Muslimah News, NAFSIYAH — Akhir-akhir ini kita digegerkan dengan pemberitaan yang begitu menyedihkan. Seorang Ibu melukai ketiga anaknya tanpa sebab. Saat diwawancari, sang ibu hanya berkata ia tidak mau anak-anaknya sering dibentak, lebih baik segera diakhiri hidupnya.
Cara berpikir yang kacau timbul karena rapuhnya kondisi diri hingga berakhir pada frustrasi dan depresi karena masalah hidup. Padahal Islam mengajarkan keseimbangan hidup, termasuk saat menghadapi masalah dengan percaya pada Allah Swt. serta tidak terobsesi dengan apa yang tidak dapat dikendalikan.
Rasulullah saw. sambil menggendong Ibrahim, anak lelakinya yang wafat, ke liang lahad, pernah berkata, “Mata boleh meneteskan airmata, hati boleh tergerus dalam sedih, tetapi kita tetap harus rida atas setiap keputusan Allah yang terjadi pada kita.”
Oleh karena itu, jika kita ingin terhindar dari frustrasi dan depresi, maka harus bersikap rida pada setiap keputusan Allah. Jadikanlah Allah Swt. sebagai tempat bersandar, bukan pada makhluk-Nya karena bersandar pada makhluk-Nya adalah sumber kekecewaan. Ulama besar, Syeikh Utsaimin mengatakan, “Sumber keresahan ialah ketika tidak mengenali pada siapa dia bersandar dalam kehidupan. Itulah yang membuatnya gelisah dalam hidupnya.”
Ujung dari kegelisahan ialah kekecewaan. Ibnu Qudama’ mengatakan, salah satu ilmu yang wajib dipelajari setiap mukmin ialah ilmu yang menjadikannya mengerti tentang Rabb yang ia sembah. Oleh sebab itu, wajib bagi muslim mempelajari nama dan sifat Allah Swt.. Mempelajari zat-Nya dan ketetapan-Nya agar ia mendapatkan ketenangan hidup. Dengan begitu, ia mengetahui pada siapa ia bergantung.
Seringnya manusia tidak menyadari pada siapa ia harus bersandar. Dan ketika ujian datang, hidupnya menjadi berantakan. Berbeda dengan orang beriman ketika ditimpa ujian, ia tidak akan pernah gelisah, khawatir, dan frustrasi setiap menghadapi ujian kehidupan. Ia berkata, “Aku memiliki Allah Yang Mahabesar yang dapat menyelesaikan sebesar apa pun masalah yang kuhadapi.”
Allah SWT. berfirman, “Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, dan Dia kuasa menghidupkan yang mati? Begitulah; sungguh, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Al- Ahqaf: 33)
Tempat menyandarkan kehidupan ialah Allah Swt., “Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan penuh sabar, dengan memelihara keteguhan hati dan menjaga ketabahan, serta menahan diri dari godaan dalam menghadapi hal-hal yang berat, dan juga dengan melaksanakan salat.” (QS Al-Baqarah: 45)
Orang yang tidak mengenal Allah, niscaya tidak akan mengenal kemaslahatan dirinya, melanggar hak-hak orang lain, menzalimi dirinya sendiri, dan menebarkan kerusakan di atas muka bumi tanpa sedikitpun merasa malu.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “…Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, ‘Cukuplah rasa rakut kepada Allah sebagai bukti keilmuan.’ Kurangnya rasa takut kepada Allah itu muncul akibat kurangnya pengenalan yang dimiliki seorang hamba kepada-Nya. Oleh sebab itu, orang yang paling mengenal Allah ialah yang paling takut kepada Allah di antara mereka. Barang siapa yang mengenal Allah, niscaya akan menebal rasa malu kepada-Nya, semakin dalam rasa takut kepada-Nya, dan semakin kuat cinta kepada-Nya. Semakin pengenalan itu bertambah, maka semakin bertambah pula rasa malu, takut, dan cinta tersebut…” (Thariq al-Hijratain, dinukil dari adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/97]).
Salah satu cara menghindari frustrasi dan depresi dengan bertafakur. Tafakur artinya berpikir dengan sengaja, konstruktif, dan positif. Berapa banyak waktu yang telah kita habiskan dalam sehari untuk merefleksikan diri terhadap kebesaran Allah Swt.?
Cobalah memulainya dengan duduk diam selama lima menit setelah salat fardu. Pikirkanlah bagaimana Allah selalu memperhatikan setiap manusia. Renungkan, bagaimana pada saat ini Allah Maha Mengetahui semua yang terjadi pada setiap hamba-Nya. Allah cukupkan nikmat pada kita, termasuk nikmat dimudahkan dalam beribadah dan diberi kesehatan.
Umar bin Abdul Aziz berkata, “Berbicara dengan mengingat Allah Yang Maha Kuasa itu baik, dan memikirkan berkah Allah adalah tindakan ibadah terbaik.”
Bahkan Sayidina Ali bin Abi Thalin juga berkata, “Barang siapa bersandar kepada harta, ia akan miskin. Barang siapa bersandar kepada harga diri, ia akan hina. Barang siapa bersandar kepada akalnya, ia akan sesat. Namun, barang siapa bersandar kepada Allah, sesungguhnya Allah tak pernah miskin, hina, dan tersesat.” (Kitab Nahjul Balaghah).
Dengan demikian, wajib bagi kita mengenal Allah Swt. sebagai sandaran dalam kehidupan hingga kita tidak mudah rapuh dan kecewa dalam menyikapi berbagi persoalan kehidupan. Wallahualam. [MNews/Rndy]

