Muslimah News, NAFSIYAH — Saudariku, Syakban merupakan masa latihan sebelum naik ke ring berkah (Ramadan). Berbagai upaya bisa kita lakukan. Belajar tentang fikih puasa, ilmu tentang Ramadan, persiapan mental, materi keluarga, dll.
Rasul saw. pun mencontohkan pada kita terkait persiapan menyambut Ramadan. Rasul memperbanyak puasa di bulan Syakban. Aisyah ra. berkata, “Saya sama sekali belum pernah melihat Rasulullah saw. berpuasa dalam satu bulan sebanyak puasa yang beliau lakukan di bulan Syakban, di dalamnya beliau berpuasa sebulan penuh.” (HR Muslim)
Sebagian ulama salaf mengatakan, “Mereka (para sahabat) berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadan.” (Lathaaiful Ma’arif, hal. 232)
Apa yang dilakukan Rasulullah saw. dan para sahabat merupakan perwujudan kerinduan akan datangnya Ramadan, permohonan, dan bentuk tawakal mereka kepada-Nya. Mereka tidak hanya berdoa, tapi menyiapkan diri menyambut Ramadan dengan diiringi berbagai amal ibadah.
Abu Bakr al Warraq al Balkhi rahimahullah mengatakan, “Rajab adalah bulan menanam, Syakban adalah bulan untuk mengairi, dan Ramadan adalah bulan untuk memanen.” (Latahaaiful Ma’arif, hal.130)
Selain itu, ulama juga mengatakan, “Waktu setahun itu laksana sebuah pohon. Bulan Rajab adalah waktu menumbuhkan daun, Syakban adalah waktu untuk menumbuhkan dahan, dan Ramadan adalah bulan memanen, pemanennya adalah kaum mukminin. Oleh karena itu, mereka yang ‘menghitamkan’ catatan amal mereka hendaklah bergegas ‘memutihkannya’ dengan tobat di bulan-bulan ini, sedang mereka yang telah menyia-nyiakan umurnya dalam kelalaian, hendaknya memanfaatkan sisa umur sebaik-baiknya (dengan mengerjakan ketaatan) di waktu tersebut.” (Lathaaiful Ma’arif, hal.130)
Saudariku, Ramadan di pelupuk mata, persiapan apa yang sudah kita lakukan? Sudahkah kita memperbanyak amal saleh selama Rajab dan Syakban? Sudahkah kita memperbarui tobat? Rasulullah saw. bersabda, “Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah bertobat.” (HR Tirmidzi)
Tobat merupakan perkara yang menunjukkan totalitas seseorang dalam menghadapi Ramadan. Ia ingin memasuki Ramadan tanpa adanya sekat-sekat penghalang yang memperkeruh perjalanan selama mengarungi Ramadan. Apalagi tobat wajib dilakukan muslim setiap saat.
Allah Swt. berfirman, “Betobatlah kamu sekalian kepada Allah. Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An Nuur: 31)
Bertobat dari pelanggaran hukum syarak. Bertobat karena telah menjadikan selain Allah sebagai sandaran hidup. Bertobat karena muamalah yang batil disebabkan menggunakan riba. Bertobat dari tata pergaulan yang salah. Bertobat telah membuka aurat, dan lain sebagainya.
Selain tobat yang dilakukan oleh individu muslim, tobat juga harus diiringi dengan tobatnya penguasa, sebab individu muslim terikat dengan berbagai kebijakan penguasa. Jika penguasanya masih melanggengkan demokrasi sistem kufur, maka individu muslim pun menjadi sulit untuk berhukum sesuai aturan-Nya. Mereka tersandung dengan kebijakan negara yang bertentangan dengan Islam.
Tobatnya penguasa adalah dengan mencampakkan sistem selain Islam dan menggantinya dengan sistem Islam. Inilah kesempatan emas bagi setiap muslim dan para penguasa muslim untuk bertobat sebelum memasuki Ramadan.
Ramadan ialah bulan dibukanya pintu ampunan. Siapa pun yang serius bertobat sebelum Ramadan tentu Allah akan melipatgandakan pahalanya. Jangan sampai nyawa telah sampai di ujung tenggorokan baru menyadari untuk kembali pada hukum-hukumNya. Saat itu tiba, semua telah terlambat dan tinggal mempertanggungjawabkan semua amal di akhirat. Wallahualam. [MNews/Rndy]

