Masjid Pro L687, Kebingungan Kaum Liberal Menemukan Kebenaran

Masjid Pro L687, Kebingungan Kaum Liberal Menemukan Kebenaran

Penulis: Naila Zayyan

Muslimah News, OPINI — Masjid Ibn Rushd-Goethe di kawasan Moabit, Berlin, Jerman, memasang bendera pelangi di gedungnya untuk mendukung komunitas L687 menjelang pergelaran acara komunitas gay di Berlin bulan ini, yaitu Festival Lesbian dan Gay pada 16—17 Juli dan Hari Jalan Christopher (CSD) pada 23 Juli.

Mereka membentangkan bendera pelangi sebelum Salat Jumat (01/07/2022) waktu setempat di depan Senator budaya Berlin, Klaus Lederer. Sejumlah orang yang hadir memakai stiker bernuansa pelangi bertuliskan “Liebe ist Halal” (Cinta itu Halal).

Liberalisme dan Kebingungan dalam Menemukan Kebenaran Hakiki

Dari Masjid Ibn Rushd-Goethe, kita bisa melihat di sana banyak sekali problem. Masjid ini menjadi satu-satunya masjid beraliran liberal di Jerman yang mengizinkan jemaah laki-laki dan perempuan salat bercampur baur, muslimah salat tanpa mengenakan mukena ataupun menutup aurat, muslimah bisa mengimami laki-laki, dan lebih parah lagi, mereka saat ini secara terbuka menyatakan dukungannya kepada kaum pelangi.

Mereka melakukan perbuatan yang nyata-nyata ingin “merenovasi” ajaran Islam. Tampak bahwa mereka—kaum liberal—adalah orang-orang yang bingung menemukan arti kebenaran hakiki. Mereka menganggap diri mereka lebih baik, lebih hebat, lebih pintar, dan lebih mengerti arti toleransi dalam beragama.

Mereka juga mengecap ajaran Islam itu mengekang, kuno, terlalu strict, serta tidak memberikan kebebasan dan ruang berpendapat dan berperilaku. Padahal, itu semua hanyalah opini dan paradigma mereka, bukan berdasarkan fakta sejatinya Islam.

Kaum liberal sebenarnya orang-orang yang tidak mengerti tentang Islam itu sendiri, sampai kemudian mereka melakukan “renovasi” atau pembaruan menurut logika semata. Mereka berusaha mencari cela dalam ajaran Islam yang sejatinya tidak memiliki cela atau cacat.

Mereka pun menuhankan akal dan logika sehingga mereka merasa paling open minded. Padahal, manusia tidak lebih mengetahui dibandingkan dengan Allah Taala. Mereka memutarbalikkan kebenaran dan mencampuradukkan semua pemahaman. Akhirnya, mereka bingung dalam kebodohan yang tidak mereka sadari. Inilah hal mendasar yang penyebab ada masjid berpaham liberal seperti Masjid Ibn Rushd-Goethe di Jerman itu.

Zaman sekarang, orang disebut “toleran” jika jauh dari agamanya dan bisa mengiyakan atau membenarkan semuanya. Padahal, agama mengatakan bahwa tersebut salah. Inilah yang diinginkan oleh orang-orang kafir atas kaum muslim.

Semestinya, toleransi dimaknai sebagai sikap membiarkan umat agama lain beribadah sesuai ajaran agama mereka tanpa memaksakan agama kita, bukan malah membenarkan dan mengakui semua ajaran agama adalah benar (pluralisme).

Sumber Hukum Islam yang Benar

Manusia itu sebenarnya adalah makhluk lemah dan terbatas. Pengetahuan manusia juga sangat sedikit dibandingkan dengan ilmu Allah Taala di alam raya ini.

Allah Swt. berfirman, “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS Al-Isra’: 85)

Oleh sebab itu, tidaklah pantas manusia merasa lebih pintar mengatur kehidupannya dibandingkan Allah Swt. Sang Pencipta dan Pengatur segala sesuatu.

Allah Swt. memberikan petunjuk bagi kehidupan manusia berupa Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah saw. agar tidak salah langkah. Adapun akal adalah potensi pemberian Allah Taala yang seharusnya manusia pergunakan untuk memahami petunjuk hidupnya. Sungguh, manusia tidak lebih tahu dibandingkan dengan Sang Pencipta.

Jelas, perilaku kaum L687 adalah perbuatan melampaui batas agama dan melanggar ketentuan Allah, tertuang jelas dalam Al-Qur’an dan Hadis. Bahkan, sistem sanksi dalam Islam telah jelas terhadap para pelaku L687.

Hentikan Upaya Sistematis Penyebaran L687

Gerakan L687 sudah terang-terangan ditunjukkan dan didukung oleh lembaga-lembaga internasional seperti PBB melalui program-programnya yang terstruktur dan sistematis. Hal ini adalah bencana besar bagi kemanusiaan. Tidak hanya bertentangan dengan ajaran agama Islam, tetapi dengan asas kebebasan dan HAM-nya—disadari atau tidak—L687 telah merusak generasi manusia.

L687 adalah penyimpangan seksual dan termasuk penyakit menular yang harus segera disembuhkan dan dihentikan penyebarannya. Jika ini dibiarkan, bisa saja kaum muslim mengalami lost generation dan rusaklah peradaban manusia. Untuk menghentikan gerakan sistematis L687, setidaknya harus ada tiga elemen yang harus diupayakan, yaitu individu dan keluarga, masyarakat, serta negara.

Untuk elemen pertama, yakni individu dan keluarga, wajib untuk membentengi diri dari pengaruh L687 dengan meningkatkan ketakwaan pada Allah Swt., mendekat kepada-Nya (takarub), menyadari bahwa L687 adalah perbuatan dosa besar yang mengundang murka Allah. Keluarga juga harus saling mendukung dan menguatkan agar memiliki keimanan yang kuat kepada Allah Taala.

Elemen penting kedua adalah masyarakat harus memiliki kontrol sosial yang pakemnya tetap pada aturan syariat Allah Taala. Masyarakat harus tetap menggunakan pakem perbuatan baik/buruk dan terpuji/tercela berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis. Tidak boleh atas dasar suka/tidak suka, ataupun kecenderungan lainnya. Masyarakat akan satu suara dalam memandang perbuatan L687 bahwa itu perbuatan dosa yang dilaknat Allah Taala.

Elemen ketiga—dan yang terutama—adalah negara. Gerakan L687 telah tersistematis dan bisa kita bilang gerakan transnasional. Oleh karenanya, untuk menghentikannya, juga harus dengan gerakan sistematis transnasional dengan ideologi Islam sebagai spirit utamanya. Di bawah payung institusi negara Islam (Khilafah), kekuatan kaum muslim akan makin besar dan mampu menumpas L687 sampai ke akarnya.

Dengan tiga elemen yang bekerja dengan baik tersebut, tidak akan ada lagi kebingungan pada diri kaum muslim dalam menemukan kebenaran hakiki dari Allah Swt. dan tidak akan ada lagi orang-orang yang berani “merenovasi” ajaran Islam semau hawa nafsunya. Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]

Foto sampul: Morocco World News

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *