Penulis: Ustaz Hafidz Abdurrahman
Muslimah News, NAFSIYAH — Ibunda Khadijah sebelum menikah dengan Nabi, pernah membangun rumah tangga dua kali, tetapi dua-duanya kandas. Usianya saat itu tidak lagi muda, 40 tahun.
Sementara Sayyidina Muhammad saw. saat itu masih belia, baru berusia 25 tahun. Baginda dikenal dengan keluhuran akhlak dan nasabnya. Beliau dipercaya penduduk Makkah untuk menitipkan hartanya.
Khadijah pun dikenal dengan kecantikannya, kecerdasan, akhlak, kemuliaan, dan kekayaannya. Ia mulai tertarik dengan sosok Muhammad saw.. Allah pun tumbuhkan benih cinta di dalam diri pemuda ini kepada wanita dewasa, yang kelak memberikan segalanya.
Saat Abu Thalib, pamannya menyampaikan pinangannya kepada Waraqah bin Naufal, paman Khadijah, Abu Thalib berkata, “Jika Engkau menerimanya karena harta, dia tidak punya. Tapi kalau Engkau menerimanya karena kemuliannya, maka dialah orangnya. Tapi ingat, harta itu seperti bayangan, yang pasti akan hilang.”
Iya, hati Nabi dan Khadijah diikat dengan cinta, bukan karena rupa, harta, ataupun yang lain, tetapi karena kemuliaan akhlak dan agamanya. Begitu tinggi akhlak Khadijah, sampai tidak pernah meninggikan suara di hadapan suaminya. Bahkan, semua waktu, jiwa, raga, dan hartanya diberikan untuk Allah, Nabi, dan dakwahnya.
Cinta Nabi kepada Khadijah adalah cinta abadi. Khadijah memiliki tempat istimewa di hati Nabi, meski Khadijah telah tiada. Dikisahkan suatu saat Halah binti Khuwailid mendatangi kediaman Rasulullah di Madinah. Saat itu ia meminta izin untuk menemui Rasulullah.
Mendengarkan cara perempuan itu meminta izin, menurut Aisyah, Rasulullah tiba-tiba dilanda kesedihan mendalam. “Ya Allah, itu Halah binti Khuwailid,” kata Rasulullah. Aisyah menuturkan bahwa Rasulullah bersedih karena cara Halah meminta izin mirip dengan cara saudarinya, Khadijah binti Khuwailid. Aisyah pun cemburu, “Mengapa engkau mengingat-ingat perempuan tua suku Quraish yang sudah lama wafat itu, padahal Allah sudah ganti yang lebih muda.”
Itulah dua hati yang diikat dengan cinta. Meski telah tiada, tetapi hati diberi keistimewaan oleh Allah untuk bisa menembus batas yang tidak bisa ditembus oleh raga. [MNews/Nsy]

Masya Allah begitu kuatnya ikatan cinta Rosulullah Saw. Bisa menjadi suri tauladan bagi kita