[Kabar] Dr. Nazreen Nawaz: Nasionalisme Memandang Penderitaan Umat Islam sebagai Masalah Asing

[Kabar] Dr. Nazreen Nawaz: Nasionalisme Memandang Penderitaan Umat Islam sebagai Masalah Asing

Muslimah News, INTERNASIONAL — Aktivis muslimah Dr. Nazreen Nawaz menegaskan, akibat penerapan nasionalisme atau politik negara bangsa, kehidupan kaum muslim saat ini, termasuk muslimahnya, menjadi terpuruk.

“Nasionalisme adalah penyakit yang membuat kaum muslim memandang penderitaan umat Islam di negeri lain sebagai masalah asing yang tidak ada hubungannya dengan mereka,” ungkapnya dalam Konferensi Internasional From Al-Hind to Al-Quds, Ahad (17/7/2022).

Dr. Nazreen menyatakan nasionalisme adalah penyakit yang melucuti bangsa dan negara dari kemanusiaan sehingga mereka berdiri diam dan lumpuh di tengah genosida tanpa kemauan politik untuk bertindak, kecuali untuk kepentingan nasionalnya.

“Seperti yang kita lihat dengan rezim di Turki, Mesir, dan tempat lain yang diam, sementara itu ratusan ribu muslim telah dibantai di Suriah,” ujarnya mencontohkan sekaligus membeberkan berpalingnya pemerintah di Pakistan, Bangladesh, dan di tempat lain, dari kaum muslim yang tertindas di India, Kashmir, dan Turkistan Timur, meskipun umat Islam telah menderita kekejaman yang paling mengerikan.

Dr. Nazreen juga menggambarkan nasionalisme dan politik negara-bangsa menyebabkan rezim muslim mengusir muslim lain yang putus asa mencari perlindungan di tanah mereka.

“Menolak memberikan tempat perlindungan yang bermartabat dan kewarganegaraan karena memandang mereka sebagai orang asing berdasarkan kebangsaan atau etnis,” ucapnya.

Sebagaimana pemerintah Malaysia, Indonesia, dan Bangladesh, ujarnya, yang mengusir pengungsi Rohingya yang putus asa.

“Lebih suka melihat mereka mati di laut daripada memberikan perlindungan. Rezim Hasina di Bangladesh juga membuat hidup tidak tertahankan bagi para pengungsi Rohingya di kamp-kamp Cox’s Bazar sehingga mereka memilih, mau menerima untuk diasingkan ke pulau Bhasan Char yang tidak dapat dihuni karena rawan banjir atau kembali ke tangan para pembunuh mereka di Myanmar. Bahkan, Menlu Bangladesh, Dr. Abdul Momen menyatakan bahwa pemulangan awal Rohingya ke Myanmar adalah tujuan prioritas,” kritiknya.

Penguasa Nasionalistis

Ia lantas melanjutkan, para penguasa dan rezim nasionalistis ini tidak hanya meninggalkan muslim yang tertindas, tetapi juga secara aktif berteman, mendukung, dan menjalin aliansi dengan mereka yang menganiaya dan membantai muslim.

“Semuanya demi kepentingan nasional mereka atau tunduk pada perintah Barat,” kecamnya.

Bahkan, jelasnya, rezim Turki memperkuat hubungan dengan penjajah brutal Al-Quds. “Menlu Turki mengunjungi Menlu Israel dengan tujuan memperluas kerja sama ekonomi, energi dan sipil, dan untuk re-energize hubungan di banyak bidang. Turki sudah menjadi mitra dagang utama dengan Zionis. Ini semua adalah kesepakatan yang ditulis dengan darah saudara dan saudari muslim Palestina,” cetusnya.

Dr. Nazreen menguraikan rezim muslim, seperti UEA, Bahrain, Sudan, dan Maroko berdatangan menandatangani Kesepakatan Abraham dan membuat perjanjian normalisasi dengan Israel, bergabung dengan Mesir dan Yordania yang telah melemparkan muslim Palestina ke dalam “serigala”.

“Di Asia, pemerintah Pakistan mengerahkan yang terbaik untuk menormalkan hubungannya dengan “Jagal Gujurat” dan negara bagian India yang anti-Muslim – menyerahkan Kashmir diproses. Pada April, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif men-tweet ke Modi bahwa Pakistan menginginkan hubungan damai dan kooperatif dengan India,” bebernya.

Bahkan, sambungnya, penghinaan keji terhadap Nabi saw. oleh juru bicara BJP India tidak cukup menghalangi rezim muslim nasionalistis untuk tetap mendukung India.

“Menteri Informasi dan Penyiaran Bangladesh, Hasan Mahmud, menyatakan terkait penghinaan terhadap Rasulullah ini sebagai masalah eksternal, bukan masalah internal Bangladesh. Lalu sejak kapan penyerangan terhadap kehormatan Rasulullah merupakan masalah eksternal bagi umat Islam?” tanyanya lugas.

Ia pun melanjutkan, sejak kapan penderitaan dan pembantaian umat Islam—di mana pun mereka tinggal–menjadi isu asing bagi umat ini?

“Ini hanya terjadi ketika penyakit nasionalisme menginfeksi negeri muslim dan pemikirannya,” tegasnya.

Melemahkan Umat

Konsep nasionalisme, politik negara-bangsa, rezim nasionalistik, dan perbatasan negara, jelasnya,  diimpor dan dipaksakan kekuatan kolonial asing untuk memecah belah dan melemahkan umat ini sehingga dapat dengan mudah tunduk pada rencana dan kepentingan mereka.

“Konsep beracun ini telah mengikis ikatan persaudaraan muslim, menyebabkan muslim melihat satu sama lain melalui lensa negara musuh. Merasa puas ketika muslim ditindas dan dibunuh, juga ketika kesucian Islam dan kehormatan muslimah—saudara perempuan kita—dinodai,” ulasnya.

Semua ini, tuturnya, adalah warisan kepemimpinan nasionalisme dan negara bangsa. “Menyebabkan pengkhianatan terhadap Islam dan umat Islam karena dipenuhi dengan kelemahan dan ketundukan kepada kekuatan asing sehingga membuat umat Islam ditinggalkan dan tidak berdaya,” ungkapnya miris.

Dr. Nazreen mempertanyakan, apakah umat Islam akan terus “memeluk” racun nasionalisme ini, atau terus mendukung rezim nasionalis yang telah meninggalkan Islam dan umat Islam?

“Apakah warisan itu adalah dengan melihat solusi persoalan umat Islam melalui lensa ganas kepentingan nasional—yang memandang upaya mempertahankan kehormatan muslimah sebagai masalah asing? Atau terus menempatkan harapan palsu kepada PBB atau Barat atau pemerintah untuk bisa melindungi umat Islam? Ketika justru merekalah yang menyebabkan dan menyulut masalah di negeri kita dan yang berdiri berdampingan dengan para penindas, penjajah, dan pembunuh umat Islam?” tanyanya beruntun.

Atau, imbuhnya, akankah warisan itu hanya dengan menangisi penderitaan umat, ketika air mata kita tidak akan bisa menghentikan rasa sakit saudara dan saudari kita?

“Atau sekadar bersedekah untuk meringankan penderitaan umat kita, ketika pound dan dolar tidak akan mengakhiri penganiayaan atau peluru dan bom menghujani saudara-saudara kita? Atau apakah warisan kita, yaitu kembali ke jalan Nabi saw. dengan menegakkan kembali negara besar dan kepemimpinan Islam yang akan menjadi pelindung bagi semua muslim tanpa peduli ras, etnis, tanah kelahiran atau tempat mereka hidup–Khilafah berdasarkan metode kenabian?” tanyanya lagi.

Khilafah

Dr. Nazreen mengutarakan negara besar itu—Khilafah—akan memobilisasi tentaranya untuk membela kehormatan saudara kita, melindungi darah kaum muslim, dan membebaskan setiap inci tanah muslim yang diduduki.

“Sebuah negara yang akan mencabut setiap jejak Israel dari Tanah Suci Palestina dan mengibarkan bendera Islam, sekali lagi, di atas Al-Quds. Sebuah negara yang akan membuka tanahnya untuk Rohingya dan semua muslim yang tertindas sehingga mereka akhirnya akan menemukan rumah mereka yang sebenarnya. Sebuah negara yang akan membebaskan saudari kita tercinta Dr. Aafia Siddiqui dari tembok penjaranya dan mengembalikannya ke pelukan anak-anak dan keluarganya. Sebuah keadaan ketika hati kita tidak akan lagi sakit melihat penderitaan umat Islam,” jabarnya.

Oleh karena itu, ia menekankan, untuk menjadikan semua ini sebagai warisan kita adalah dengan mendirikan Khilafah Rashidah.

“Sebuah negara yang kita dan anak-anak kita akan banggakan sebagai negara yang benar-benar berdiri untuk Islam, kemanusiaan, serta melawan semua penindasan dan tiran. Sebuah negara yang akan menjaga martabat perempuan muslim dan meningkatkan status mereka, sekali lagi, seperti yang dijelaskan dalam arsip Khilafah Utsmaniyah – sebagai Taj al-Dowla – mahkota negara – permata yang dilindungi umat. Sebuah negara yang akan menandai dimulainya babak baru dalam kehidupan umat ini dan awal dari fajar baru yang dipenuhi dengan keamanan, perwalian, kemakmuran, dan kehormatan,” tandasnya.

Kemudian Dr. Nazreen menutup dengan firman Allah Swt. dalam QS Al- Fatir ayat 10, “Barangsiapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah.” [MNews/Ruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *