#RamadhanMubarak
#RamadanBulanPerjuangan
Penulis: Khalifah Muhammad
Muslimah News, NAFSIYAH — Kaum muslim telah melewati beberapa dekade ketidakberdayaan sejak kaum muslim kehilangan Khilafah. Negeri-negeri mereka tercabik-cabik. Kafir penjajah menguasai kehidupan dan juga pola pikirnya, serta mengalihkan mereka dari masalah utamanya, yaitu rida Allah tidak lagi dijadikan tolok ukur, umat muslim terpecah-belah, dan sistem Islam tidak diterapkan. Dunia menjadi misi terbesarnya dan target perjuangannya.
Lihatlah kondisi kaum muslim saat Ramadan. Mereka mengetahui keistimewaan dan kebesaran Ramadan di sisi Allah Swt., tetapi mereka menjadikan bulan yang agung ini menjadi bulan untuk tidur, serta bulan untuk makan dan minum.
Lihatlah kondisi kaum muslim ketika hidup di bawah pemerintahan Islam. Mereka hidup dengan aman dan tenteram. Mereka menjalani kehidupan dunia demi meraih kehidupan akhirat. Ramadan menjadi bulan yang senantiasa mereka tunggu hari demi hari untuk memanen pahala besar. Mereka tidak hanya puasa, tetapi melakukan ibadah-ibadah lainnya.
Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari Kiamat. Puasa berkata: ‘Ya Tuhanku, aku telah menghalanginya dari makan dan minum pada siang hari maka jadikanlah aku sebagai pemberi syafaat baginya.’ Al-Qur’an berkata: ‘Aku telah menghalanginya tidur di malam hari, maka jadikanlah aku sebagai pemberi syafaat baginya.’ Akhirnya keduanya dapat menjadi pemberi syafaat.” (HR Ahmad)
Di antara para sahabat, ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam semalam, ada yang separuh, dan ada yang sepertiga. Sehingga, hampir tak ada satu pun dari mereka meninggalkan waktu demi makanan.
Adapun di siang harinya, mereka gunakan untuk berjuang di jalan Allah dan mengemban dakwah Islam. Kala itu, selama beberapa abad saat Ramadan, hampir tidak pernah kosong dari pengiriman pasukan, peperangan, atau pertempuran melawan orang-orang musyrik. Mereka memahami besarnya pahala pertempuran di jalan Allah, sehingga mereka bersemangat menyebarkan Islam dan mengemban petunjuk bagi umat manusia.
Pada suatu hari, Umar bin al-Khaththab ra. bertanya pada rekan-rekannya, “Siapakah manusia yang terbesar pahalanya?” Mereka mulai menyebutkan orang yang puasa, salat, dan mereka mengatakan anu dan anu setelah Amirul Mukminin. Umar berkata, “Maukah kalian aku beritahu manusia yang terbesar pahalanya daripada orang-orang yang kalian sebut dan juga daripada Amirul Mukminin?” Mereka berkata, “Ya, tentu.” Umar berkata, “Pemuda Syam yang mengambil kendali dari kudanya, yang berjaga-jaga di perbatasan negeri kaum muslim. Ia tidak tahu apakah binatang buas menerkamnya, hewan beracun menggigitnya, atau para musuh menyerangnya. Inilah yang terbesar pahalanya daripada orang-orang yang kalian sebutkan, dan juga daripada Amirul Mukminin.” (Hayātu al-Sahābat, 1/320)
Ramadan menjadi saksi terjadinya peperangan dan pertempuran bersejarah. Sebut saja Perang Badar, penaklukan Makkah, penaklukan Spanyol, pertempuran Hittin, pertempuran Buwaib, penaklukan Nubah dan Amoriyah, serta banyak lagi yang lainnya. Kaum muslim menjadikan Ramadan sebagai bulan kemenangan dan penaklukan. Bulan jihad dan pertempuran. Namun, semua itu ada dan bisa terjadi karena kaum muslim memiliki satu negara yang menerapkan Islam dan memiliki Khalifah sebagai pemimpin yang menyerukan kemuliaan Islam.
Namun, lihatlah kondisi kaum muslim saat ini. Tidak ada kemuliaan di sisi mereka, yang terlihat hanyalah perselisihan dan perpecahan, kelemahan dan kehinaan, serta kerendahan. Mereka terlihat pasrah dan tunduk pada segelintir penguasa al-ruwaibidhah (penguasa yang bodoh). Kafir penjajah menguasai semua urusan publik dan swasta, sedangkan umat dengan senang hati menjadikan mereka sebagai tempat bergantung. Oleh karena itu, Anda tidak melihat di sana kecuali pembunuhan dan perusakan, penghancuran tanaman dan ternak, serta penjarahan atas kekayaan dan sumber daya alam.
Tidak hanya itu, sistem kufur diterapkan di dalam kehidupan mereka. Pemikiran umat diserang dengan konsep kapitalisme dan sekularisme. Rumah-rumah mereka diserang dengan layar-layar kecil yang menghipnotis umat. Mereka terbuai dengan tontonan-tontonan yang isinya mendistorsi citra Islam. Gaya hidup Barat menjadi identitas baru umat muslim. Kekayaan dan jabatan menjadi tujuan hidupnya. Dengan kondisi ini, tidak heran jika Ramadan hanya sekadar menjadi bulan makan dan minum, sementara siangnya menjadi waktu bermalasan dan tidur, serta beberapa aktivitas keduniaan semata.
Sungguh telah tiba saatnya bagi kaum muslim untuk mengembalikan Ramadan pada kewibawaan dan sukacitanya. Umat harus menata kembali skala prioritasnya, menjadikan rida Allah Swt. sebagai tujuan tertinggi dan tolok ukur aktivitas mereka. Hal ini hanya bisa terjadi dengan mengembalikan syariat Allah dalam kehidupan dengan mendirikan Daulah Khilafah ‘ala minhājin nubuwah, yang merupakan janji Allah Swt. dan kabar gembira dari Rasul-Nya saw..
Hanya Khilafah yang mampu membersihkan kekuasaan kufur dari negeri-negeri muslim dan mengembalikan kemurnian Islam. Khilafah yang akan membawa mereka lebih dekat dengan Allah Swt., mengembalikan aktivitas dakwah dan jihad, serta membuat Ramadan menjadi bulan ketaatan, bulan kemenangan dan penaklukan, serta bulan ibadah (taqarrub). [MNews/Nsy]

