam telah menyebabkan seseorang mudah berlaku zalim pada sesamanya. Hal itu pula yang para penguasa muslim lakukan saat ini ketika mereka memimpin rakyatnya.

Bisa kita lihat dari berbagai kebijakan serta produk hukum yang mereka putuskan, sebagian besar tidak sesuai dengan harapan dan kebutuhan masyarakat. Segala kebijakan justru sering menimbulkan masalah baru yang makin menyulitkan masyarakat.

Dalam buku Fikih Sosial karya Abdul Aziz al Fauzan, ada tiga jenis kezaliman. Pertama, kezaliman yang tidak akan terampuni dosanya sama sekali, yakni menyekutukan Allah (syirik).

Allah Swt. berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS Luqman: 13)

Kedua, kezaliman seorang manusia kepadanya sendiri, yakni dengan berbuat maksiat kepada Allah. Hal itu merupakan kezaliman karena hak Allah Swt. atas hamba-Nya adalah mereka wajib menyembah Allah, mengesakan, dan menaati-Nya, juga tidak bermaksiat kepada-Nya, lalu bersyukur, dan tidak kufur. Jika mereka melanggar perintah Allah, mereka termasuk orang-orang zalim. Namun, selama mereka bertobat, Allah akan mengampuni mereka.

Allah Swt. berfirman, “Talak yang dapat dirujuk itu dua kali. Setelah itu suami dapat menahan dengan baik atau melepaskan dengan baik. Tidak halah bagimu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zalim.” (QS Al-Baqarah: 229)

Ketiga, kezaliman seorang manusia kepada sesama manusia. Kezaliman yang tidak akan Allah biarkan adalah ketika manusia menzalimi makhluk. Itu utang yang harus manusia bayar sebelum meninggal dunia. Menzalimi makhluk merupakan perkara yang Allah benci dan ada sanksi berat atasnya. Nabi saw. pernah berkata, “Takutlah kamu kepada kezaliman karena kezaliman ialah kegelapan kelak pada hari kiamat.”

Kezaliman yang ketiga inilah yang paling banyak terjadi, serta paling banyak dosa dan memiliki akibat paling buruk. Seseorang tidak bisa lari darinya dan tidak bisa terhindar dari bahaya dan dosanya dengan sekadar berhenti dan menyesali kezaliman yang ia lakukan. Ia harus meminta keikhlasan orang yang ia zalimi dan wajib segera mengembalikan haknya.

Menyikapi Pelaku Kezaliman

Ada dua hal yang bisa kita lakukan untuk menyikapi orang zalim. Pertama, jika kita terzalimi, balaslah dengan kezaliman yang sama, tetapi tidak boleh lebih atau melampaui batas. Firman Allah Swt, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Akan tetapi, barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), pahalanya dari Allah. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS Asy-Syura: 40)

Namun, apakah boleh membalas pelaku zalim dengan mendoakannya? Jawabannya, boleh. Sa’ad bin Abi Waqqash pernah berdoa pada Allah ketika ia terzalimi. Dalam doanya, ia memohon pada Allah agar orang yang menzaliminya mendapat umur panjang, miskin selamanya, dan tertimpa fitnah sebelum ia mati. Allah pun mengabulkan doanya.

Lalu, bagaimana jika yang terzalimi adalah seorang ulama fakih dan warak? Jika ia seorang ulama yang terzalimi, lalu berdoa pada Allah untuk membalas pelakunya, ini sungguh perkara besar yang akan Allah timpakan pada yang menzaliminya.

Ada kisah Said bin Zubair, ulama tegas yang melawan Hajaz bin Yusuf. Sebelum ia wafat (Hajaz memenggal kepalanya), ia berdoa kepada Allah, “Semoga saya adalah orang terakhir yang kepalanya dipenggal oleh Hajaz bin Yusuf.” Allah pun mengabulkan doanya. Setelah membunuh Said bin Zubair, Hajaz sering berteriak ketakutan selama hidupnya.

Oleh sebab itu, khawatirlah jika seseorang yang terzalimi menitipkan doa pada Allah untuk membalas kezaliman tersebut. Janganlah mudah menghujat dan menodai kehormatan orang yang beriman, sungguh balasan Allah adalah suatu yang pasti.

Kedua, memaafkan orang yang menzalimi. Ada tiga amal saat Mizan Allah tidak mampu menampung amal tersebut karena berat dan besar pahalanya, yakni pahala puasa, sabar, dan memaafkan orang yang menzalimi kita. Tidaklah merugi ketika seorang muslim memaafkan orang yang menzaliminya karena termasuk amalan yang paling berat dan besar pahalanya di hadapan Allah Swt..

Demikianlah, semoga kita mampu mengendalikan lisan dan perbuatan agar tidak menzalimi orang lain. Sementara itu, bagi para penguasa di setiap negeri muslim yang hingga saat ini masih terus melakukan kezalimannya pada ulama, semoga segera bertobat dan menghentikannya. Hal ini karena kezalimannya merupakan utang yang harus ia bayar sebelum mati kelak. Doa-doa orang yang terzalimi mustajab, apalagi ulama yang terzalimi. Wallahualam. [MNews/Rndy]

Sumber gambar: unsplash

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *