Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Yazid bin Muawiyah wafat di Hawarain, Homs, negeri Syam pada Rabiulawal 64 H. Yazid mengangkat Muawiyah putranya sebagai penggantinya. Muawiyah bin Yazid (Muawiyah II) pun dibaiat sebagai khalifah pascawafatnya ayahnya.
Namun, ia tidak langsung menjalankan tugasnya sebagai khalifah, melainkan justru melepaskannya tanpa mengangkat seorang pun untuk menggantikannya. Ia berdiam diri di rumahnya hingga meninggal dunia. Keputusan ini menimbulkan kegoncangan di kalangan Bani Umayyah hingga akhirnya mereka sepakat membaiat Marwan bin Al-Hakam di Konferensi Al-Jabiyah pada awal Zulkaidah 64 H.
Pidato Pertama Sekaligus Menjadi Pidato Terakhir
Muawiyah bin Yazid adalah seorang pemuda yang warak dan bertakwa. Muawiyah II ini biasa dipanggil Abu Abdurrahman. Ayahnya menjadikannya putra mahkota untuk menggantikannya sebagai khalifah.
Namun, Muawiyah II merasa dirinya terlalu lemah untuk mengemban tanggung jawab jabatan tersebut. Ia pun jujur kepada dirinya sendiri dan rakyatnya.
Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa setelah jenazah Yazid bin Muawiyah disalati dan dikebumikan, orang-orang langsung menghadap Muawiyah II dan membaiatnya sebagai khalifah. Lantas diserukan kepada orang-orang “Ash shalatu jami’ah” maka Muawiyah II berpidato kepada mereka.
Pesan yang disampaikan Muawiyah bin Yazid antara lain, “ Wahai orang-orang, aku diangkat untuk memimpin kalian, padahal aku tidak sanggup menjalankannya. Jika kalian mau, aku akan meninggalkannya untuk diserahkan kepada seseorang yang kuat, sebagaimana Ash-Shiddiq menyerahkannya kepada Umar. Atau jika kalian mau, aku kan meninggalkannya untuk dimusyawarahkan oleh enam orang, sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khaththab. Hanya saja, tidak ada di antara kalian yang layak untuk itu. Aku telah meninggalkan urusan kalian maka angkatlah orang yang layak sebagai pemimpin kalian.”
Kemudian Muawiyah II turun dari mimbar dan masuk ke rumahnya. Sejak saat itu, ia tidak keluar lagi hingga ajal menjemputnya.
Menolak Mengangkat Khalifah dari Keluarganya
Dalam pidato tersebut, Muawiyah II ingin mengatakan kepada mereka bahwa ia tidak menemukan orang seperti Umar bin Khaththab dan tidak pula menemukan orang-orang seperti ahlu syura (keenam tim formatur yang dipilih Umar) di antara mereka. Karena itulah ia menyerahkan urusan itu kepada mereka agar mereka bisa mengangkat siapa saja yang mereka kehendaki.
Sikap Muawiyah II itu menunjukkan bahwa ia tidak menerima perubahan metode pengangkatan pemimpin dari ahlu syura menjadi pewarisan.
Ia pun menolak pengangkatan salah seorang dari anggota keluarganya sebagai khalifah. Orang-orang berkata, “Angkatlah salah seorang anggota keluargamu.” Muawiyah bin Yazid menukas, “Demi Allah, aku saja tidak mau menikmati manisnya menjadi khalifah kalian, lantas bagaimana aku sudi menanggung dosanya, sementara kalian yang segera menikmati rasa manisnya, sedangkan aku sendiri segera menikmati pahitnya? Ya Allah, aku berlepas diri darinya dan pergi meninggalkannya.”
Keguncangan Bani Umayyah
Keputusan Muawiyah II menimbulkan huru-hara dan konflik antara Bani Umayyah dan Ibnu Az-Zubair. Walaupun akhirnya kemenangan masih berpihak kepada Bani Umayyah. Mereka berhasil menguasai situasi dengan membaiat Marwan bin Al-Hakam sebagai khalifah dalam konferensi Al-Jabiyah pada Zulkaidah 64 H.
Konferensi Al-Jabiyah memang dapat menyelesaikan masalah kekhalifahan di antara Bani Umayyah dan merupakan langkah penting yang menentukan. Namun, penerapan resolusi Konferensi Al-Jabiyah bukanlah perkara mudah karena masih banyak hambatan dan kesulitan besar.
Lama periode Muawiyah II sejak pembaitannya sebagai khalifah hingga wafatnya diperselisihkan para sejarawan, antara empat puluh hari sampai empat bulan. Usianya saat menjabat pun menjadi perbedaan pendapat di kalangan ahli sejarah. Selama masa itu, Adh-Dhahak bin Qais al-Fihri senantiasa memimpin salat berjemaah di Damaskus dan mengendalikan berbagai urusan kaum muslimin hingga Marwan bin Al-Hakam dibaiat. Wallahualam. [MNews/Has]
Sumber: Prof. Dr. Abdusysyafi Muhammad Abdul Lathif. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah. Pustaka Al-Kautsar.
Foto ilustrasi: Kisah Muslim

Maasyaalloh..betapa takutnya mendapatkan amanah..saking takutnya pd ALLOH SWT