[Nafsiyah] Kala Mental Illness Menjangkiti Muslim, Apa yang Harus Dilakukan?

[Nafsiyah] Kala Mental Illness Menjangkiti Muslim, Apa yang Harus Dilakukan?

Muslimah News, NAFSIYAH — Luar biasa sistem kehidupan sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) memengaruhi kondisi manusia saat ini. Bukan hanya menggerus keimanan muslim, tetapi juga menjauhkan muslim dari aturan Islam dan mendekatkan dengan permasalahan yang berkepanjangan. Salah satunya masalah yang kerap terjadi pada masyarakat ialah gangguan kejiwaan atau disebut juga dengan mental illness.

Mental illness terjadi ketika berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan menjadi beban pikiran seseorang. Beban tersebut tidak bisa diurai kemudian bertumpuk dan menjadi masalah bagi jiwa dan mental. Menurut ahli medis, ada lebih dari 200 jenis mental illness yang bisa dialami seseorang.

Menurut Saad Riyadh, di dalam hadis-hadisnya, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa kesehatan dan kestabilan jiwa (mental) seseorang memiliki beberapa indikasi, antara lain adalah adanya rasa aman. (Buku Jiwa dalam Bimbingan Rasulullah saw.)

Sebagaimana sabda Rasul saw., “Siapa saja yang menyongsong pagi hari dengan perasaan aman terhadap lingkungan sekitar, kondisi tubuh yang sehat, serta adanya persediaan makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dia telah memperoleh seluruh kenikmatan dunia.” (HR Tirmidzi)

Sesungguhnya, sebagian besar kaum muslim saat ini tidak merasa aman; faktor kemiskinan, tubuh yang sakit, kelaparan, ketidakharmonisan dalam rumah tangga, trauma pengasuhan masa kecil, kehilangan orang yang dicintai dan banyak lagi lainnya.

Tidak jarang kita temui pemberitaan di berbagai media, seorang ibu yang membunuh anak-anaknya karena takut tidak mampu membesarkan atau seorang ayah membunuh dirinya bersama istri dan anak-anaknya karena depresi yang cukup berat akibat lilitan utang. 

Inilah mengapa agama tidak boleh dipisahkan dari kehidupan manusia. Agama adalah fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Swt.. Firman Allah Taala, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.” (QS Al-Ra’ad: 28)

Pemahaman agama dapat membantu manusia untuk mengobati jiwa dan mencegah dari ganguan kejiwaan. Rasul saw. juga mengingatkan kita, “Tidak ada salahnya seseorang memiliki kekayaan asalkan dia tetap bertakwa. Akan tetapi, bagi orang yang bertakwa, kesehatan lebih baik daripada kekayaan. Selain itu, hati yang bahagia (thibin nafs) adalah bagian dari (kenikmatan) surga.” (HR Ibnu Majah)

Saudariku, Islam menuntun kita untuk memahami firman Allah Swt., “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS At Taghaabun: 11)

Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat di atas, bahwa ketika seseorang ditimpa musibah dan ia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, lalu ia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah) disertai (perasaan) berserah diri kepada ketentuan tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allah akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/137)

Ibnul Qayyim pun mengatakan, “Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allah senantiasa disertai dengan sikap rida dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya), maka Allah akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.

Saudariku, semua musibah dan cobaan yang menimpa manusia pada hakikatnya ialah untuk kebaikan bagi kita demi menyempurnakan keimanan dan mendekatkan diri kita pada Allah Swt., maka gantungkanlah diri kita hanya kepada Allah Swt setiap menghadapi permasalahan hidup.

Dengan sikap seperti ini, maka Allah akan melipatgandakan balasan kebaikan baginya karena Allah memperlakukan seorang hamba sesuai dengan prasangka hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam hadis qudsi, “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan prasangka hamba-Nya dan sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut. Hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik prasangka dan harapannya kepada Allah Taala. (Kitab Faidhul Qadiir, 2/312 dan Tuhfatul Ahwadzi, 7/53).

Saudariku, mental illness (gangguan kejiwaan) tentu ada obatnya. Selain pengobatan secara medis, penderita mental illness juga harus tersentuh dengan pemahaman agama. Jangan jauhi mereka, rangkullah mereka untuk mendekat kepada Rabb yang mampu menolongnya dari segala macam kesulitan, ujian, musibah dan masalah kehidupan.

Ssesungguhnya, setiap muslim yang memiliki berbagai masalah dan beban kehidupan hendaknya mendekati pemilik kehidupan ini, mendekati pemberi ujian dan cobaan yakni Allah Swt. Bangun hubungan baik dengan-Nya. Sungguh hidup bersama Allah dalam aturan-Nya akan bahagia, tenang, dan merasa aman. Allahul mus’taan.[MNews/Rndy]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *