[Nafsiyah] Dakwah dan Kesempurnaan

[Nafsiyah] Dakwah dan Kesempurnaan

Penulis: Adi Victoria

Muslimah News, NAFSIYAH — Memang benar, berdakwah itu tidak perlu menunggu sempurna dulu karena sulit rasanya untuk mendapatkan seseorang yang sempurna kemudian baru berdakwah. Mereka yang berdakwah pun tidak pernah berhenti untuk terus belajar.

Mereka yang terus belajar itu tentu bukan dalam rangka untuk menjadi sosok yang sempurna, karena menjadi sempurna itu suatu hal yang mustahil. Belajar adalah jalan untuk mengarah kepada kesempurnaan itu sendiri, yang oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah disebut sebagai النزوع إلى الكمال.

Al ‘allamah Syekh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah memberikan nasihat kepada para pengemban dakwah agar senantiasa menanamkan pada diri mereka cita-cita untuk mengarah kepada kesempurnaan (النزوع إلى الكمال), yakni dengan selalu melakukan kajian, mencari kebenaran, penelaahan secara berulang apa yang telah diketahui, serta senantiasa menjauhkan dirinya dari segala bentuk pemikiran yang menjerumuskan.

Dengan semangat mengarah kepada kesempurnaan tersebut, ia perlahan berproses untuk menjadi seorang ulama, pemikir, sekaligus seorang politisi yang andal.

Jadilah ulama, karena 1.000 orang ahli ibadah yang meninggal, yang ia berpuasa di siang hari dan salat di malam hari itu jauh lebih ringan dibandingkan meninggalnya seorang ulama yang mengetahui halal dan haram.

Jadilah seorang pemikir, karena dengan pemikiran tersebut ia akan makin berkembang. Ia akan menghindari agar tidak menjadi orang yang berpikir dangkal (al fikru al sathhy) dan memilih menjadi sosok yang berpikir mendalam (al fikru al ‘amiq), sebelum akhirnya memiliki pemikiran cemerlang (al fikru al mustanir).

Jadilah seorang politisi, yakni seorang pengemban dakwah yang melakukan aktivitas politik. Politik (as siyasah) yang bermakna,

رعاية شؤون الامة بالداخل والخارج وفق الشريعة الاسلامية.

“Pemeliharaan terhadap urusan umat baik di dalam negeri maupun di luar negeri sesuai dengan syariat Islam”.

Sesungguhnya penerapan syariat Islam secara kafah dalam mengatur urusan dalam dan luar negeri hanya bisa dicapai oleh negara. Dan ini berkaitan dengan politik, maka berdakwahlah dengan dakwah yang bersifat siyasiy (politik). Wallahualam. [MNews/Nsy]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *