Muslimah News, NAFSIYAH — Tidak mudah bagi manusia agar amalnya diterima oleh Allah Swt.. Sekelas para Nabi saja, mereka berdoa agar Allah menerima amalnya karena Dia hanya menerima amal dari hamba-Nya yang bertakwa.
Sebelum Ramadan, para sahabat Nabi berdoa selama enam bulan agar sampai pada bulan Ramadan dan ketika Ramadan usai, mereka khawatir amalnya tidak diterima. Berbeda dengan kita yang begitu gembira menyambut kemenangan Idulfitri, padahal belum tentu kita dapatkan kemenangan dan belum tentu Allah terima amalnya selama Ramadan.
Oleh karena itu, kita harus mengisi Ramadan dengan ketaatan total. Jangan isi Ramadan dengan dosa yang mengakibatkan rusaknya amal ibadah secara umum dan amal ibadah kita saat Ramadan. Isilah Ramadan, tidak hanya dengan tilawah, tarawih, iktikaf, serta membayar zakat fitrah, tetapi juga komitmen kita untuk meninggalkan dosa.
Lebih dari itu, pembatal amal saat Ramadan bukan sekadar makan, minum, bicara kasar, dan berdusta. Lalu, apa saja pembatal amal lainnya?
Pertama, syirik.
Syirik merupakan salah satu perusak amal kita tanpa tersisa. Firman Allah Ta’ala, “Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Sungguh jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” (QS Az-Zumar: 65)
Rasul saw. juga bersabda, “Syirik adalah engkau mendatangkan tandingan bagi Allah, padahal Allah yang menciptakan kamu.”
Kesyirikan berupa meyakini dukun, meyakini mitos-mitos di tengah masyarakat, dan mempercayai ramalan, akan merusak amal puasa. Sayangnya, aktivitas syirik tidak mendapat penolakan total dari masyarakat, malah tumbuh subur di dalam sistem sekuler ini. Lihat saja, pawang hujan dianggap berkontribusi untuk bangsa, padahal sangat jelas aktivitas ini adalah bentuk kesyirikan.
Kedua, orang yang menjalani Ramadan tetapi membawa penyakit kemunafikan.
Secara bahasa, munafik ialah orang yang masuk dan keluarnya berbeda. Secara istilah, munafik ialah orang yang zahirnya memperlihatkan kebaikan Islam tetapi menyembunyikan kebenciannya terhadap Islam. Amalan orang munafik juga habis tidak tersisa di sisi Allah meski seujung kuku. Dan tempat kembalinya orang-orang munafik adalah tempat yang paling buruk, keraknya neraka.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allahlah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia.” (QS An-Nisa: 142)
Orang munafik memiliki lima sifat,
Pertama, Membenci Rasulullah.
Kedua, membenci syariat yang disampaikan Rasul. Orang munafik menempatkan syariat sebagai prasmanan di warung makan. Jika tidak suka dengan salah satu hukum Allah, mereka menyingkirkan hukum tersebut dengan alasan tidak relevan atau tidak layak diterapkan.
Mereka berpuasa tapi tidak ada faedahnya di sisi Allah. “Yang demikian itu karena mereka membenci apa (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka.” (QS Muhammad: 9)
Ketiga, mendustakan Rasul dengan mengatakan Rasul bisa salah, “Muhammad itu hanyalah tokoh sejarah tak lebih seperti Mahamat Gandhi dan Bunda Theresia tak lebih.”
Keempat, ketika kemunafikan mendustakan sebagian yang disampaikan Rasul.
Kelima, orang munafik senang jika orang kafir menang, sebaliknya sedih jika kaum muslim yang menang.
Oleh karena itu, jika selama Ramadan kita dapati kaum muslim masih membawa lima sifat di atas, amal ibadahnya akan rusak.
Ketiga, meninggalkan salat.
Rasul bersabda, “Barang siapa meninggalkan salat Ashar, maka terhapuslah amalannya.” (HR Bukhari)
Artinya, jika seseorang berpuasa tetapi tidak menunaikan salat fardu maka terhapuslah seluruh amalnya pada hari itu. Jika ia meninggalkan salat selama 30 tahun, selama itu pulalah amalnya tidak pernah dicatat oleh malaikat.
Keempat, menggugat takdir Allah Swt.
Dari Abu Umamah, dia berkata Rasul bersabda, “Ada tiga orang yang Allah tidak menerima dari mereka amal fardu dan amal sunah mereka, pendurhaka kepada kedua orang tuanya, pengungkit-ungkit pemberian, dan orang yang mendustakan takdir.” (HR Ibnu Abi Ashim)
Menggugat atau mendustakan takdir Allah menyebabkan amalan yang wajib dan sunah tidak diterima. Wajib bagi kita untuk berhati-hati dalam perkara ini saat Ramadan karena salah satu amalan wajib saat Ramadan ialah berpuasa.
Allah tidak mungkin menzalimi manusia, makluk ciptaan-Nya. Sesungguhnya apa pun yang diputuskan Allah pada hamba-Nya adalah kebaikan.
Kelima, orang yang durhaka pada suaminya.
Dari Ibnu Abbas ra., Rasul bersabda, “Ada tiga manusia yang salat mereka tidaklah naik melebihi kepala mereka sejengkal, yaitu seorang yang mengimami sebuah kaum naum kaum itu membencinya, seorang istri yang tidur sementara suaminya sedang marah kepadanya dan dua orang saudara yang saling memutuskan tali silaturahmi.” (HR Ibnu Majah)
Jika kemarahan itu sesuatu perkara yang syar’i. Oleh karena itu perbuatan seperti ini harus dihindari. Jika salat saja susah diterima Allah apalagi amalan puasa kita. Mencari rida suami menjadi kewajiban bagi istri.
Semoga kita bisa menghindari segala perbuatan dan sifat yang dapat merusak amalan kita pada bulan Ramadan. [MNews/Rndy]

