[Nafsiyah] Tetap Ikhlas Meski Dikecewakan

[Nafsiyah] Tetap Ikhlas Meski Dikecewakan

Muslimah News, NAFSIYAH — Pernahkah kita menemukan orang yang mengecewakan kita hadir dalam teras kehidupan kita? Saat kita memberi bunga, ia balas dengan duri. Ketika kita memberi air, ia beri kita api. Hal ini adalah sunatullah dalam kehidupan. Rasulullah saw. dan para sahabat pun pernah merasakannya.

Terkadang, saat kita memberi satu manfaat, kita menginginkan rasa takzim (hormat)orang tersebut kepada kita. Padahal, dari sisi keilmuan, kita tidak boleh menuntut balasan dari mereka yang telah mendapat kebaikan dari kita.

Allah Swt. mengingatkan kita lewat firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan ia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS Al-Baqarah: 264)

Sesungguhnya, kita pasti akan diuji atas kebaikan yang kita lakukan, apakah kita kecewa atau tidak atas kebaikan yang tidak berbalas. Ingat, orang yang beriman ialah orang yang amnesia (lupa ingatan) terhadap kebaikan yang dilakukannya sendiri.

Semestinya kita menyadari bahwa, orang yang menerima kebaikan kita tetaplah manusia biasa. Ia punya nafsu, keimanannya bisa menurun, dan bisa jadi ia memiliki masalah yang lebih besar dari kita. Oleh karena itu, kita tidak perlu mengharap lebih atas setiap kebaikan yang telah dilakukan.

Ali ra. pernah mengatakan, “Berharap kepada manusia hanyalah menumbuhkan lapisan kekecewaan pada hidup kita.”

Walhasil, kalaupun kita sudah berbuat baik, membayar utang orang lain, dan pernah membela kehormatan orang lain, lupakan itu. Serahkan pada Allah dan biarlah Allah yang benar-benar menilai dan membalasnya. Dengan begini, apa pun hasilnya, berbalas ataupun tidak berbalas dari manusia, tidak menjadi masalah untuk kita.

Jangan sampai tebersit dalam hati kita pikiran, “Orang itu kalau tidak saya tolong pasti tidak seperti sekarang ini.” Jangan sampai pula kita ingat dan ungkit terus manfaat dan kebaikan yang telah kita berikan. Sesungguhnya, balasan itu bukan dari makhluk, balasan itu semata-mata dari Allah yang memberi kelapangan dan kebahagiaan.

Jika telah membantu banyak orang, lupakanlah kebaikan itu. Minta pada Allah dengan mengucapkan, “Ringankan beban hatiku Ya Allah dengan melupakan kebaikan yang pernah aku berikan pada orang lain. Biarlah aku ingat nanti di akhirat ketika semuanya mendapatkan balasan detail di sisi-Mu.” Mengingat di akhirat akan menjadi keberkahan dari setiap urusan kita.

Islam menuntun kita untuk tetap menjaga keikhlasan dengan, pertama, banyak berdoa. Rasulullah saw. mengajarkan kepada umatnya melalui doa, “Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan aku pun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (HR Ahmad)

Kedua, menyembunyikan amal kebaikan. Ketiga, tidak membangga-banggakan amal kebaikan yang dilakukan, karena semua amal kebaikan dilakukan atas taufik dari-Nya. Keempat, pupuk rasa takut tidak diterimanya amal.

Allah Swt. berfirman, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS Al-Mu’minun: 60)

Seorang ulama ahli hikmah mengatakan, “Perbaikilah amal perbuatanmu dengan ikhlas dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan bahwa tidak ada kekuatan sendiri, bahwa semua kejadian itu hanya semata-mata karena bantuan pertolongan Allah.”

Imam Hasan Al Bashri juga pernah berkata, “Memperbanyak ketaatan merupakan salah satu cara menghasilkan keikhlasan. Setan akan selalu berusaha agar seorang hamba meninggalkan ketaatan dan berusaha merusak amalan yang dilakukan. Jika kemudian setan melihat seorang hamba senantiasa berada dalam ketaatan dan tidak menghiraukan ajakan setan, bahkan sebaliknya, hamba tersebut malah bertambah ketaatan dan keikhlasannya, setan pun akan putus asa dan berhenti menggoda. Namun, jika seorang hamba terkadang taat, terkadang juga berbuat maksiat dengan menyambut ajaran setan, setan akan semakin bersemangat menggoda hamba tersebut.”

Imam al-Ghazali menuturkan, “Setiap manusia binasa kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu akan binasa kecuali orang yang beramal (dengan ilmunya). Orang yang beramal juga binasa kecuali orang yang ikhlas (dalam amalnya). Namun, orang yang ikhlas juga tetap harus waspada dan berhati-hati dalam beramal.”

Dalam hal ini, hanya mereka yang ikhlas beramal akan mendapatkan keutamaan dan keberkahan yang sangat besar, seperti yang dijamin Allah dalam firman-Nya, “Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (bekerja dengan ikhlas). Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.” (QS Ash-Shaaffat 40-43)

Masyaallah. Wallahualam. [MNews/Rndy]

Sumber gambar: unsplash

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *