Penulis: K.H. Hafidz Abdurrahman
Muslimah News, NAFSIYAH — Gerakan Islamofobia tidak hanya terjadi di Barat, jantung Kapitalisme. Tapi juga terjadi di negeri-negari kaum Muslim. Di satu sisi, Islamofobia yang lahir dari kebencian Barat kepada Islam dan terjadi di Barat memang tidak mengherankan. Tapi, di sisi lain, itu menunjukkan sikap hiprokit karena menyalahi pandangan dan propaganda mereka tentang kebebasan.
Pertanyaannya, mengapa pandangan mereka tentang kebebasan dikalahkan naluri defence mereka? Karena ideologi dan sistem mereka terbukti rapuh. Kapitalisme memang masih bisa bertahan setelah tambal sulam yang dilakukan dengan Sosialisme, baik model Skandinavia, Jerman, maupun Rusia dan Cina. Ketakutan dan kekhawatiran satu-satunya mereka saat ini adalah bangkitnya kekuatan Islam. Karena itu, Islam dipecah-belah. Satu mereka rangkul. Satu lagi mereka perangi. Meski akhirnya nanti semuanya mereka habisi.
Di sisi lain, mereka sengaja menciptakan narasi kebencian kepada Islam yang kemudian dikenal dengan Islamofobia. Apapun yang berbau Islam diserang. Mulai dari jihad diidentikkan dengan terorisme, jilbab, bahkan sampai azan yang merupakan panggilan Allah yang mulia dibandingkan dengan “gonggongan anjing”.
Gerakan ini marak terjadi di negeri kaum Muslim, Barat, dan Timur (Cina). Pertanyaannya mengapa ini semua terjadi dan dilakukan secara masif dan sistemik? Jawabannya, karena secara global kapitalisme nyaris tumbang. Mereka menghadapi masalah di dalam ideologinya. Di sisi lain, perkembangan Islam sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia terus mengalami peningkatan signifikan.
Jadi, narasi antiislam atau Islamofobia sengaja diciptakan untuk menyerang Islam dengan harapan orang benci dan memusuhi Islam. Tapi mereka lupa, Islam adalah agama Allah. Allah yang mempunyai Islam. Allah yang Menjaga Islam. Bahkan, ketika Islam ditinggalkan di Hijaz, atau bahkan dicampakkan, Allah hadirkan kaum dan wilayah lain yang memeluk, menjaga, dan memperjuangkannya. Allahuakbar. [Mnews/Nsy]
