Muslimah News, EDITORIAL – Sebagaimana Idulfitri, kaum muslim Indonesia dipastikan akan kembali merayakan Iduladha pada hari yang berbeda. Pasalnya, pemerintah melalui Kemenag telah menetapkan Iduladha tahun ini jatuh pada 10 Juli 2022. Sementara sebagian kaum muslim lainnya meyakini Iduladha jatuh pada tanggal 9 Juli 2022.
Mirisnya, perbedaan ini terus saja berulang, tetapi alasannya tetap saja sama. Ada yang terkait metodologi penetapan bulan baru, apakah boleh dengan hisab, atau harus dengan rukyatulhilal? Jika harus dengan rukyat, apakah mesti dengan rukyat lokal atau rukyat global?
Dalam hal ini, tidak sedikit kaum muslim yang meyakini berdasarkan dalil syar’i, bahwa petetapan Iduladha wajib berdasarkan rukyat global serta merujuk pada apa yang terjadi di Makkah sebagai pusat ibadah haji. Hal ini wajar karena rangkaian ibadah terkait Iduladha, seperti saum dan berkurban, sangat berkaitan dengan ritual ibadah haji, terutama wukuf di Arafah.
Duka Tak Berkesudahan
Kondisi di atas hanyalah bagian kecil dari potret buram umat Islam yang terus menerus dirundung malang. Tidak hanya soal perbedaan yang terus berulang, momen Iduladha juga nyaris selalu diwarnai kekisruhan.
Penyelenggaraan ibadah haji tahun ini bahkan begitu sarat dengan catatan. Mulai dari soal antrean yang makin tidak masuk akal, juga soal wabah PMK yang menyerang hewan (kurban). Ada juga soal dana umat yang tak jelas juntrungannya hingga soal tambahan 10 ribu kuota haji yang hangus akibat pemerintah tak siap memanfaatkan.
Pada saat yang sama, umat pun sedang menghadapi begitu banyak persoalan. Di bidang politik, ancaman polarisasi dan konflik horizontal benar-benar menghadang di hadapan mata. Jelang Pemilu 2024, para elit politik sedang panas-panasnya membangun branding dan saling berebut dukungan rakyat demi kursi kekuasaan.
Ironisnya, rezim penguasa alih-alih hadir mengurus kepentingan rakyat, rakyat bawah justru intens disuguhi kebijakan menyulitkan dan aturan membahayakan. Fungsi kepemimpinan pun benar-benar telah dikungkung kepentingan modal. Tak heran jika hidup sejahtera menjadi kian jauh dari jangkauan.
Faktanya, semua bidang kehidupan tak luput dari masalah. Selain politik, bidang ekonomi, sosial, budaya, hukum, hankam, semuanya tak ada yang baik-baik saja. Maka kita lihat, pengangguran, kemiskinan, stres sosial, kriminalitas, dekadensi moral, kerusakan lingkungan, dan sejenisnya seakan tidak mau lepas dari keseharian masyarakat kita. Bahkan, negeri yang kaya raya ini sudah dalam posisi tergadai akibat utang kepada negara-negara besar.
Salah satu dampaknya adalah rapuhnya profil generasi, serta guncangnya konstruksi keluarga dan masyarakat. Padahal generasi, keluarga, dan masyarakat merupakan modal utama tegaknya sebuah peradaban. Alih-alih bisa tampil sebagai bangsa yang besar dan menjadi mercusuar peradaban, untuk sekadar bangkit pun tampaknya bangsa ini butuh effort yang sangat besar.
Akibat Kedurhakaan
Jika melihat petunjuk syar’i, apa yang terjadi hari ini adalah sebuah hal wajar. Semua problem yang terjadi hanyalah cabang dari sebuah problem besar, yakni jauhnya umat dari tuntunan ajaran Islam.
Padahal Islamlah asas kebangkitan karena Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi merupakan ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan, sekaligus jawaban atas seluruh problem kehidupan manusia.
Fakta sejarah pun menunjukkan hal demikian. Saat umat ini berpegang teguh pada syariat Islam, mereka mampu tampil sebagai umat terbaik. Kehidupan mereka benar-benar dilingkupi oleh kesejahteraan dan keberkahan.
Allah Swt. berfirman,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha: 124)
Serta firman-Nya,
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”. (QS Al-A’raf: 96)
Justru sejak umat Islam lepas dari sistem Islam, lalu rida mengadopsi paham sekularisme dan mengatur kehidupannya dengan sistem kapitalisme atau sosialisme, penderitaan demi penderitaan tak lekang dari kehidupan umat Islam. Segala anugerah yang Allah Swt. berikan berupa kekayaan alam yang melimpah ruah dan jumlah penduduk yang sangat besar, justru seakan menjadi kutukan.
Bahkan, segala bentuk keburukan seakan lekat dengan profil kehidupan umat Islam dari masa ke masa. Umat Islam seakan tidak bisa dipersatukan akibat terpecah belah menjadi puluhan negara bangsa. Mereka pun kehilangan spirit ukhuwah atas dasar agama, serta kehilangan kemandirian dan wibawa hingga akhirnya tampil sebagai negara pengekor dan terjajah oleh negara-negara adidaya.
Inilah gambaran nyata umat Islam hari ini, tidak terkecuali di Indonesia. Kondisi ini tentu akan terus terjadi jika kita tidak mau tobat dan mengambil kendali, yakni dengan bangkit melakukan perubahan melalui jalan yang telah Nabi saw. ajarkan.
Mengembalikan Spirit Taat dan Pengorbanan
Iduladha sejatinya merupakan momen yang tepat untuk melakukan kontemplasi. Karena rangkaian ibadah haji sangat sarat dengan spirit ketaatan, pengorbanan, dan persatuan sebagai modal meraih kemuliaan hidup di dunia dan akhirat.
Sungguh jika kita renungkan, semua hikmah kehidupan ada pada rangkaian manasik haji. Mulai dari tawaf, sai, jamrah, tahalul, mabit, wukuf, dan menyembelih kurban, semuanya mengajarkan selaksa kebaikan.
Setidaknya melalui ibadah ini, umat Islam diingatkan tentang posisi hakikinya dalam proses penciptaan, yakni untuk menjalankan misi penghambaan dan misi menebar kebaikan dalam kehidupan. Kesadaran akan posisi inilah yang akan menghadirkan kembali keinginan untuk melakukan ketaatan total, sekaligus rasa tanggung jawab keumatan yang dalam sejarah telah mengantarkan mereka sebagai pemimpin peradaban.
Namun, semua hikmah ini hanya mungkin termanifestasi dalam kehidupan, saat umat ini mau mengambil risalah Islam sebagai tuntunan dalam seluruh aspek kehidupan atas landasan iman. Karena jika tidak, umat akan tetap ada dalam kondisi yang sama, meski tiap tahun ibadah haji terselenggara.
Bahkan, meski seluruh umat Islam menunaikan ibadah haji dan bolak balik melaksanakannya, kondisi umat akan tetap lemah, tidak punya wibawa, dan terpecah belah. Yang lebih miris, mereka akan tetap merasa nyaman meski hidup dalam masyarakat yang melanggar perintah-perintah Allah dan melakukan dosa berjemaah lantaran syariat Islam dicampakkan.
Mengingat Pesan Nabi saw.
Atas semua yang terjadi hari ini, alangkah baik jika kita renungkan beberapa pesan wukuf Rasulullah saw. pada saat haji Wada’,
“Wahai manusia, sungguh darah dan harta kalian adalah suci bagi kalian, seperti sucinya hari ini, juga bulan ini, sampai datang masanya kalian menghadap Tuhan. Saat itu kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kalian.”
Juga sabdanya, “Ingatlah baik-baik, janganlah kalian sekali-kali kembali pada kekafiran atau kesesatan sepeninggalku sehingga menjadikan kalian saling berkelahi satu sama lain.”
Sungguh pesan-pesan beliau tersebut sangat relevan untuk umat Islam hari ini. Kesadaran akan pertanggungjawaban di akhirat adalah landasan utama manusia dalam menjalani kehidupan di dunia.
Beliau saw. juga bersabda,
“Wahai manusia, sesungguhnya segala hal yang berasal dari tradisi jahiliah telah dihapus di bawah dua telapak kakiku ini. Riba jahiliah pun telah dilenyapkan.”
“Wahai manusia, sesungguhnya telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, yang menjadikan kalian tidak akan tersesat selama-lama jika kalian berpegang teguh pada keduanya. Itulah Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.”
Pesan-pesan beliau ini pun seakan mengingatkan bahwa ketaatan dan pengorbanan adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk mengeluarkan umat dari kondisi kejahiliahan. Dan untuk itu beliau telah memberi kita bekal tuntunan berupa syariat Islam yang telah beliau ajarkan. Sekaligus memberi kita warisan berupa sistem hidup yang terus dijaga oleh generasi para sahabat, dan para khalifah setelahnya dari masa ke masa, yakni sistem khilafah Islam.
Khatimah
Bagaimanapun situasinya, Iduladha akan kita jelang. Semua kekisruhan yang menyertainya, serta seluruh problem umat yang terus berkelindan, semoga tidak menghilangkan seluruh harapan. Dengan keyakinan dan izin Allah, umat Islam ke depan pasti akan kembali meraih kemuliaan sebagaimana yang dijanjikan.
Namun, tentu saja semua harapan itu tak bisa diraih dengan berpangku tangan. Umat Islam dituntut untuk bekerja dan berikhtiar memperjuangkan sebuah perubahan. Tentu dengan jalan yang dipastikan tidak menyelisihi tuntunan syariat Islam.
Sungguh, Rasulullah saw. telah mencontohkan bahwa jalan perubahan itu harus diawali dengan membangun kesadaran umat tentang visi misi hidup sesuai tujuan penciptaan. Sekaligus dengan membangun kesadaran umat bahwa hanya dengan ketaatan total pada syariat Islamlah, kebangkitan hakiki umat akan kembali diwujudkan.
Oleh karena itu, kita harus berupaya memastikan kita sudah termasuk dalam barisan para pejuang yang istikamah menapaki jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw.. Meskipun jalan ini sangat berat dan panjang, tetapi kita harus tetap yakin bahwa ujung jalan ini adalah kemenangan yang Allah janjikan.
Semoga kita termasuk yang Allah Swt. firmankan,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya, mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS Al-Baqarah: 207). [MNews/SNA]

Semoga kita dimudahkan untuk berkorban, mencontoh teladan nabi ibrahim AS dan putranya Ismail AS.