Rib’i bin Amir, Duta Islam Tepercaya

Rib’i bin Amir, Duta Islam Tepercaya

Penulis: Ummu Nashir N.S.

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — “Sesungguhnya Allah mengirim kami untuk mengeluarkan hamba dari penyembahan kepada hamba menuju penyembahan kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju kelapangannya, dan dari kezaliman berbagai agama kepada keadilan Islam.” Ini adalah perkataan luar biasa yang disampaikan oleh seorang sahabat mulia bernama Rib’i bin ‘Amir ats-Tsaqafi ketika ia menemui Rustum, panglima perang Persia. Pada saat itu, Rib’i merupakan salah satu utusan yang dikirim oleh Sa’ad bin Abi Waqash, panglima perang kaum muslim dalam Perang Qadissiyah.

Mengenal Rib’i bin Amir ats-Tsaqafi

Nama sebenarnya adalah Rib’i bin ‘Amir bin Khalid bin ‘Amar al-Usaidi al-‘Amrawi al-Tamimi. Ia terlahir dari kalangan bangsawan Arab. Ia sempat bertemu dengan Nabi saw. pada saat Khalifah Umar bin Khaththab mengirim surat kepada Abu Ubaidah al-Jarrah supaya menggerakkan tentaranya ke negeri Irak. Rib’i merupakan salah seorang panglimanya. Ia juga pernah menyertai pembukaan kota Damsyik dan Perang Nahawand.

Rib’i bin ‘Amir ats-Tsaqofi ra. adalah seorang mujahid dari kalangan sahabat mulia yang pemberani. Ia diutus menjumpai Rustum setelah sebelumnya Rustum meminta kepada kaum muslim untuk mengirimkan dutanya agar mengetahui maksud kedatangan kaum muslim ke negeri itu. Dari kata-kata yang diucapkannya, kita akan tahu bahwa Rib’i bukanlah orang sembarangan. Wajar jika Sa’ad memilihnya menjadi duta kaum muslim dalam menghadapi salah satu musuh besar umat Islam pada masa itu.

Kekuatan Iman Melahirkan Keberanian yang Tidak Tergoyahkan

Dalam sejarah Islam, selalu ada kejadian-kejadian yang mengandung makna luar biasa bagi umat Islam hari ini. Salah satunya adalah Perang Qadissiyah yang merupakan pertempuran besar antara tentara Islam dan Kerajaan Persia. Di tengah medan perang itu, seorang lelaki sederhana, bukan berpangkat tinggi, bukan pula berpakaian mewah, melangkah ke dalam istana musuh yang penuh kemegahan. Ia adalah Rib’i bin Amir.

Ketika tentara Islam mulai mengepung kawasan Persia, Rustum, sang panglima besar tentara Persia, mengirim utusan agar umat Islam mengirim duta atau wakil untuk bernegosiasi. Panglima tentara Islam lalu mengirim Rib’i bin Amir sebagai utusan. Ini bukan karena pakaian indahnya atau gelar jabatan tingginya, tetapi karena kekuatan iman dan ketegasan prinsipnya. Rib’i bin Amir bangkit dengan pakaian sederhana, baju besi yang lusuh, pedang yang terikat di pinggang, dan tombak di tangannya. Ia menunggang kuda sendirian tanpa iringan pengawal. Namun, kekuatan iman terhunjam kuat di dadanya yang membawanya datang menemui musuh besar umat Islam. Misinya untuk menyampaikan tiga pesan, yakni masuk Islam, tunduk dan patuh kepada Daulah Islam dengan membayar jizyah, atau diperangi.

Rib’i bin ‘Amir datang dengan mengendarai kuda pendek berambut panjang. Ia membawa pedang yang disarungkan pada lipatan baju usangnya, tombak, perisai, dan busur. Rib’i segera masuk istana musuh. Sementara itu, Rustum dan pasukannya menghiasi pertemuan itu dengan bantal-bantal yang dirajut benang emas, serta permadani-permadani yang terbuat dari sutra. Mereka mempertontonkan kepadanya berbagai perhiasan berupa permata yakut, permata mahal, dan perhiasan yang menyilaukan mata. Rustum sendiri memakai mahkota dan duduk di atas singgasana emasnya. Sebaliknya, Rib’i datang dengan segala kesederhanaannya, tetapi penuh kegagahan, keberanian, dan kemuliaan. Ia tiba dengan jiwa yang agung dan pribadi yang luhur. Ia menampakkan kemuliaannya sebagai seorang muslim yang Allah telah memuliakannya dengannya.

Ketika Rib’i telah sampai di dekat permadani, dikatakan kepadanya, “Turun!” Akan tetapi, ia tidak menghentikan kudanya. Setelah berada di atas permadani, barulah ia turun dari kudanya. Ia mengikat kudanya pada dua bantal yang disobekkan terlebih dahulu, lalu memasukkan tali kudanya ke lubang dua bantal yang sudah terkoyak itu. Tentara-tentara Rustum pun marah, tetapi tidak kuasa mencegahnya.

Selanjutnya mereka berkata lagi, “Letakkan senjatamu!” Rib’i pun menjawab dengan tenang, “Aku tidak pernah berniat mendatangi kalian, tetapi kalianlah yang mengundangku datang kemari. Jika kalian memerlukanku, biarkan aku masuk dalam keadaan seperti ini. Namun, jika kalian tidak mengizinkan, aku akan segera kembali.” Para prajurit Persia memberitahukan kepada Rustum tentang sikap Rib’i bin Amir sehingga akhirnya Rustum mengizinkan Rib’i menemuinya.

Rib’i bin Amir, Duta Islam yang Handal

Perang Qadissiyah yang terjadi pada 636 M merupakan momentum penentu antara kaum muslim dan Imperium Persia. Dalam pertempuran tersebut, kerajaan yang menganut agama Majusi itu mengalami kekalahan hebat. Peristiwa ini menyimpan jejak bersejarah yang patut menjadi pelajaran bagi umat Islam. Perang ini terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khaththab. Pasukan kaum muslim saat itu dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash.

Sebelum peperangan tersebut pecah, Sa’ad mengirimkan beberapa utusan untuk mendakwahi para elite Persia. Para delegasi tersebut datang silih berganti untuk menemui Rustum, sang jenderal Persia saat itu, hingga pihak musuh meminta kaum muslim mengirimkan utusannya kepada mereka. Seorang duta handal yang mendapat amanah tugas ini adalah Rib’i bin Amir.

Dalam kitab Al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ketika Rib’i bin Amir telah mendekati Rustum, maka para pengawalnya segera melindungi Rustum. Rib’i lalu duduk di lantai dan menancapkan tombaknya di permadani. Para pengawal Rustum pun berkata kepadanya, “Apa yang mendorongmu bersikap demikian?” Rib’i menjawab, “Kami tidak suka duduk di atas perhiasan kalian ini!”

Rustum mulai bernegosiasi. Ia bertanya, “Apa yang membawamu kemari?” Rib’i menjawab, “Sesungguhnya Allah mengirim kami untuk mengeluarkan hamba dari penyembahan kepada hamba menuju penyembahan kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju kelapangannya, dan dari kezaliman berbagai agama kepada keadilan Islam. Dia mengirim kami membawa agamanya untuk kami mengajak manusia kepada-Nya. Barang siapa yang menerimanya, kami akan kembali. Kami membiarkan dirinya dan negerinya untuk diatur olehnya, bukan oleh kami. Akan tetapi, barang siapa yang menolaknya, kami akan memeranginya selamanya sampai kami memperoleh janji Allah.”

Rustum bertanya, “Apakah janji Allah itu?” Rib’i menjawab, “Surga bagi orang yang meninggal dunia dalam memerangi mereka yang menolak itu dan kemenangan bagi yang masih hidup.” Rustum bertanya lagi, “Saya telah mendengar kata-kata Anda. Bolehkah Anda menunda tawaran ini agar kami berpikir dan Anda pun menunggu?” Rib’i menjawab, “Ya. Berapa hari yang kamu mau, sehari atau dua hari?” Rustum menjawab, “Tidak. Bahkan sampai kami mengirim surat kepada orang-orang berpengalaman di antara kami dan kepada para tokoh kami.”

Ketika itu Rustum mengadakan pendekatan kepada Rib’i dan mencoba menolak tawaran itu. Rib’i pun berkata, “Sesungguhnya termasuk hal yang ditetapkan Rasulullah saw. dan dipraktikkan oleh para pemimpin kami adalah tidak membiarkan musuh di luar pengetahuan kami dan tidak memberikan kesempatan kepada mereka lebih dari tiga hari. Kami akan datang kepada kalian tiga hari lagi. Silakan pikirkan urusan kamu dan mereka. Pilihlah satu di antara yang tiga setelah habis waktunya, yaitu memilih Islam sehingga kami akan membiarkan engkau dan negerimu, membayar jizyah sehingga kami terima darimu dan membiarkan dirimu, atau jika engkau tidak membutuhkan bantuan, kami akan membiarkan dirimu, tetapi jika engkau membutuhkannya, kami akan membelamu. Jika engkau memilih perang, kita perang pada hari keempatnya. Kami tidak akan memulainya antara hari ini hingga hari keempat, kecuali jika engkau memulainya. Aku menjadi penjaminmu terhadap para sahabatku dan semua orang yang nanti engkau lihat.”

Rustum berkata, “Apakah engkau pemimpin mereka?” Rib’i menjawab, “Bukan. Akan tetapi, kaum muslim seperti satu jasad antara satu dengan yang lainnya, yang bawah dari mereka melindungi yang atas.” Setelah itu, Rib’i pun meninggalkan ruang pertemuan di istana Rustum tersebut.

Akhirnya, Rustum segera mengumpulkan para petinggi kaumnya dan berkata kepada mereka, “Pernahkah kalian melihat seseorang yang perkataannya lebih mulia dan lebih baik dari orang ini?” Mereka berkata, “Jangan sampai engkau terpengaruh dengan ucapan anjing ini dan meninggalkan agamamu. Tidakkah engkau melihat bagaimana penampilannya? Bagaimana kumuh pakaiannya?” Rustum berkata kepada mereka, “Celakalah kalian! Janganlah hanya melihat kepada penampilan dan pakaiannya, tetapi lihatlah betapa cemerlangnya perkataan, pemikiran, dan jalan hidupnya. Sesungguhnya orang Arab tidak pernah merasa bangga dan begitu peduli dengan pakaian dan makanan. Namun, mereka benar-benar menjaga harga diri.”

Inilah kisah Rib’i, sahabat Rasulullah saw. yang menampakkan kegagahan dan kemuliaan seorang muslim di hadapan panglima musuh yang kafir. Dengan kekuatan prinsip yang lahir dari iman yang kukuh, ia berdiri di tengah kemewahan musuh tanpa rasa rendah diri. Ia tidak mengangkat kepala karena dunia. Ia hanya tunduk patuh kepada Allah Taala.

Ketika Rustum mencoba memancingnya dengan menawarkan harta, jabatan, dan pangkat jika tentara Islam mau berpaling, Rib’i tetap dengan pendiriannya. Tampak dari perkataannya, “Kami hanya akan berhenti setelah kamu menerima Islam, membayar jizyah, atau kami berperang dengan kamu hingga Allah memutuskan antara kami.” Masyaallah. Dalam sekejap, dunia menyaksikan bahwa kehebatan bukan datang dari pakaian mahal atau istana megah, tetapi dari iman di dalam dada seorang muslim. Rib’i mengajarkan bahwa kemuliaan Islam tidak terletak pada harta atau angka, tetapi pada keberanian menyampaikan kebenaran walaupun di hadapan musuh yang menguasai dunia.

Peperangan Qadissiyah bukan tercetus karena Islam mau memaksa manusia memeluk agama dengan pedang. Akan tetapi, perang ini meletus karena imperium Persia telah lama menjadi kekuasaan zalim yang menindas rakyat, merampas hak-hak kemanusiaan, dan meluaskan kekuasaan mereka melalui kezaliman. Islam datang bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk membebaskan manusia dari kezaliman sesama manusia kepada keadilan di bawah pemerintahan Allah. Perang Qadissiyah hanyalah satu bab dalam sejarah ketika kebenaran ditegakkan setelah jalan perundingan dan perdamaian tidak lagi dihormati oleh musuh.

Perang Qadissiyah akhirnya menjadi saksi kejatuhan Imperium Persia. Akan tetapi, sebelum pedang bertemu pedang, sebelum panah dilontarkan, kemenangan itu sebenarnya sudah bermula di dalam hati. Tepatnya ketika seorang lelaki biasa bernama Rib’i bin Amir, sang Duta Islam berdiri tegak di hadapan Rustum dan dunia. Ia membawa panji Islam dengan kata-kata yang menggegarkan langit dan bumi.

Pelajaran Berharga

Kisah Rib’i bin ‘Amir ini memberi pelajaran yang luar biasa bagi kita, betapa agungnya Islam dengan segala prinsip-prinsipnya bagi kehidupan manusia. Perhatikanlah sosok seorang muslim yang gagah dan kuat dengan Islam yang membentengi dirinya. Islam telah menjadikannya manusia mulia. Di dalam dirinya tertanam prinsip bahwa orang-orang kafir adalah orang-orang yang hina di hadapan Allah. Oleh karenanya, kita harus terus memperkuat keimanan sehingga senantiasa berani menyuarakan kebenaran dan percaya diri ketika menghadapi kekufuran dalam bentuk apa pun.

Dari peristiwa ini, kita pun akan makin memahami bahwa jihad harus selalu ada. Tanpa jihad, umat manusia akan selalu tenggelam dalam kesyirikan dan kekufuran ketika mereka berada di bawah kekuasaan kafir. Pada kondisi seperti ini, dakwah Islam akan dihalang-halangi oleh kekuasaan kafir bersenjata. Dengan demikian, solusinya adalah jihad sehingga din Islam akan tersebar, manusia bertauhid, serta melakukan penyembahan yang sesungguhnya kepada Allah Swt. setelah sebelumnya diperbudak menyembah kepada sesama hamba.

Kisah Rib’i merupakan cerminan seorang manusia yang bebas dan utuh. Kepribadian dan mentalnya sama sekali tidak terpenggal oleh tekanan-tekanan di luar dirinya. Tidak ada pertentangan antara perkataan dan batinnya. Ia menggambarkan sosok manusia yang bebas dari segala bentuk tirani dan penindasan manusia. Dengan memeluk Islam, ia merasa merdeka dari segala macam tirani. Dari sikap dan prinsipnya, ia menemukan kemerdekaan dan kebebasan sejati. Ia bukan hanya manusia merdeka dan utuh, tetapi juga membawa misi agung Islam berupa memerdekakan manusia dari segala macam bentuk tirani dan penuhanan kepada manusia.

Tidak ada hal yang lebih utama, kecuali Allah Taala. Orang terbaik di sisi Allah adalah mereka yang paling bertakwa. Rib’i juga membawa misi Islam yang tidak kalah penting berupa keluasan, ketenteraman, dan keadilan. Perjuangan dan pengorbanannya sebagai muslim dirajut dengan semangat memerdekakan manusia dari perbudakan manusia, meluaskan kesempitan fisik dan maknawi duniawi mereka, serta menegakkan keadilan hingga kedamaian dan kebahagiaan terpancang tegak.

Semoga Allah hadirkan kembali generasi muslim seperti Rib’i bin Amir di tengah umat kini. Generasi yang benar-benar hanya takut kepada Allah, tidak tunduk kepada kekayaan maupun kekuasaan, dan tidak menjual agamanya untuk dunia yang sementara. Dalam situasi hari ini, mudah menggadaikan prinsip hidup. Kisah Rib’i menjadi cermin bahwa seorang insan dengan iman yang kukuh dan keberanian yang luar biasa mampu menyampaikan kebenaran dan kemuliaan Islam kepada musuh yang kuat dengan kekufuran, sekaligus membuat musuh takjub. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *