Muslimah News, NASIONAL — Setiap 10 Oktober, masyarakat dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day). Pada tahun ini, tema yang diusung adalah “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change” (“Pengalaman Nyata Didengarkan: Suara Nyata, Perubahan Nyata”). Peringatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya kesehatan mental dan mendorong agar layanan kesehatan mental dapat diakses oleh masyarakat. Selain itu, juga menyoroti perlunya keterlibatan yang bermakna dari orang orang yang mengalami langsung persoalan kesehatan mental dalam pengambilan keputusan.
Bukan Solusi
Namun, pemerhati kebijakan kesehatan dr. Arum Harjanti menilai, peringatan ini hanya selebrasi, bukan solusi mengatasi peningkatan problem kesehatan mental. “Peringatan tanpa perubahan secara struktural dan sistemis tidak akan mampu membebaskan umat manusia dari belenggu gangguan mental. Pasalnya sistem hari inilah yang menjadi penyebab terjadinya gangguan mental.,” ujarnya kepada MNews, Senin (13-10-2026).
Ia menyatakan, sistem sekuler kapitalisme yang diterapkan menjadi penyebab terganggunya kesehatan mental hari ini dan meniscayakan minimnya peran negara dalam mengurus rakyat. “Padahal, kesehatan mental terwujud ketika ada rasa tenteram secara terus menerus dan manusia tercukupi kebutuhan dasar hidupnya, baik kebutuhan jasmani maupun nalurinya, sesuai dengan pemenuhan yang benar dan sesuai hukum Pencipta manusia,” ungkapnya.
Namun, ia menyayangkan, sistem kapitalisme hari ini meniscayakan yang miskin dan lemah tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar. “Kesenjangan kesejahteraan yang makin lebar adalah hasil dari berjalannya mekanisme pasar yang menjadi paradigma sistem ini. Prinsip kebebasan kepemilikan makin menguatkan hal itu,. Fenomena working poor menjadi bukti yang tidak terbantahkan,” ucapnya.
Ia menggambarkan, pertumbuhan kekayaan kaum elite yang melaju tiga kali lebih cepat dari dekade sebelumnya dengan 12 orang terkaya di dunia memiliki total harta yang lebih besar daripada gabungan 4 miliar penduduk termiskin di bumi. “Di sisi lain, satu dari empat orang di dunia masih terjebak dalam krisis pangan, kelaparan akut, maraknya PHK, dan beban kerja yang berlebih. Negara gagal mendistribusikan kekayaan secara merata pada seluruh rakyat,” imbuhnya.
Selain itu, jelasnya, sekularisme menambah parah gangguan mental. Jauhnya manusia dari agama, lanjutnya, membuat hidup dikendalikan nafsu serakah, kecurangan makin meluas, hidup terasa kosong kehilangan arah ketika materi menjadi orientasi sehingga mengakibatkan tingginya tekanan hidup. “Pada saat yang sama, layanan kesehatan mental sulit dijangkau karena keterbatasan layanan kesehatan jiwa di sarana kesehatan. Bahkan pada banyak daerah, layanan kesehatan menjadi barang langka. Hal ini adalah konsekuensi kapitalisasi layanan kesehatan dalam sistem kapitalisme,” ulasnya.
Mewujudkan Mental Sehat
Arum menilai, untuk mewujudkan mental yang sehat, rakyat membutuhkan negara yang memiliki paradigma sebagai pengurus dan pelindung rakyat yang akan memenuhi segala kebutuhannya. “Semua itu hanya terwujud dalam naungan negara yang menerapkan Islam secara kafah. Islam menetapkan bahwa negara, yaitu Khilafah, wajib mewujudkan kemaslahatan rakyat dan menghindarkan kemudaratan yang membahayakan rakyat,” urainya mengutip sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai.”
Rasulullah saw. juga, tambahnya, melarang hal-hal yang membahayakan rakyatnya, termasuk yang berpotensi mengakibatkan gangguan mental, ”Tidak boleh melakukan sesuatu yang berbahaya dan menimbulkan bahaya bagi orang lain.” (HR Ibnu Majah, Ahmad, dan Malik).
Oleh karena itu, terangnya, Khilafah sejak awal melakukan upaya preventif. “Sistem ekonomi Islam menjamin kesejahteraan setiap individu rakyat. Sistem pendidikan Islam yang berasas akidah Islam menanamkan sikap sabar, optimis, qanaah, tawakal, dan rida atas ketentuan Allah Swt. sehingga terwujud mental kuat pada setiap individu rakyat,” tuturnya.
Lebih lagi, paparnya, Khilafah melalukan upaya kuratif dengan membangun sarana layanan kesehatan, baik fisik maupun mental, dengan kualitas terbaik merata di semua pelosok wilayah. “Layanan ini diberikan secara gratis karena kesehatan fisik, termasuk mental, menjadi tanggung jawab negara. Inilah manifestasi sabda Rasulullah saw. dalam hadis Bukhari dan Muslim, ‘Imam/khalifah itu laksana penggembala dan hanya dia yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya.’.”
Dengan demikian, ia menegaskan, tegaknya Khilafah meniscayakan terbentuknya kesehatan mental pada semua rakyat dengan mewujudkan ketenteraman secara terus menerus sebagai terpenuhinya kebutuhan hidup dan nalurinya. [MNews/Ruruh]
