Penulis: Asy-Syifa Ummu Sidiq
Muslimah News, OPINI — Dunia Barat sedang dilanda bencana. Kebebasan membuat mereka tidak dapat menentukan benar dan salah, bahkan dalam hal menentukan jenis kelamin anak dan memberikan pendidikan bagi mereka. Jajaran artis Hollywood, misalnya, mendidik anak memakai prinsip gender netral. Metode apakah ini?
Gender Netral
Mengutip kamus Wikipedia, “gender netral”, atau disebut netralisme gender atau gerakan netralitas gender, adalah gagasan bahwa kebijakan, bahasa, dan lembaga sosial lainnya harus menghindari pembedaan peran jenis kelamin atau gender seseorang dalam rangka menghindari diskriminasi yang timbul dari perbedaan peran masing-masing gender.
Istilah ini marak dipakai kalangan artis Hollywood. Beberapa di antaranya adalah Jennifer Lopez, Charlize Theron, Angelina Jolie, Brad Pitt, Adele, Bryce Dallas Howard, dll. Mereka mendidik anak dengan memberikan kebebasan penuh pada buah hatinya. Beberapa kebebasan yang diberikan adalah memilih baju, tidak penting apakah baju yang dipakai itu untuk laki-laki atau perempuan. Jika mereka suka, boleh memakainya.
Salah satu contohnya adalah anak solois Inggris yang membiarkan anak laki-lakinya, Angelo, pergi ke Disneyland menggunakan kostum Princess Anna. Ia mengatakan bahwa apa pun yang dilakukan anaknya akan selalu mendapat dukungan penuh. Artis lain juga membiarkan anak perempuannya berpakaian laki-laki dan berkepala plontos. (Kompas, 20/06/2022).
Berbahaya
Fenomena yang terjadi di kalangan artis Barat ini bukanlah hal remeh. Mereka adalah trendsetter masyarakat yang segala perilakunya akan menjadi contoh dan ditiru oleh penggemarnya. Walhasil, ide gender netral ini bisa saja menjamur di kalangan masyarakat.
Tidak hanya di dunia Barat, penggemar para artis itu ada di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Jika ide gender netral dibiarkan begitu saja, tidak menutup kemungkinan ide ini akan diambil oleh masyarakat kita yang mayoritas muslim.
Konsep kebebasan memilih gender tanpa ada peran orang tua yang mengarahkan jelas sangat berbahaya. Saat ini, dunia Barat khususnya dan dunia pada umumnya terancam dengan ide L687. Bayangkan, apabila anak-anak tanpa kontrol orang tua yang menunjukkan mana yang benar dan salah dan mereka dibiarkan sendiri mengenal lingkungan, anak-anak akan mengambil sendiri yang dianggapnya benar. Saat mereka bertemu dengan aktivis L687 kemudian mengadopsinya, bisa tanpa disadari mereka turut memperjuangkannya.
Atas nama HAM demi meniadakan diskriminasi gender, mereka terpengaruh penyimpangan tersebut. Perempuan jadi laki-laki, pun sebaliknya. Bahkan, ada yang operasi mengubah jenis kelaminnya. Lebih parah lagi, mereka melakukan hubungan terlarang sesama jenis. Bagi negara mayoritas muslim, hal itu jelas tidak sesuai dengan keyakinan.
Pentingnya Peran Orang Tua
Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ (٦)
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS At-Tahrim: 6)
Ayat di atas menjadi dasar bagi orang tua untuk mendidik anaknya, berkewajiban menunjukkan jalan yang benar bagi mereka. Orang tua juga harus memberikan bekal pendidikan yang benar agar anak-anaknya nanti tidak salah jalan.
Rasulullah saw. bersabda,
ما نحل والد ولده أفضل من أدب حسن
“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR Al-Hakim)
Hadis di atas juga memperlihatkan pentingnya peran orang tua dalam tumbuh kembang anak. Apa yang dilakukan jajaran artis Hollywood tadi seharusnya tidak dicontoh oleh orang tua dari kalangan muslim. Ide yang mereka sebut “gender netral” itu tidaklah mencerminkan peran utama orang tua yang bertanggung jawab mendidik anaknya.
Dari sini, kita memahami bahwa orang tua berperan memberikan maklumat tsabiqah (informasi pendahulu) yang sahih terkait jenis kelamin mereka, juga memperlakukan anak-anaknya sesuai peran mereka sebagai laki-laki atau perempuan. Dengan begitu, anak-anak akan mengerti hak dan kewajibannya. Apabila ada ide lain yang menyerang, seperti L687, mereka bisa bertahan dan tidak terpengaruh.
Butuh Peran Negara
Meskipun orang tua bertanggung jawab besar, mereka tetap tidak bisa berjalan sendiri. Mereka membutuhkan bantuan dari negara dan masyarakat. Masyarakat berperan sebagai kontrol sosial, yaitu mengontrol setiap pemahaman yang sesuai Islam atau tidak. Selain itu juga menyuasanakan dunia pergaulan di masyarakat dengan suasana islami, bukan suasana ala Barat.
Negara pun berperan besar. Negara bertanggung jawab menyaring setiap ide, pemahaman, pikiran, ataupun budaya yang masuk. Apabila bertentangan dengan Islam, negara bisa langsung menolaknya.
Negara juga bertanggung jawab menjaga kelangsungan hidup masyarakat; menjaga manusia agar tetap pada fitrahnya sebagai laki-laki atau perempuan; serta memastikan mereka beraktivitas sesuai perannya. Tidak lupa juga membuat sistem pendidikan Islam yang bertujuan membentuk pribadi islami.
Semua ini membutuhkan peran negara karena hanya negara yang berhak membuat semua kebijakan. Negara berkewajiban melindungi rakyatnya dari hal-hal yang abnormal, seperti ide gender netral.
Akan tetapi, jika kita berharap pada sistem saat ini, rasanya mustahil. Aturan saat ini tidak ada yang dapat membendung ide L687. Jika ingin terlindung dari ide-ide rusak semacam ini, kita hanya bisa berharap pada negara yang menggunakan sistem Islam, yaitu sistem warisan Rasulullah saw. Wallahualam. [MNews/Gz]
