[Nafsiyah] Menuhankan Manusia dan “Memanusiakan” Tuhan

[Nafsiyah] Menuhankan Manusia dan “Memanusiakan” Tuhan

Muslimah News, NAFSIYAH — Apa yang salah dengan negeri-negeri Islam hari ini? Jawabannya, mereka meyakini Allah Swt. sebagai Tuhan, tetapi tidak menerapkan aturan-Nya; membenarkan syariat-Nya, tetapi tidak untuk menerapkannya, melainkan hanya dibahas dalam ranah kampus Islam dan dijadikan bahan ceramah dalam masjid dan majelis taklim.

Kini, negeri-negeri Islam menjadikan demokrasi sebagai “agama” baru. Demokrasi dianggap harga mati. Diklaim sebagai sistem terbaik. Digadang-gadang menjanjikan kemakmuran, kesejahteraan, kesetaraan, dan keadilan. Terlebih lagi, Barat menyanjung demokrasi sebagai mekanisme yang paling bisa menjamin distribusi, sirkulasi, dan pergantian kekuasaan secara aman, tertib, dan damai.

Faktanya, demokrasi cacat sejak lahir. Ia merupakan sistem yang berasaskan sekularisme (menafikan agama). Ia cenderung menuhankan manusia dan “memanusiakan” Tuhan.

Manusia dianggap paling berhak untuk menentukan baik/buruk, juga halal/haram, bukan Allah Swt.. Semua ini karena poros demokrasi ialah kedaulatan rakyat. Rakyat berkuasa untuk membuat hukum.

Sayangnya, konsep ini pun sekadar teori. Faktanya, para elite politiklah yang berdaulat. Meski mereka disebut wakil rakyat, kerja mereka bukan untuk rakyat, melainkan para pemilik modal dan penguasa.

Inilah sebab demokrasi juga disebut sebagai sistem yang menghasilkan banyak ilusi, yakni ilusi memakmurkan, menyejahterakan, menyetarakan, dan memberi keadilan. Semua itu ilusi!

Semua itu hanya milik segelintir orang (oligarki). Rakyat justru hidup miskin tanpa keadilan. Bagaimana mungkin kita bisa bertahan hidup dalam sistem yang menuhankan manusia dan “memanusiakan” Tuhan?

Allah Swt. berfirman, “Apakah mereka mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri adalah buatan manusia. Berhala-berhala itu pun tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembahnya dan kepada dirinya sendiri, berhala-berhala itu tidak sanggup memberikan pertolongan.” (QS Al-A’raf: 191—192)

Dari ayat di atas, dapat kita pahami kelemahan sembahan selain Allah, yakni pertama, statusnya sebagai makhluk tidak mampu mencipta. Kedua, tidak mampu membela diri. Ketiga, tidak mampu membantu para penyembahnya.

Jika salah satu kelemahan itu ada, ia tidak pantas untuk disembah (dituhankan). Lalu bagaimana jika semua alasan itu terkumpul? (Mutiara Faedah Kitab Tauhid, hlm. 90)

Allah Swt. pun mengingatkan lewat firman-Nya, “Maka barang siapa yang mengingkari tagut (sembahan selain Allah) dan beriman kepada Allah maka sungguh dia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS Al-Baqarah: 256)

Sangat jelas dan terang-benderang bagi umat Islam untuk tidak menjadikan demokrasi sebagai sistem kehidupan. Apalagi dalam sistem ini, baik/buruk dan halal/haram ditentukan oleh hawa nafsu manusia, bukan disandarkan pada aturan Allah Swt. Sang Pencipta.

Barang siapa menaati ulama dan pemimpin dalam mengharamkan yang dihalalkan Allah dan menghalalkan yang diharamkan Allah, ia telah menjadikannya sebagai Tuhan-Tuhan selain Allah Taala. (Syekh Muhammad At-Tamimy, Kitab Tauhid)

Umat Islam akan terus menyaksikan kemusyrikan di depan mata. Misal, menghentikan hujan dengan datangnya pawang, ataupun menghentikan bencana dengan sesajen dan aneka persembahan, baik hewan maupun manusia. Semua itu lestari dalam sistem demokrasi.

Lantas, mau sampai kapan umat hidup dalam kemusyrikan dan hidup dikelilingi kemaksiatan karena jauh dari aturan-Nya?

Kembalilah pada Islam. Jadikanlah Allah Swt. sebagai satu-satunya Tuhan. Jangan menuhankan manusia dan jangan pula “memanusiakan” Tuhan. Jangan sampai Allah Swt. menurunkan murka-Nya dan menghentikan rahmat-Nya pada kita. Wal ‘iyaadzu billah. [MNews/Rndy]

Share

2 thoughts on “[Nafsiyah] Menuhankan Manusia dan “Memanusiakan” Tuhan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *