Visi menjadi negara maju, berdaulat, adil, dan makmur pada masa depan tentu hanya akan diraih manakala generasi muda muslim melepaskan dirinya dari kungkungan ideologi sekuler kapitalisme liberal dan segera melekatkan dirinya dengan ideologi Islam.
Muslimah News, EDITORIAL – Sejak awal pemerintahannya, Presiden Jokowi telah mengambil konsep bonus demografi dalam seluruh kebijakan pembangunannya. Konsep ini merujuk pada fakta bahwa potensi demografi Indonesia sangat menjanjikan, terutama hadirnya sejumlah besar kelompok penduduk usia produktif yang dibutuhkan untuk meraih kesejahteraan sebuah bangsa.
United Nations Population Fund (UNFPA) menyebut bahwa bonus demografi adalah potensi pertumbuhan ekonomi yang tercipta akibat perubahan struktur umur penduduk, proporsi usia kerja (15—65 tahun) lebih besar daripada proporsi bukan usia kerja (0–14 tahun dan >65 tahun). Bonus demografi ini dapat diukur dengan menurunnya rasio ketergantungan di suatu negara, karena proporsi penduduk usia produktif lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk usia nonproduktif.
Hanya saja, UNFPA mensyaratkan, bonus demografi ini dapat dinikmati oleh suatu negara manakala produktivitas kelompok usia produktifnya tinggi. Hal ini mengharuskan setiap orang bisa menikmati kesehatan yang baik, pendidikan yang berkualitas, pekerjaan yang layak, dan kemandirian anak muda. Jika tidak, yang terjadi adalah bencana demografi.
Potensi Besar
Berdasarkan hitungan dari hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015, Indonesia diprediksi akan mencapai puncak bonus demografi pada 2021, yaitu 60 tenaga kerja produktif mendukung 100 penduduk. Faktanya, prediksi tersebut benar tercapai, meski baru sekadar angka saja.
Sensus Penduduk 2020 lalu mencatat jumlah penduduk Indonesia mencapai 270,2 juta jiwa. Sebanyak 27,94 persen atau 74,93 juta jiwa di antaranya merupakan generasi Z (1997–2012). Sementara generasi milenial (1981–1996) mencapai 25,87 persen atau 69,38 juta jiwa; dan generasi X (1965–1980) sebesar 21,87 persen atau 58,65 juta jiwa.
Ini berarti, pada 2021, lebih dari 60 persen jumlah penduduk didominasi usia produktif (15–64 tahun), terutama kalangan pemuda (milenial dan gen Z). Hal ini diperkuat oleh hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2021. Disebutkan, pada tahun kedua pandemi, kontribusi tertinggi angkatan kerja nasional adalah milenial (24–39 tahun) sebesar 37,37 persen, dan gen X (40–55 tahun) sebesar 34,52 persen.
Hanya saja, dilihat dari sisi tingkat ketergantungan dan produktivitas sebagaimana yang UNPFA sebutkan, Indonesia tampaknya masih jauh dari harapan. Visi Indonesia Emas yang dicanangkan tahun 2045 mendatang, dengan tagline “Menjadi bangsa yang maju, berdaulat, adil, dan makmur” serta “Menjadi satu dari lima kekuatan ekonomi dunia”, tampaknya akan menjadi mimpi saja.
Kita lihat kondisi ekonomi Indonesia sebelum, saat pandemi, hingga saat ini, masih belum baik-baik saja. Tingkat kemiskinan dan pengangguran masih tinggi. Utang luar negeri makin menumpuk. Akses masyarakat terhadap pendidikan dan kesehatan berkualitas pun masih bermasalah akibat kapitalisasi yang masif terjadi.
Problem dekadensi moral, terutama di kalangan pemuda, pun tak bisa ditutup-tutupi. Pergaulan bebas, penyimpangan seksual, tindak kriminal, narkoba, dan miras begitu lekat dengan kehidupan generasi muda kita hari ini. Wajar jika muncul kekhawatiran, bagaimana dengan masa depan negeri ini? Karena bagaimanapun, pemuda merupakan tumpuan harapan perubahan menuju Indonesia lebih baik pada masa depan.
Korban Kapitalisasi
Tak dimungkiri, paradigma pembangunan sekuler kapitalisme telah menjauhkan pemuda dari posisi strategisnya sebagai motor peradaban. Ini tampak dari rencana pembangunan dan kebijakan, terutama yang menyangkut kepemudaan dan generasi, yang nyatanya hanya fokus pada target pemberdayaan dalam konteks hitung-hitungan ekonomi, minus pertimbangan ideologi.
Indeks Pembangunan Pemuda, misalnya, dipetakan ke dalam lima domain, yaitu (1) pendidikan; (2) kesehatan dan kesejahteraan; (3) lapangan dan kesempatan kerja; (4) partisipasi dan kepemimpinan; serta (5) gender dan diskriminasi. Semua domain ini jelas berparadigma sekuler kapitalistik neoliberal.
Arah kebijakan pendidikan nyatanya juga hanya ditujukan membentuk soft skill maupun hard skill pekerja. Yakni fokus pada aspek vokasional, maupun konsep link and match dengan industri atau pasar kerja. Sementara penanaman nilai-nilai agama, termasuk moral, kian lama kian tersingkirkan. Yang penting, “Merdeka belajar”!
Alhasil, keberhasilan kebijakan pendidikan hari ini hanya dihitung dari seberapa banyak output yang terserap dalam dunia kerja. Sementara pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan-pekerjaan teknis bergaji murah yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan asing, yang pintu masuknya dibuka lebar-lebar oleh negara, baik atas nama utang maupun investasi.
Lalu mereka pun mendefinisikan produktivitas dan pemberdayaan pemuda dalam konteks seperti itu, dan lantas menyebutnya sebagai “prestasi”. Hingga berbagai cara diciptakan agar kalangan milenial dan generasi Z terjun secara penuh dalam aktivitas ekonomi, terutama pada era digitalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang hari ini masif terjadi.
Karenanya, pemberdayaan pemuda pada era ini alih-alih berdampak positif bagi kemajuan negeri, penerapan aturan hidup yang serba sekuler, liberal, dan kapitalistik oleh negara, serta lepas tangannya negara dari pengaturan berbagai urusan umat, justru hanya membentuk generasi yang serba tahu dan serba pintar, tetapi rapuh akibat tak memiliki ketahanan ideologi.
Bahkan maraknya krisis moral dan kriminalitas di kalangan generasi muda justru tak jarang berbasis teknologi. Tanpa benteng negara, berbagai kerusakan begitu mudah tersebar luas di kalangan pemuda, membentuk lifestyle yang jauh dari nilai-nilai adab, apalagi halal/haram. Bahkan tak hanya di kalangan remaja atau pemuda, di kalangan anak-anak kecil pun kerusakan sudah merajalela.
Mirisnya lagi, potensi pemuda pun tak hanya dioptimasi sebagai tenaga pemutar roda industri milik para kapitalis di negeri ini. Pada saat yang sama, mereka pun dibidik sebagai target pasar potensial dari barang dan jasa yang dihasilkannya. Sehingga wajar, jika para kapitalis dan negara pengusung ideologi kapitalisme berkepentingan menyebarluaskan pemikiran yang mendukung tumbuh suburnya lifestyle yang sarat ide-ide sekularisme, liberalisme, hedonisme, permisivisme, dan konsumtivisme.
Mereka pun begitu rela menyokong sistem pendidikan dan pemerintahan sekuler kapitalistik dengan segala kekuatan modal dan lobi-lobi politik yang dimiliki. Karena hanya dengan cara ini, penjajahan yang mereka lakukan melalui jalan ekonomi, politik, pemikiran, dan budaya akan bisa dipertahankan hingga waktu lama.
Pertanyaannya, jika situasi generasi masih seperti ini, dan Negara masih berparadigma seperti ini, bagaimana bisa di usia emas tahun 2045 nanti Indonesia bisa menjadi negara maju, berdaulat, adil, dan makmur?
Moderasi, Membajak Potensi
Para kapitalis dan negara penjajah pengusung ideologi kapitalisme tentu sangat berkepentingan menjauhkan pemuda dari segala hal yang bisa membangkitkan pemikiran mereka. Satu-satunya rahasia adalah ajaran Islam yang sejatinya merupakan ideologi yang siap berhadapan dengan ideologi yang sedang eksis ini.
Tak heran jika hari ini proyek-proyek deideologisasi Islam demikian masif diarusderaskan. Mulai dari propaganda perang global melawan teror yang intens dilekatkan pada ajaran Islam, maupun mainstreaming moderasi Islam yang merekonstruksi ajaran Islam agar sesuai dengan nilai-nilai sekuler liberal, tak terkecuali di kalangan para pemuda.
Dengan cara ini, ajaran Islam akan kehilangan vitalitasnya sebagai solusi bagi kehidupan. Islam hanya akan menjadi agama ritual yang keberadaannya tak memiliki pengaruh dalam percaturan politik internasional. Bahkan umat Islam akan tetap berada di bawah kepemimpinan ideologi kufur kapitalisme yang jelas-jelas telah membawa kerusakan.
Berbagai narasi diciptakan untuk menjerat pemuda ke arah moderasi Islam. Misalnya gagasan demokratisasi, kesetaraan, keadilan, toleransi, pemberdayaan ekonomi, HAM, feminisme milenial, dan lain-lain. Pada saat yang sama, diaruskan pula narasi tentang pentingnya rekontekstualisasi ajaran Islam dan bahaya fundamentalisme Islam. Semua narasi ini masuk melalui jalur pendidikan di semua level dan semua kanal.
Targetnya tak lain membentuk generasi muslim yang tak memiliki identitas Islam, alias beragama Islam, tetapi kepribadiannya bukan Islam. Generasi seperti ini tentu tak akan berpikir bahwa obat segala keterpurukan yang mereka alami sesungguhnya ada pada Islam. Bahkan mereka tak kenal bahwa Islamlah yang akan mengeluarkan mereka dari lumpur penjajahan.
Mereka justru akan mudah bersikap defensif apologetis. Merasa minder untuk menunjukkan identitas Islam atau berbicara soal Islam. Namun sebaliknya, mereka bangga menyerukan simbol-simbol dan pemikiran Barat.
Mereka tak risih mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan, lalu membungkusnya seolah-olah itu berasal dari Islam. Mereka rela bermusuhan dengan umat Islam, tetapi berangkulan dengan para penjaga kekufuran.
Jelaslah bahwa pengarusderasan moderasi Islam merupakan strategi jitu yang diterapkan musuh-musuh Islam. Terutama untuk membajak potensi pemuda muslim sebagai motor kebangkitan peradaban Islam, menjadi motor penjaga peradaban sekuler liberal.
Meluruskan Arah Pemberdayaan
Tentu saja situasi ini tak boleh dibiarkan, karena visi menjadi negara maju, berdaulat, adil, dan makmur pada masa depan tentu hanya akan diraih manakala generasi muda muslim melepaskan dirinya dari kungkungan ideologi sekuler kapitalisme liberal dan segera melekatkan dirinya dengan ideologi Islam.
Ideologi Islam tegak di atas akidah yang lurus yang darinya lahir sistem hidup yang benar, serta sesuai dengan tujuan penciptaan manusia, alam semesta, dan kehidupan. Ideologi Islam akan mampu menjadi tuntunan sekaligus kaidah berpikir, yang bisa mengarahkan umat untuk maju dan membangun sebuah peradaban cemerlang pada masa depan.
Terbukti, saat umat Islam berpegang teguh pada ideologinya, dan menjadikan Islam sebagai asas pembangunan generasinya, termasuk sebagai asas sistem pendidikan dan asas bagi sistem-sistem lainnya, lahirlah generasi cemerlang yang mampu membangun peradaban yang juga cemerlang.
Mereka adalah generasi atau pemuda yang memiliki ketakwaan tinggi. Namun pada saat yang sama, mereka paham bagaimana menyikapi dan memberi solusi problem kehidupan dengan skill yang memadai dan sesuai aturan syariat. Orientasi hidup mereka tak hanya sebatas kepentingan diri, tetapi juga memiliki visi keumatan berbasis ideologi yang didukung oleh sistem hidup yang mumpuni.
Ke arah inilah pemberdayaan pemuda muslim harus diarahkan. Yakni mewujudkan para pemuda yang siap memperjuangkan Islam semata-mata dengan kesadaran iman. Mereka harus ada pada tiap zaman, termasuk pada masa kita sekarang.
Merekalah generasi khilafah yang keberadaannya nanti sangat ditakuti para penjajah dan antek-anteknya. Para penjajah itu tak akan berhenti melakukan berbagai cara untuk merusak kepribadian generasi kaum muslim, karena mereka tak ingin gerakan kebangkitan Islam berbuah kemenangan.
Namun percayalah, seberapa pun kuatnya mereka berupaya, ujung perjuangan mereka adalah kekalahan. Karena janji kemenangan telah disematkan kepada umat Islam. Allah Swt. berfirman dalam QS an-Nur ayat 55,
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. [MNews/SNA]

Allah Akbar!