Muslimah News, NAFSIYAH — Komunikasi yang baik adalah salah satu kunci keharmonisan rumah tangga. Komunikasi juga merupakan salah satu cara untuk mengukur kualitas rumah tangga. Oleh karena itu, seorang istri butuh ilmu untuk berkomunikasi karena apabila komunikasi dilakukan dengan tepat, rumah tangga akan bahagia.
Berbicaralah dengan lisan yang lembut pada suami, terutama saat memberikan nasihat. Pahami beberapa hal berikut ini.
Pertama, suami ialah manusia biasa bukan makhluk sempurna, istri pun tidak sempurna. Ia tidak mungkin lepas dari kesalahan dan kekhilafan. Perasaannya juga berpotensi terluka oleh istrinya. Oleh karenanya, jangan memaksakan kesempurnaan dari suami. Jangan pula menuntut suami agar mudah memaafkan jika istri pun tidak mudah memaafkan. Salah satu keburukan istri ialah ketika ia jarang meminta maaf pada suaminya dan salah satu keburukan suami ialah ketika ia tidak berbuat baik pada istrinya.
Nabi saw. pernah berkata, “Sebagaimana kamu memperlakukan sebagaimana itu pula kamu diperlakukan.”
Kedua, peran istri bukan hanya melahirkan dan mendidik anak-anak, tetapi juga berperan sebagai partner terbaik suaminya. Istri juga mendorong suaminya dalam ketaatan dan kebaikan dengan makruf, yaitu melakukan sesuatu yang disenangi suaminya. Jika sudah begini, membangun komunikasi antara suami istri menjadi lebih mudah.
Nabi saw. berkata, “Tidak ada simpanan yang terbaik dalam kehidupan seorang lelaki kecuali seorang laki-laki memiliki seorang istri yang membantu kehidupannya dalam persoalan akhiratnya.”
Ketiga, pada dasarnya setiap suami membawa dua hal, yaitu
1. bunga indah yang membuat istri banyak bersyukur. Misalnya, suami yang membawa nafkah halal dan selalu mengutamakan kepentingan keluarga. Suami yang baik dan bertanggung jawab seperti ini, tentu wajib disyukuri;
2. membawa luka yang membuat istri banyak bersabar (bagian dari ujian). Misalnya, suami tidak pernah membawa nafkah, suka memukul, dll. Ini merupakan kehendak Allah untuk menguji manusia. Bersabarlah dan berikanlah nasihat pada suami dengan cara yang terbaik.
Imam Syafi’i pernah berkata, “Kalau kamu menasihati aku di tengah keramaian manusia maka jangan salahkan aku jika aku tidak mengikuti apa yang kamu sampaikan.”
Maksud beliau, sampaikanlah nasihat dengan cara yang benar dan makruf. Suami tidaklah berhati batu, bisa jadi istri yang salah dalam metode komunikasinya. Untuk itu jangan cepat menyimpulkan bahwa suaminya buruk, berhati batu, sulit diajak bicara, dll. Lantas apa yang kita lakukan sebagai istri?
Pertama, pastikan nasihat yang hendak disampaikan berasal dari hati, tidak berdasarkan atas kepuasan emosi saja. Sampaikanlah dengan ikhlas dan biarkan kuasa Allah bekerja karena apa yang datang dari hati akan sampai ke hati pula.
Firman Allah Swt., “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS Al-Bayyinah: 5)
Kedua, berilah nasihat dengan sabar dan berulang, tidak langsung keseluruhan dalam satu waktu. Jadilah orang yang paling lapang terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain. Jangan mudah mengaitkan satu masalah dengan masalah-masalah yang lainnya.
Bukankah Allah menurunkan Al-Qur’an secara bertahap selama 23 tahun? Ulama salaf mengatakan hal itu untuk menjaga perasaan kebaikan manusia. Manusia pun tidak bisa menerima nasihat sekaligus banyak. Begitu pula dengan nasihat. Tidak bisa serta merta diberikan secara utuh dalam waktu pada suami. Butuh jeda agar mudah diterima.
Ketiga, pastikan suami adalah orang yang pertama didoakan setelah mendoakan orang tuanya. Pendapat beberapa ulama menyatakan suami ialah orang yang pertama lebih dahulu didoakan setelahnya anak dan orang tuanya.
Jika komunikasi masih buruk dengan suami, sudah sesering apa engkau mendoakan suamimu? Mendoakan kesehatannya, kemudahan dalam setiap perkara yang dilakukan suaminya, dan dalam menunaikan tanggung jawabnya sebagai qawwam.
Sudahkah kita mendoakan suami? Jangan-jangan tuntutan kita yang sering tertuju pada suami sementara jarang mendoakan suami.
Sesungguhnya suami lebih berhak mendapatkan doa terbaik dan di waktu yang mustajab dari istri. Karena suamilah yang bertanggung jawab atas segala hal yang dilakukan oleh istrinya. Suamilah yang akan ditanya oleh Allah Swt pertama kali atas semua kebutuhan yang dipenuhinya pada istri dan anak-anaknya. Lalu mengapa engkau sulit berlaku makruf pada suami duhai para istri?
Cinta suami pada ibunya ialah cinta takzim, sedangkan cinta suami pada istrinya ialah cinta rahmat. Tidak perlu dibanding-bandingkan di antara keduanya. Mengapa suami lebih mencintai dan taat pada ibunya? Bisa jadi karena ibunya lebih banyak mendoakan anak laki-lakinya dari pada doa istri pada suaminya.
Ibu (mertua) ialah orang yang pernah mengandung suami kita. Pernah berdegup jantungan berbarengan dengan suami kita. Orang yang sering mendahulukan kebaikan anaknya daripada dirinya sendiri ialah seorang ibu. Kita bertanya mengapa suami selalu baik pada ibunya daripada dirinya? Jawabannya karena ibunya lebih sering mendoakan anak lelakinya daripada kita. Doa itulah menjadi sebab hati suami lebih condong pada ibunya.
Tanda cinta itu ialah mendoakan. Adakah itu pada hati kita selaku istri?Ataukah kita hanya menuntut apa yang kita ingingkan? Kita tak pernah meraba sebelum mengerjakan.
Menikah itu bukan perkara siapa kalah dan menang. Menikah itu memahami hak dan kewajiban agar membawa keberkahan. Semoga kita sebagai istri bisa menjalin komunikasi dengan baik pada suami. Tidak sibuk menuntut tapi mudah untuk taat pada suami. Tidak banyak memprotes dan berupaya mengubah diri menjadi lebih baik untuk suami. Allah berkahi rumah tangga kita, sakinah, dan berkumpul kembali di janah-Nya. Amin. [MNews/Rndy]

Maasyaalloh
Tanda cinta adalah mendoakan