Penulis: Asy-Syifa Ummu Sidiq
Muslimah News, OPINI — Unicorn adalah perusahaan startup yang memiliki valuasi nilai hingga US$1 miliar. Valuasi sendiri merupakan nilai ekonomi dari bisnis yang dilakukan sebuah startup. Menurut hasil survei Tim Riset CNBC Indonesia di jejaring sosial Linkedln (2019) yang kembali dirilis oleh goodstatid (04/06/2022) memperlihatkan lulusan dari jajaran kampus ternama menjadi pegawai di empat unicorn Indonesia.
Urutan sumber daya manusia (SDM) terbanyak diduduki oleh Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Bina Nusantara (Binus), Universitas Padjadjaran (Unpad), dan seterusnya. Berdasarkan hal tersebut, apakah membuktikan bahwa pendidikan saat ini sudah berhasil?
Perlunya SDM Mumpuni
Era RI 4.0 merupakan masa saat teknologi menjadi andalan dalam setiap sendi kehidupan, termasuk dalam dunia bisnis. Dengan kecanggihan teknologi, setiap manusia merasa terbantu untuk memenuhi kebutuhannya.
Munculnya unicorn mengindikasikan bahwa teknologi saat ini digandrungi oleh pengusaha. Perusahaan dalam bidang digital mampu meraup untung yang besar karena dapat menarik minat konsumen dengan kemudahan dan efisiensi yang ditawarkannya.
Namun, untuk menjalankan bisnis dalam bidang digital tidak mudah. Perusahaan membutuhkan SDM yang cerdas, tangkas, dan berdedikasi tinggi. Keunggulan SDM ini akan linier dengan asal perguruan tingginya.
Kampus yang telah terbukti kualitasnya dapat dipastikan akan menghasilkan lulusan yang kompeten. Itulah mengapa para unicorn Indonesia selalu membidik lulusan kampus ternama seperti UI, ITB, Binus, Unpad, dll.
Sejalan dengan Tujuan
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI) boleh berbangga dengan ini. Selain karena menterinya pernah membawahi salah satu unicorn terbesar di Indonesia, tujuan pendidikan yang diusungnya dianggap memperlihatkan keberhasilan.
Hal itu sejalan dengan Kurikulum Merdeka yang diberlakukan, yakni Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang bertujuan membentuk SDM yang terampil dan siap kerja. Dengan terbentuknya SDM yang siap kerja, tidak menutup kemungkinan akan mengembangkan unicorn menjadi decacorn atau bahkan hectocorn.
Selain itu, hal ini juga sejalan dengan agenda G20 yang mengadakan KTT Y20. Y20 adalah wadah bagi pemuda dan pemudi untuk saling berdialog. Y20 memberikan dorongan kepada para pemuda sebagai pemimpin masa depan untuk meningkatkan kesadaran dalam bertukar pendapat, berargumen, dan negosiasi hingga mencapai kesepakatan.
Ada empat isu yang diusung dalam agenda Y20, yaitu ketenagakerjaan pemuda, transformasi digital, planet yang berkelanjutan dan layak huni, serta keberagaman dan inklusi. Dari empat isu ini, dua isu awal akan sejalan dengan realitas kehidupan saat ini.
Semua proyek kepemudaan yang berhubungan dengan dunia digital dan tenaga kerja memperlihatkan bahwa hal ini merupakan grand design dunia, bukan hanya Indonesia.
Bumi ini sedang berkembang ke arah digitalisasi dan berkonsentrasi pada dunia kerja (materi). Hal ini disebabkan oleh kepemimpinan dunia yang masih berlandaskan materialisme. Segala sesuatu dinilai baik apabila mendatangkan uang.
Penopang Roda Ekonomi
Kita tidak bisa memungkiri, lahirnya unicorn di Indonesia merupakan angin segar bagi ekonomi bangsa ini. Apalagi jumlah unicorn di negeri ini terbesar se-Asia Tenggara. Oleh karena itu, wajar jika kurikulum pendidikan di kampus menyesuaikan kebutuhan dunia kerja. Pasalnya, tujuan utama negara adalah mengembangkan perekonomian.
Hal ini tidak lepas dari pandangan yang diambil negara bahwa untuk memajukan suatu bangsa maka ekonominya harus kuat. Bangsa tidak akan bisa apa-apa tanpa ditopang dengan ekonomi.
Sesuai dengan prinsip kapitalisme yang memandang materialisme adalah kunci keberhasilan suatu bangsa, maka kemajuan hanya akan diperoleh jika para kapitalis mampu meningkatkan perekonomian.
Minus Agama
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, tujuan utama proyek pendidikan adalah membentuk generasi yang siap kerja. Negara memberikan segala fasilitas untuk meraihnya.
Namun, ada hal yang dilupakan oleh pemimpin bangsa ini yaitu agama. Manusia cerdas dan terampil tanpa agama hanya akan melahirkan SDM serupa robot. Mereka memiliki keahlian, mampu melakukan apa pun yang diperintahkan, tetapi tidak memiliki pendirian dan pijakan yang benar.
Hasilnya, mereka akan mudah terpengaruh dengan perkembangan zaman. Secara teknologi maju, tetapi secara pemikiran dan moral justru mengalami kemunduran.
Program ini pun sejalan dengan agenda KTT Y20 mengenai isu keberagaman dan inklusi, di mana isu ini akan memasukkan ide moderasi beragama. Akhirnya, membuat para pemuda sebagai calon pemimpin masa depan jauh dari agamanya. Bahkan, mereka akan beranggapan bahwa semua agama sama. Hal ini tentu berlawanan dengan prinsip atau ajaran agama.
Pandangan Islam
Islam membolehkan manusia berkembang. Bahkan, Islam selalu mendorong kemajuan umat manusia.
Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS Al-Baqarah: 164)
Dengan mengenal alam dan mengembangkannya, termasuk perkembangan teknologi, Islam telah memberikan hak bagi manusia untuk terus bereksperimen dan menemukan sesuatu yang baru. Seluruh kemajuan itu akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Namun, hak itu tidaklah bebas. Allah Swt. memberikan rambu-rambu syariat agar manusia tidak kebablasan. Allah Swt. menjelaskan bahwa kewajiban manusia di dunia adalah beribadah, bukan sekadar mencari kenikmatan materi.
Allah Swt. berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Adzariyat: 56)
Dari sini, dapat kita luruskan bahwa seharusnya sebagai muslim yang taat, kita tidak boleh sekadar mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Namun, kita perlu menyertakan syariat Allah Swt. dalam setiap lini kehidupan, termasuk ketika memanfaatkan teknologi digital.
Bekerja dan memanfaatkan teknologinya boleh, tetapi harus sesuai dengan syariat Allah. Tidak boleh sekadar berpangku pada kepentingan ekonomi, melainkan harus mengedepankan rida Ilahi.
Oleh karenanya, seyogianya tujuan pendidikan negeri ini tidak sebatas mencetak generasi siap kerja miskin agama, melainkan mencetak generasi kepribadian Islam (pola pikir dan sikap islami). Dengan begitu, ketika mereka lulus, di mana pun mereka bekerja, mereka akan selalu mengedepankan standar halal dan haram. Selain itu, mereka akan memberikan sumbangsihnya untuk umat, bukan untuk korporasi.
Mengenai kegiatan internasional seperti KTT Y20, seharusnya negara memiliki prinsip jelas. Jika kegiatan itu berlawanan dengan Islam, negara tidak boleh mengikutsertakan para pemuda. Hal ini agar melindungi mereka dari serangan pemahaman kufur yang bertentangan dengan Islam.
Seluruh prinsip yang perlu dijalankan itu tidak akan bisa dilakukan oleh negara yang menjadi pengikut Barat. Keputusan itu hanya akan diambil oleh negara yang memiliki landasan independen sebagaimana negara Islam (baca: Khilafah) selama 13 abad lamanya.
Dengan demikian, keputusan ada pada kita (sebagai penerus bangsa), mau terus menjadi budak Barat yang berorientasi materi ataukah menjadi generasi independen yang menjadikan rida Ilahi sebagai tujuan hidupnya? Wallahualam. [MNews/Has]
Foto sampul: Freepik
