[Syarah Hadis] Rasisme Bukan Ajaran Islam

[Syarah Hadis] Rasisme Bukan Ajaran Islam

Berbeda dengan pemerintahan demokrasi kapitalisme, rasisme tidak ada dalam pemerintahan Islam dan bukan ajaran Islam. Islam mencatat sejarah dengan tinta emas tentang perlakuan Islam yang adil memandang semua ras/suku bangsa.

Penulis: Rohmah Rodhiyah


Muslimah News, SYARAH HADIS – “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu dan bapak kalian juga satu (yaitu Adam). Ketahuilah, tidak ada kemuliaan orang Arab atas orang ajam (non-Arab) dan tidak pula orang ajam atas orang Arab. Begitu pula orang berkulit merah (tidaklah lebih mulia) atas yang berkulit hitam dan tidak pula yang berkulit hitam atas orang yang berkulit merah, kecuali atas dasar ketakwaan.” (HR Ahmad dan al-Bazzar)

Hadis Imam Ahmad yang menjadi topik bahasan kita kali ini, menunjukkan bahwa rasisme tidak memiliki tempat dalam Islam. Semua manusia sama dalam pandangan Allah. Sampai-sampai orang Arab, yang Allah menurunkan agama ini pertama kali kepada mereka, Allah tegaskan tidak memiliki kelebihan apa pun dari non-Arab. Allah semata-mata hanya melihat ketakwaan seseorang, dan memandangnya mulia dengan ketakwaan tersebut, bukan yang lain. Hadis Rasulullah saw. berikut memperkuat pemahaman ini,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ ولَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Nabi saw. bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR Muslim, Sahih Muslim, 12/427, No. Hadis 4651)

Dalam kitab Syarah Muslim, Imam Nawawi menjelaskan makna hadis ini bahwasanya amal dinilai tidak sekadar amal itu secara lahir sesuai dengan perintah dan larangan Allah, akan tetapi amal itu harus dilaksanakan hanya ikhlas karena Allah, karena hatinya takut kepada Allah dan merasa dalam pengawasan Allah. Makna Allah melihat itu adalah membalasnya dan menghisabnya, artinya itu adalah niat yang ada dalam hati tanpa melihat rupa secara lahir dan Allah memandang dengan pandangan yang meliputi segala sesuatu (Imam Nawawi, Syarah Muslim, VIII/ 361).

Seharusnya pada masa sekarang rasisme itu tidak tumbuh subur, karena rasisme adalah ikatan emosional yang biasanya terjadi pada masyarakat primitif, taraf berpikirnya rendah, dan wawasan pemikirannya sempit.

Ikatan ras dan suku itu awalnya ikatan keluarga. Tatkala keluarga memiliki kekuasaan, maka ingin memperluas kekuasaannya, tidak hanya memimpin dan menguasai keluarga-keluarga lain di masyarakat, tetapi sampai pada menguasai dan memimpin suku bangsa/ras. Pada saat kekuasaannya makin meluas, kepemimpinannya makin berkembang, tidak hanya menjadikan keluarganya memimpin, tetapi meluas dan berkembang pada ras/suku bangsanya, bahkan bagaimana bangsanya memimpin dan menguasai bangsa yang lain (Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Peraturan Hidup dalam Islam).

Penjelasan ini memberikan jawaban mengapa rasisme masih muncul di negara yang mengklaim sebagai kampiun demokrasi. Konsep pemerintahan demokrasi yaitu pemerintahan yang memihak kepada rakyat, sebenarnya asumsi belaka. Faktanya yang berkuasa dalam sistem demokrasi adalah pemilik modal (kapitalis).

Dari lahirnya demokrasi sampai sekarang, ternyata kondisinya tidak berbeda. Sebelum Revolusi Prancis, yang menjadi penguasa adalah para pemilik modal keluarga kerajaan dan bangsawan dengan mengatasnamakan Tuhan. Pada saat lahirnya demokrasi, yaitu saat Revolusi Prancis, pemerintahan saat itu masih sama dengan sebelumnya yaitu keluarga-keluarga para pemilik modal. Hanya saja tidak lagi mengatasnamakan Tuhan, tetapi mengatasnamakan rakyat (Zaim Saidi, Ilusi Demokrasi).

Pada awal pemerintahan demokrasi, yang berkuasa adalah keluarga kerajaan dan keluarga bangsawan. Dengan demikian terdapat upaya-upaya agar keluarganya menjadi pemimpin bangsa atau memegang tampuk pemerintahan. Seiring berjalannya waktu, kekuasaan makin besar, berkembang menjadi upaya-upaya agar bangsanya memimpin bangsa yang lain.

Ikatan kesukuan/kebangsaan ini tidak sesuai dengan fitrah manusia, tidak memuaskan akal, dan tidak menenteramkan hati. Ikatan ras/kesukuan ini menimbulkan konflik, pertentangan, dan persaingan di masyarakat. Suku bangsa yang satu dengan yang lain berebut pengaruh, berebut kekuasaan, dan kepemimpinan. Ikatan kesukuan ini berbahaya dan membawa malapetaka bagi manusia.

Berbeda dengan pemerintahan demokrasi kapitalisme, rasisme tidak ada dalam pemerintahan Islam dan bukan ajaran Islam. Islam mencatat sejarah dengan tinta emas, bagaimana perlakuan Islam yang adil memandang semua ras/suku bangsa. Misalnya Bilal sebagai mantan budak, telah menjadi orang yang mulia, yaitu muazin. Bahkan Rasulullah saw. mengabarkan bahwa Bilal seorang yang bertakwa dan akan masuk surga.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda kepada Bilal setelah menunaikan salat Subuh, “Wahai Bilal, beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam! Karena sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga.” Bilal ra. menjawab, “Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku yang senantiasa melakukan salat (sunah) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci (wudu) dengan sempurna di waktu siang ataupun malam.”(HR Muslim)

Zaid bin Haritsah adalah mantan budak. Zaid budak dari Ummul mukminin Khadijah, yang dimiliki sebelum menikah dengan Rasulullah. Tatkala menikah dengan Rasulullah, maka Zaid bin Haritsah dihadiahkan kepada beliau. Selanjutnya diangkat Rasulullah sebagai anak. Berkat didikan Rasulullah, Zaid tumbuh menjadi pejuang Islam, bahkan menjadi panglima perang dalam perang Mu’tah yang mengantarkannya menjemput syahid.

Atha’ bin Abi Rabah adalah seorang ulama besar yang hidup pada masa kekhalifahan Bani Umayyah. Atha’ adalah seorang budak berkulit hitam. Atha’ tinggal di Makkah dan menjadi budak milik Habibah binti Maisarah bin Abu Hutsaim.

Tuannya melihat potensi keilmuan Atha’ yang luar biasa. Karenanya tuannya memerdekakan dengan harapan mendapat rida Allah dan pahala yang besar. Di samping itu, beliau berharap Atha’ menjadi ulama yang ilmunya bermanfaat untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Setelah menjadi seorang yang merdeka, Atha’ betul-betul mengembangkan potensinya secara optimal dan maksimal. Beliau menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh kepada para sahabat Rasulullah saw..

Jerih payah Atha’ pun membuahkan hasil, Atha’ menjadi ulama besar yang luas ilmunya. Ilmunya diakui oleh para Khalifah pada masa Kekhilafahan Bani Umayyah. Atha’ diangkat menjadi seorang mufti (pemberi fatwa) untuk musim haji pada masa Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Di samping itu, Atha’ juga diangkat sebagai penasihat Khalifah (Alomuslim.com).

Tidak adanya rasisme, bahkan memandang semua manusia sama di sisi Allah, menjadi alasan banyak orang memeluk Islam. Sekaligus menjadi bukti bahwa Islam adalah agama satu-satunya yang benar di sisi Allah Subhanaallahu wa Ta’ala. Wallahualam. [MNews/Rgl]

Ikhtisar dari: https://suaramubalighah.com/2020/07/07/rasisme-bukan-ajaran-islam/

Share

2 thoughts on “[Syarah Hadis] Rasisme Bukan Ajaran Islam”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *