[Editorial] Peringatan Maulid Nabi ﷺ, Jangan Cuma Basa-basi

[Editorial] Peringatan Maulid Nabi ﷺ, Jangan Cuma Basa-basi

Muslimah News, EDITORIAL — Tanggal 12 Rabiulawal memiliki makna tersendiri bagi umat Islam. Pada momen tersebut, sekira 53 tahun sebelum hijriah, lahir sosok mulia yang berhasil mengubah sistem kehidupan manusia dan masyarakat yang sebelumnya penuh kegelapan dan kebodohan menjadi sistem kehidupan dan masyarakat yang penuh cahaya dan ketinggian peradaban. Ialah Baginda Rasulullah ﷺ. Hingga kini setiap tahunnya, momen kelahiran tersebut dirayakan jutaan hingga miliaran umat Islam dunia dengan berbagai cara dan tradisi.

Di Indonesia antara lain dilakukan dengan mengadakan acara tablig akbar yang di dalamnya ada selawatan serta dibacakan kitab Al-Barzanji karya Syekh Ja’far bin Hasan al-Barzanji berisi prosa dan syair perjalanan hidup serta silsilah Nabi ﷺ. Di Jawa, tepatnya di Yogyakarta dan Solo, ada tradisi yang disebut dengan grebeg maulud dan sekatenan, yakni mengarak gunungan berupa makanan hasil bumi dari keraton yang dibagikan kepada warga. Di Cirebon, ada tradisi panjang jimat, yakni kirab benda pusaka dan pembacaan riwayat hidup Nabi ﷺ di Keraton.

Di Gorontalo, ada tradisi walima, yakni memasak kue tradisional yang disusun tinggi di atas tolanggang lalu diarak ke masjid disertai zikir (dikili). Di Banten, ada panjang mulud, berupa tradisi menghiasi makanan dan benda-benda pusaka. Di Aceh ada meugang, yakni memasak daging untuk merayakan hari besar dan menjadikan bahasan tentang sirah Nabi ﷺ sebagai konten utama pada acara-acara pengajian akbar yang berjalan selama beberapa bulan. Juga di daerah-daerah lainnya.

Cinta Nabi, tetapi Penuh Ironi

Semua perayaan, termasuk tradisi Maulid Nabi ﷺ, diklaim dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Swt. atas kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Juga dalam rangka menunjukkan rasa cinta, meneladan akhlak mulia, dan mengenalkan ajaran Islam yang dibawanya kepada umat manusia. Ironisnya, selama ini acara mauludan tampak lebih kental sebagai agenda seremonial. Bahkan, saat acara masih ramai digelar, kehidupan umat Islam berjalan sangat bertentangan dengan apa yang Rasulullah ﷺ ajarkan.

Boleh jadi dari aspek ajaran ibadah atau ritual (hablumminannas), umat Islam masih banyak yang menjalankan ajaran Rasul. Mereka salat, saum, membayar zakat, bahkan menunaikan ibadah haji. Namun, pada aspek hablumminnafsihi (akhlak, makanan, minuman, dan pakaian), umat Islam banyak yang tidak peduli lagi ajaran Nabi ﷺ. Lihat saja, betapa problem dekadensi moral generasi kian memprihatinkan. Pergaulan bebas, perilaku menyimpang, kekerasan dan kriminalitas, menjadi masalah yang makin merajalela dengan level yang kian mengerikan.

Begitu pun urusan makanan dan minuman, tidak sedikit yang abai soal halal-haram. Kalaupun mereka peduli, tidak mudah bagi umat untuk benar-benar bisa membedakan antara yang halal dan yang haram karena kesyubhatan begitu menyebar luas. Sementara itu, terkait pakaian, lumrah dalam masyarakat kita kebiasaan mempertontonkan aurat yang diharamkan Islam. Padahal, Baginda Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa seluruh tubuh perempuan adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan; sedangkan aurat laki-laki adalah bagian tubuh antara lutut dan pusar.

Begitu pula pada aspek hablumminannas (hubungan sosial kemasyarakatan), banyak risalah yang Rasulullah ﷺ bawa malah dicampakkan oleh umat Islam. Risalah Rasulullah ﷺ kalah oleh ajaran Jacob Holyoake, Voltaire, Marsilius, Dante Alighieri, Montesquieu, John Locke, JJ. Rousseau, Abraham Lincoln, Adam Smith, David Ricardo, Thomas Malthus, dan para pemikir Barat lainnya.

Kita juga bisa saksikan dalam aspek pemerintahan, umat Islam lebih memilih sistem demokrasi yang menempatkan manusia sebagai pembuat hukum, dibandingkan Khilafah sebagai sistem yang Rasul wariskan. Sebagian tidak kenal dengan Khilafah, bahkan tidak sedikit yang membenci dan menentang perjuangannya. Padahal, para ulama menyebut Khilafah sebagai tajul furudh (mahkota kewajiban) karena hanya dengan Khilafah, syariat Islam bisa benar-benar diterapkan secara kafah.

Mereka pun begitu bangga dengan nasionalisme yang sejatinya dicekoki imperialis Barat sebagai strategi perang guna melumpuhkan persatuan umat Islam di bawah satu kekhilafahan. Sampai-sampai mereka rela menumpahkan darah demi menjaga batas negara beserta masing-masing benderanya, padahal sebelumnya mereka dipersatukan oleh satu akidah, satu bendera, dan satu kepemimpinan. Wajar jika sekalipun jumlah mereka lebih dari 2,7 miliar jiwa, tetapi mereka menjadi entitas yang terpecah dan begitu lemah. Sekadar untuk menolong warga Palestina—khususnya Gaza—dari kezaliman 10 juta warga entitas Yahudi Zion*s saja, umat Islam tidak mampu menunjukkan kekuatannya.

Lalu dalam perekonomian, diterapkan sistem ribawi sebagai pilar penyangganya. Padahal, Islam sangat keras mengharamkan riba yang dampaknya memang terbukti sangat menghancurkan. Dalam pergaulan sosial, kehidupan umat Islam juga kental dengan perilaku permisif liberal. Tidak heran jika negara dan masyarakat mandul dalam mencegah kerusakan moral. Begitu pun dalam aspek hukum, berlaku UU warisan penjajah yang nyata-nyata gagal mengeliminasi kejahatan, gagal menciptakan keadilan dan ketenteraman, bahkan malah turut berperan dalam menumbuhsuburkan kemaksiatan.

Pahamilah, Islam Ajaran Nabi Adalah Sebuah Ideologi

Sungguh, betapa wajah umat hari ini sangat jauh dari potret generasi dan umat yang berhasil dibina oleh Baginda Rasulullah ﷺ, yakni generasi yang berkepribadian Islam yang tinggi, serta kental visi-misi hidup yang berhasil melahirkan peradaban cemerlang selama belasan abad.

Visi-misi tersebut adalah berupa keyakinan dan pemahaman kuat tentang tujuan penciptaan yang melekat pada diri individu setiap muslim: menjadi hamba Allah Swt. yang wajib tunduk patuh dan taat secara total kepada Pencipta, menjadi khalifah yang mendapat amanah menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia, sekaligus memakmurkan dunia dengan menerapkan syariat Islam kafah.

Visi-misi inilah yang menjadi rahasia kekuatan Negara Islam yang Rasulullah ﷺ bangun dan warisi kepada para sahabat dan generasi setelahnya, yakni berupa sistem kekhilafahan. Negara ini mampu tampil sebagai negara yang bervisi global, kuat, berdaulat, mandiri/independen. Bahkan, hanya dalam waktu singkat, mampu tampil sebagai negara digdaya dan adidaya hingga mengalahkan negara adidaya sebelumnya, yakni Persia dan Romawi.

Masalahnya, sudah lama ajaran Islam ini “dikebiri”. Barat menyadari bahwa rahasia kekuatan umat Islam terletak pada pemahaman Islam ideologi, yakni Islam yang bukan hanya mengajarkan urusan ritual dan moral, melainkan juga mengatur masalah poleksosbudhankam. Dengan kata lain, Islam yang bukan hanya mengandung aspek-aspek konseptual (fikrah), melainkan juga mengatur cara konsep itu ditegakkan (thariqah).

Walhasil, Islam tidak mengenal pemisahan agama dari kehidupan atau memisahkan urusan agama dari negara (sekuler). Islam justru menjadikan keduanya seperti dua sisi mata uang. Dalam Islam, negara atau kekuasaanlah yang menjadi pilar penegak syariat Islam kafah hingga dengannya umat Islam mampu tampil menjadi umat yang mulia (khairu ummah).

Justru saat umat Islam mulai menenggak racun sekularisme yang Barat tebarkan, termasuk seluruh pemikiran turunannya. Umat Islam kehilangan jati dirinya sebagai hamba dan khalifah yang punya visi global sekaligus kehilangan rahasia kekuatannya. Terlebih ketika Barat berhasil meruntuhkan negara milik kaum muslim, yakni Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki pada 1924 melalui tangan terlaknat Mustafa Kemal. Nyaris seluruh ajaran Nabi ﷺ terkait pengaturan kehidupan—kecuali sebagian urusan ibadah, pesan-pesan moral, dan hukum-hukum keluarga—digantikan oleh hukum-hukum buatan manusia dengan tagline sekularisasi total dan penghapusan semua hal berbau Islam demi apa yang mereka sebut Turki modern.

Sejak saat itulah, peta politik dunia Islam berubah drastis. Umat Islam pun terperosok dalam jurang kehinaan yang amat sangat. Mereka kehilangan posisinya sebagai umat terbaik dan pemegang kepemimpinan global. Bahkan, mereka menjadi bulan-bulanan negara besar, berposisi sebagai pengekor, terpecah belah, dan sumber daya alamnya dirampok hingga tidak tersisa bagi umat Islam, kecuali kelemahan dan kepedihan.

Inilah rupanya esensi pernyataan Menlu Inggris Lord Curzon sesaat setelah penghapusan Khilafah. Ia berkata, “Pokok permasalahannya adalah Turki (sebagai pusat Negara Islam) telah hancur dan tidak akan pernah bangkit lagi karena kita telah menghancurkan kekuatan spiritualnya: Khilafah dan Islam.”

Mencintai Nabi ﷺ pada Era Kini

Kondisi menyedihkan itu terus berjalan hingga sekarang, padahal tiap tahunnya perayaan Maulid Nabi ﷺ nyaris tidak pernah terlewatkan. Di mana-mana umat Islam mengumandangkan selawat dengan harapan akan beroleh syafaat dan mendapat pengakuan sebagai pengikut setia Nabi Muhammad ﷺ. Mereka agungkan sosoknya yang begitu mulia dengan harapan akan mendapat kesempatan mereguk air telaga Al-Kautsar, telaga milik Nabi Muhammad ﷺ yang diperuntukkan khusus untuk memuaskan dahaga umat Islam yang beriman saat berada di Padang Mahsyar.

Pertanyaannya, mungkinkah semua kemuliaan itu akan diraih oleh umat Islam, sedangkan ajaran warisan Rasulullah ﷺ dengan sadar dicampakkan? Layakkah mengaku mencintai Nabi ﷺ, sedangkan risalahnya diabaikan?

Memperbanyak membaca selawat tentu merupakan sebuah kebaikan, bahkan diperintahkan. Dalam QS Al-Ahzab ayat 56 Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” Begitu pun membaca sirah Rasul dan memahami perjalanan dakwah serta perjuangannya, tentu akan memberi hikmah yang besar.

Hanya saja, membaca selawat dan mendalami kisah hidup Rasulullah ﷺ akan menjadi seremonial belaka jika tidak didorong rasa cinta yang benar. Coba lihat fakta saat ini, meski tiap tahun Maulid Nabi diperingati secara besar-besaran, kondisi umat Islam tetap saja tidak tergerak untuk melakukan perubahan, yakni berjuang sungguh-sungguh agar ajaran Islam yang Rasulullah ﷺ bawa dapat kembali tegak dalam seluruh aspek kehidupan.

Sungguh, hakikat mencintai Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar rasa rindu atau ucapan lisan. Mencintai Nabi ﷺ harus dibuktikan dengan amal, berupa kesiapan untuk taat secara mutlak, mengikuti segala yang diajarkannya, serta menjadikan beliau sebagai teladan utama melebihi cinta kepada diri sendiri, harta, dan keluarga.

Allah Swt. berfirman dalam QS At-Taubah ayat 24, “Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Dengan demikian, wajib dan penting bagi umat Islam menyadari esensi mencintai Nabi ﷺ yang disandingkan dengan mencintai Allah Swt. dan jihad fisabilillah. Berbicara mencintai Nabi ﷺ pada konteks hari ini sejatinya berbicara tentang urgensi dan kewajiban mengikhtiarkan perubahan sistem rusak menuju sistem Islam, sekaligus melawan hegemoni kekufuran dengan meneladan perjuangan Rasulullah ﷺ saat mengubah masyarakat Makkah yang jahiliah menuju masyarakat Islam.

Itulah yang pernah diikhtiarkan Sultan Shalahudiin al-Ayuubi tatkala pertama kali menghidupkan peringatan Maulid Nabi. Dengan cara itu, beliau berupaya membangkitkan kembali semangat jihad umat Islam dan memobilisasi kekuatan mereka dengan menguatkan kembali kecintaan pada Nabi ﷺ. Saat itu, kondisi umat Islam tengah berada di titik terendah akibat terpecah belah dan kalah dalam Perang Salib, hingga Masjidilaqsa dan Yerusalem jatuh ke tangan pasukan kafir.

Walhasil, rekomendasi bagi umat Islam hari ini tidak lain adalah untuk menjadikan peringatan Maulid Nabi ﷺ sebagai momentum membangkitkan kesadaran umat Islam akan jati dirinya sebagai umat terbaik. Akan tetapi, untuk meraih kembali predikat ini, perlu perjuangan untuk menerapkan syariat Islam secara total dalam institusi politik bernama Khilafah Islam. Caranya adalah dengan menapaki jalan dakwah Rasulullah ﷺ yang bersifat pemikiran dan politis ideologis, serta dilakukan secara berjemaah dan tanpa kekerasan. [MNews/SNA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *