[Nafsiyah] Ramadan Mubarak di Bawah Naungan Khilafah

[Nafsiyah] Ramadan Mubarak di Bawah Naungan Khilafah

Penulis: K.H. Hafidz Abdurrahman

Muslimah News, NAFSIYAH — 101 tahun sudah umat Islam di seluruh dunia tidak lagi merasakan bagaimana berpuasa dan berhari raya di bawah naungan Khilafah. Ramadan penuh berkah di bawah naungan Khilafah yang biasanya mereka lalui dengan penuh makna, kini terasa hampa. Suasana Ramadan tidak lagi terasa, bahkan seperti tidak ada bedanya dengan bulan-bulan biasa.

Perlu dicatat, ketika ibadah puasa pertama kali diwajibkan, saat itu Nabi saw. dan para sahabat berada di Madinah, tepatnya pada Syakban tahun 2 H. Dalam kitab Shahih Ibn Huzaimah, di malam pertama itu Nabi saw. menyampaikan khotbah yang berisi keberkahan dan kemuliaan bulan suci Ramadan. Tepat 17 Ramadan 2 H, saat baru pertama kali kaum muslim melaksanakan ibadah puasa, Perang Badar Kubra pun dikobarkan.

Pendek kata, hanya beberapa hari setelah berpuasa Ramadan, mereka harus melaksanakan peperangan yang sulit, Perang Badar Kubra. Nabi saw. sadar betul, bahwa momentum Ramadan ini adalah momentum ketaatan. Momentum yang sangat penting dalam mewujudkan pertolongan Allah dan kemenangan.

Bulan Perjuangan

Sunah Nabi menjadikan Ramadan sebagai bulan perjuangan, terekam dengan apik oleh para sahabat. Bukan kali ini saja Nabi saw. menjadikan momentum Ramadan sebagai momentum perjuangan, pun Ramadan-Ramadan berikutnya. Ramadan tahun ke-5 H, Nabi saw. melakukan persiapan perang Khandaq melawan pasukan sekutu antara Quraisy dan Ghathafan. Pada 20 Ramadan 8 H, Nabi saw. dan para sahabat berhasil menjadikan momentum Ramadan sebagai momentum pembebasan kota Makkah.

Pada Ramadan 9 H, Rasul dan para sahabat juga melakukan perang Tabuk. Pada bulan itu pula, utusan Bani Tsaqif di Thaif datang menghadap Rasul saw. menyatakan keislaman mereka. Pada Ramadan 10 H, Rasul saw. mengutus Ali bin Abi Thalib membawa surat dan menyampaikan dakwah ke Yaman khususnya kepada Bani Hamdan dan dalam satu hari, penduduk Bani Hamdan menyatakan keislaman mereka. Begitulah Ramadan yang dicontohkan Nabi saw..

Sunah Nabi itu pun diikuti oleh generasi berikutnya. Ramadan 15 H, kaum muslimin dipimpin Sa’ad bin Abi Waqash meraih kemenangan di perang Qadisiyah melawan pasukan jenderal Persia, Rustum, dan menjadi pintu pembebasan ibukota Persia al-Madain dan seluruh Persia. Pada 14 Ramadan 31 H, kaum muslimin dipimpin oleh al-Mutsanna meraih kemenangan di perang al-Buwaib (dekat kota Kufah saat ini).

Pada Ramadan 92 H, Thariq bin Ziyad bersama pasukan kaum muslimin berhasil membebaskan Andalusia (Spanyol). Lalu, pada Ramadan 223 H, Khalifah al-Mu’tasim Billah menjawab teriakan minta tolong seorang muslimah yang dinodai pasukan Romawi dan Amuriyah, benteng pertahanan terkuat Romawi Bizantium di Asia kecil pun dibebaskan.

Pada 25 Ramadan 658 H, kaum muslimin dipimpin oleh Saifuddin Qutus berhasil mengalahkan Tatar dalam perang ‘Ayn Jalut. Ramadan 791 H, kaum muslimin berhasil membebaskan Bosnia Herzegovina. Begitulah Ramadan di zaman Khilafah Islam, benar-benar dimaknai sebagai bulan perjuangan. Sungguh, di zaman Khilafah, Ramadan jauh dari pemandangan lawakan, senda gurau, hiburan, apalagi maksiat.

Bulan Ketaatan

Selain diisi dengan puasa, membaca Al-Qur’an, salat jemaah, dan sedekah, Ramadan di bawah naungan Khilafah benar-benar dijauhkan dari berbagai praktik maksiat. Mulai dari yang kecil, seperti dengki, berbohong, menggunjing orang, hingga yang besar seperti menebar fitnah, minum khamr, berzina, hingga membunuh. Semua nyaris tidak ada. Kaum muslim larut dan khusyuk dalam ketaatan kepada Allah Swt.. Begitupun nonmuslim yang hidup di tengah-tengah mereka ikut merasakan suasana Ramadan yang luar biasa.

Masjid-masjid penuh dengan jemaah yang datang untuk menunaikan salat jemaah. Mereka pun berangkat ke masjid sebelum azan dan ikamah tiba. Mereka berlomba mendapatkan saf terbaik, saf terdepan. Para pedagang, pegawai pemerintah, atau pun penyedia jasa, apapun profesinya, semuanya larut dalam suasana khidmat memenuhi panggilan Rabb-nya.

Di masjid-masjid jamik diadakan kajian (halqah) ilmu. Berbagai macam halqah diadakan para ulama. Halqah ini mengkaji tsaqafah Islam yang begitu kaya. Mulai dari bahasa, seperti Nahwu, Sharaf, Balaghah, hingga tafsir, qira’ah, hadits, fiqih, ushul fiqih hingga mawa’idh. Antusias umat kepada tsaqafah ini pun tinggi. Mereka mengkajinya dengan tekun dan serius karena tsaqafah-tsaqafah ini mereka terapkan dalam kehidupan.

Bahkan, tidak jarang halqah-halqah ini dihadiri oleh para khalifah dan pejabatnya. Mereka duduk mendengarkan para masyayikh di majelis-majelis mereka dengan penuh hormat dan takdim, tanpa melihat jabatan dan kedudukan mereka. Di majelis itu, mereka membaur dengan kaum muslim yang lain. Sampai-sampai ketika mereka melakukan kesalahan, di majelis itulah para masyayikh itu mengingatkan mereka. Inilah yang pernah dilakukan oleh Imam Malik kepada Harun ar-Rasyid dan putranya.

Di jalan-jalan tidak tampak suasana gaduh, berisik, apalagi tawuran. Para pengemis dan peminta-minta pun tidak tampak karena negara telah menjamin kebutuhan sandang, papan, pangan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan mereka. Tidak hanya itu, kaum muslim yang diberikan kelebihan rezeki, dengan sadar akan menyalurkan apa yang menjadi hak mereka tanpa diminta. Bahkan tidak jarang justru merekalah yang mencarinya.

Infak, zakat fitrah, dan zakat mal berlimpah. Tidak saja di bulan Ramadan, tetapi juga di bulan-bulan lainnya. Dengan melimpahnya infak dan zakat, maka sampai pada satu tahap, Khilafah kesulitan menemukan orang yang layak menerima zakat. Dalam kondisi seperti ini, Khilafah bisa saja menyalurkan dana zakatnya untuk membebaskan budak atau membangun industri militer dari pos fi sabili-Llah.

Bulan Persatuan dan Kesatuan

Suasana Ramadan yang begitu khusyuk membawa dampak pada perilaku kaum muslim secara umum. Mereka larut dalam suasana ukhuwah yang luar biasa. Nonmuslim pun merasakan hal yang sama meski mereka tidak sedang menunaikan ibadah puasa. Karena kasih sayang kaum muslim juga tercurahkan kepada mereka. Suasana seperti jelas menjadi perajut persatuan dan kesatuan umat, baik muslim dengan muslim, maupun muslim dengan nonmuslim.

Manifestasi persatuan dan kesatuan itu pun sejak awal tampak, pada isbat dan pengumuman jatuhnya 1 Ramadan, 1 Syawal, dan 9 Dzulhijjah. Karena pembuktian hilal itu dilakukan serentak di seluruh dunia dan diumumkan ke seluruh dunia. Umat Islam pun bisa mengakses informasi ini dengan cepat saat itu juga.

Khalifah yang menjadi pemimpin umat Islam pun saat itu tampil di layar kaca yang dipancarkan ke seluruh dunia untuk mengucapkan selamat kepada kaum muslim atas datangnya bulan suci Ramadan, sebagaimana yang disampaikan Nabi saw. kepada para sahabat di malam 1 Ramadan 2 H. Pesan-pesan spiritual, moral, dan politik disampaikan oleh Khalifah kepada umat Islam di seluruh dunia.

Berbagai channel televisi, radio, dan lain-lain tidak ketinggalan mengisi waktu kaum muslim dengan zikir, tilawah Al-Qur’an, hadis Nabi, kajian keislaman, dan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka. Begitulah suasana Ramadan di bawah naungan Khilafah. Suasana yang begitu luar biasa. Itulah bedanya kita hidup saat Khilafah ada dan tidak. [MNews/Nsy]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 198

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *