Muslimah News, LEBARAN SEDUNIA — Menjelang Idulfitri, warga Irak biasanya berbondong-bondong mendatangi toko-toko dan pasar-pasar untuk berbelanja makanan, camilan manis, dan baju baru. Selain camilan yang rasanya manis, yang banyak diburu konsumen adalah aneka jenis kacang, manisan gulung, permen, dan kacang isi.
Di Irak, perayaan Idulfitri berlangsung selama tiga hari, yang biasanya diisi dengan bersilaturahmi, saling mengunjungi keluarga, dan bertukar hadiah. Para perempuan menyiapkan makanan untuk tiga hari perayaan Idulfitri.
Mereka biasanya memasak menu confetti bites, klighah, dan berbagai jenis pencuci mulut. Pada malam pertama Idulfitri, wanita berkumpul menyiapkan makanan berupa kue kering diisi dengan kurma. Ada kue tradisional khas Idulfitri di Irak yang dikenal sebagai kleicha. Yaitu kue populer yang terbuat dari tepung dan mentega, dikreasikan dalam berbagai bentuk dengan beragam isian.
Pada 1 Syawal pagi, para pria salat di masjid mengenakan pakaian baru mereka dan saling mendoakan. Anak-anak menerima Eidia berupa uang tunai. Sebagian orang mengunjungi makam usai salat Idulfitri. Mereka membawa cabang zaitun dan bunga. Siang harinya, keluarga berkumpul untuk makan siang.
Anak-anak bermain permainan sembari menyanyikan lagu untuk Idulfitri. Kota Baghdad yang merupakan ibu kota Irak saat ini, dulunya adalah ibu kota Khilafah Abbasiyah. Berbagai aktivitas yang berjalan di Irak untuk menyambut Idulfitri merupakan tradisi yang dilestarikan dari masa Abbasiyah. Aktivitas tersebut adalah pengumpulan zakat fitrah, salat id, takbir, serta silaturahmi dan saling berbagi makanan pada Hari Raya Idulfitri.
Perayaan Idulfitri di masa Abbasiyah juga berlangsung selama tiga hari. Para Sultan Abbasiyah menggelar jamuan makan selama tiga hari, aneka ragam makanan halal disajikan. Jalan-jalan di Baghdad diramaikan dengan musik dan pembacaan syair yang semuanya tidak bertentangan dengan syariat. [MNews/Rgl]
Sumber foto: Detik
