Penulis: Asy-Syifa Ummu Sidiq
Muslimah News, OPINI — Siapa yang tidak mengenal Citayam? Bagi kalangan yang selalu melek media sosial, tidak akan asing dengan kata ini. Citayam Fashion Week (CFW) merupakan acara fashion street yang sedang viral. Kawasan Sudirman di Dukuh Atas, Jakarta Pusat ini menjadi pusat perhatian seluruh khalayak karena ulah anak SCBD (Sudirman, Citayam, Bojonggede, Depok).
Anak-anak ABG itu berlenggak-lenggok sambil menyeberang jalan bagaikan di atas “catwalk”. Tidak pelak, aksi viral tersebut diikuti beberapa aktris papan atas hingga para pemimpin negeri. Melihat fenomena yang mendadak digandrungi ini, pantaskah para pemimpin negeri malah latah dan mengapresiasi?
Bentuk Eksistensi Diri
CFW merupakan bentuk unjuk kreasi anak-anak muda yang gemar nongkrong di kawasan itu. Mereka ingin eksis, tetapi dengan dana minimalis. Tidak perlu ikut audisi dan mengeluarkan uang segudang, ajang CFW sudah dapat dipakai sebagai sarana menunjukkan jati diri.
Selain itu, CFW bisa dipakai sebagai wahana rekreasi setelah sepekan berhadapan dengan pelajaran padat di sekolah. Dapat dikatakan pula, CFW menjadi tempat nongkrong anak masa kini.
Tidak hanya di Jakarta, aksi seperti CFW ternyata menjalar ke kota lainnya. Kota Pahlawan, misalnya, arek-arek Surabaya mulai mengikuti jejak CFW di jalan Tunjungan, sebuah ikon yang menunjukkan kekhasan kota pemilik Jembatan Merah itu. (CNN Indonesia, 22/07/2022).
Dukungan dari Berbagai Penjuru
Banyak pihak mengapresiasi CFW, tetapi tidak sedikit juga yang kontra. Dari kalangan artis misalnya, menilai CFW sudah sesuai dengan kehidupan zaman sekarang. Maklum saja, kehidupan artis yang mengedepankan kebebasan berekspresi dan berkreasi memang sejalan dengan aktivitas CFW. Sampai pedangdut goyang “ngebor” pun rela mengubah tampilan Kurma dan Bonge sebagai ikon CFW.
Akan tetapi, bagi yang tidak setuju, mereka menilai CFW hanyalah kumpulan anak bangsa yang lupa dengan masalah negerinya.
Hal lain yang tidak bisa dianggap remeh adalah beberapa pemimpin yang latah meramaikan ajang CFW. Mereka ikut berlenggak-lenggok bak artis hingga aksi mereka penuh pujian. Bahkan, orang nomor satu negeri ini juga mendukung CFW dengan menyatakan itu sebagai bentuk kreasi anak muda.
Dengan kejadian ini, masyarakat bisa menilai, sampai mana peran pemimpin negeri ini dan seperti apa pandangan mereka.
Membiarkan Kebebasan Berekspresi
Adanya legitimasi dan dukungan CFW memperlihatkan persetujuan berbagai pihak terhadap kebebasan tingkah laku. Seperti yang kita lihat, anak ABG itu berpakaian serba bebas, auratnya terlihat, berlenggak-lenggok seperti model, berdandan berlebihan, juga bercampur baur antara laki-laki dan perempuan. Semua ini identik dengan polah kebiasaan orang Barat yang mengedepankan kebebasan berekspresi.
Jika kegiatan ini terus didukung, tidak menutup kemungkinan akan melahirkan ABG yang semisal. Akhirnya, mereka terlena dengan dunia yang memberi racun “fun, fashion, music”. Mereka juga tidak akan memikirkan masalah bangsa ini, misalnya, SDA yang banyak dikuasai asing, utang membengkak, BBM yang makin mahal dan langka, kebutuhan pokok naik, dsb.
Pemimpin Tidak Peka
Jika hal seperti ini terus terjadi, jangan salahkan pihak-pihak yang menyatakan pemimpin saat ini tidak peka. Bukannya mengarahkan dan menyiapkan anak muda menjadi generasi penerus bangsa, malah menjerumuskan mereka pada jurang gemerlap dunia fana.
Legitimasi dan dukungan ini nantinya juga akan dimintai pertanggungjawaban sebab aktivitas kebebasan berekspresi ini tidak lepas dari pembiaran dan dukungan para penguasa.
Rasulullah saw. bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُو لٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْ أَةُ رَاعِيَة فِيْ بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُو لَة عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Kalian semua adalah pemimpin dan masing-masing dari kalian akan diminta (pertanggungjawaban) atas orang yang berada di bawah pimpinan kalian.”
Pemimpin bertanggung jawab atas rakyat. Suami adalah pemimpin keluarga dan ia bertanggung jawab atas mereka. Perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggung jawab untuk hal itu. Pelayan adalah penjaga harta tuannya dan ia bertanggung jawab tentang hal itu.
“Masing-masing kalian adalah seorang pemimpin dan seorang yang bertanggung jawab, serta akan dimintai pertanggungjawaban (tindakannya kepada) orang yang berada di bawah pimpinannya.” (HR Bukhari Muslim)
Pemimpin adalah Penegak Kebenaran
Bagi seorang pemimpin, apalagi seorang muslim, harus berani menegakkan kebenaran. Mereka wajib berpendirian dan berkepribadian Islam, yaitu memiliki pola pikir dan pola sikap Islam sehingga bisa membedakan mana kegiatan yang boleh dan tidak boleh, mana kegiatan yang baik dan buruk. Standar penilaiannya adalah Islam.
Rasulullah saw. juga bersabda, “Barang siapa yang melihat kemungkaran, cegahlah dengan tanganmu. Apabila belum bisa, cegahlah dengan mulutmu. Apabila belum bisa, cegahlah dengan hatimu, dan mencegah kemungkaran dengan hati adalah pertanda selemah-lemah iman.” (HR Muslim)
Hadis ini menjelaskan kewajiban orang yang memiliki kekuatan (kekuasaan/pemimpin) untuk mengubah keburukan menjadi kebaikan. Jika bersandar pada Islam, banyak aktivitas di CFW yang memang tidak sesuai syariat, apalagi itu semua adalah aktivitas yang membuat terlena. Tidak ada jaminan semua yang terlibat di sana menjalankan kewajibannya sebagai muslim.
Walhasil, seorang pemimpin, terlebih pemimpin muslim, wajib mendidik generasi untuk peduli pada bangsanya, bukan malah mendukung aktivitas hura-hura. Sudah seharusnya mereka bersikap tegas dan menjadikan Islam sebagai standar penentu suatu aktivitas benar atau salah. Wallahualam. [MNews/Gz]
Foto sampul: jabarekspres

Sadarkan generasi tentang tujuan Alloh SWT menciptakannya untuk apa?