Mau Dibawa ke Mana Arah Pendidikan Tinggi?

Mau Dibawa ke Mana Arah Pendidikan Tinggi?

Penulis: Dr. Liliek Susilowati, M.Si.

Muslimah News, FOKUS — Tuntutan terhadap pendidikan tinggi untuk mencetak lulusan yang siap kerja banyak diberitakan dengan berbagai narasi, antara lain Perguruan Tinggi Dituntut Adaptif, Kesiapan Kerja Lulusan Jadi Tantangan Mendesak1, Banyak Sarjana Belum Siap Kerja, Orang Tua Cari Kampus yang Siapkan Karier2, dan Kemnaker: Lulusan Siap Kerja Solusi Jawab Kebutuhan Industri3.

Mengapa logika seperti di atas terjadi dan makin menguat pada saat ini? Hal itu dikarenakan cara pandang kehidupan manusia saat ini adalah berorientasi materi dan kemanfaatan. Cara pandang ini linier dengan cara pandang sistem yang diadopsi seluruh dunia hari ini, yaitu kapitalisme sekularisme yang menjadikan para kapital mendominasi kehidupan dan negara, serta menjadikan agama tidak dibolehkan ikut mengurusi kehidupan. Kapitalisme tidak mempunyai konsep mengurusi rakyat dengan memberikan layanan kebutuhan pokok komunal, yaitu pendidikan, kesehatan, dan keamanan secara gratis, termasuk pembiayaan kebutuhan yang sumbernya dari kepemilikan umum, seperti listrik, air, dan bahan bakar.

Belum lagi kebutuhan pokok individu seperti sandang, pangan, dan papan yang cenderung didominasi oleh korporasi besar dan kelompok pemodal yang menguasai rantai produksi, distribusi, hingga pasar. Empat perusahaan besar menguasai lebih dari 75% perdagangan gandum dunia dan enam perusahaan menguasai sekitar 75% pasar pestisida global.4 Akibat didominasi oleh swasta yang orientasinya adalah keuntungan, harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, apalagi papan (rumah), harganya makin tidak terjangkau oleh masyarakat secara umum.

Semua kebutuhan itu harus ditanggung secara mandiri oleh rakyat. Akibatnya, semua aktivitas diorientasikan untuk mendapatkan materi dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok. Faktor yang tidak kalah penting lainnya adalah bahwa kapitalisme sekularisme tidak membedakan antara kebutuhan dan keinginan, keduanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dipenuhi, akibatnya upaya pemenuhannya memerlukan banyak biaya.

Dari cara pandang di atas, angka lulusan yang terserap di dunia kerja dan kolaborasi dengan industri/pengguna menjadi salah satu ukuran keberhasilan yang harus dipenuhi oleh perguruan tinggi dan berpengaruh pada penetapan akreditasinya. Akhirnya orientasi perguruan tinggi dipersempit hanya sebatas untuk mengisi tenaga kerja di sektor usaha dan industri. Lulusannya dapat dianalogikan seperti sekrup-sekrup dari mesin-mesin kapitalisme.5 Apakah jika tuntutan pada perguruan tinggi di atas dipenuhi, akan dapat menurunkan angka pengangguran atau angka kemiskinan? Mari kita bahas.

Pendidikan Salah Arah

Berbicara tentang lapangan kerja hari ini, lulusan perguruan tinggi harus bersaing untuk mendapatkan pekerjaan, sedangkan ketercukupan lapangan kerja tidak dikaji. Banyaknya lulusan perguruan tinggi tidak sebanding dengan banyaknya lapangan kerja yang tersedia.

Namanya persaingan, tentu ada yang menang dan ada yang kalah. Banyaknya lulusan yang kalah dinisbahkan kesalahannya pada perguruan tinggi, tentu ini nalar yang salah. Sehebat apa pun kampus-kampus mencetak lulusannya, logika persaingan dalam sistem kapitalisme ini tetap berjalan. Alhasil, selalu ada yang kalah bersaing.

Mereka yang tidak terserap di dunia kerja (yang kalah), hitungan angkanya dan pertanggungjawabannya kembali ke kampus. Akibatnya perguruan tinggi diaruskan oleh negara untuk mengubah orientasi kurikulumnya untuk menjawab kebutuhan pasar. Sedangkan kebutuhan pasar yang dimaksud adalah untuk memenuhi kriteria karyawan industri yang dimiliki oleh oligarki.

Hal ini tampak dengan adanya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang merupakan kebijakan pendidikan tinggi yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk memberi mahasiswa kesempatan belajar di luar program studi agar lebih siap menghadapi dunia kerja dan perubahan sosial. Semua ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dalam sistem kapitalisme sekularisme ini salah arah.

Tanggung Jawab Negara

Perguruan tinggi bukan pihak yang bertanggung jawab terhadap ketersediaan lapangan kerja. Pemastian kecukupan lapangan kerja merupakan tugas negara. Di sisi lain, negara wajib menjamin kebutuhan pokok komunal rakyat secara gratis dan memastikan ketercukupan kebutuhan pokok individu (sandang, pangan, dan papan).

Dari mana biaya negara untuk mencukupi itu? Negara dapat mengambil dari hasil pengelolaan sumber daya alam yang melimpah yang hasilnya digunakan untuk kebutuhan rakyat, karena hakikatnya sumber daya alam merupakan kepemilikan umum, sebagaimana diperintahkan Allah dan Rasul-Nya dalam hadis,

اَلْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ في ثلَاَثٍ فِي الْكَلَإِ وَالْماَءِ وَالنَّارِ

“Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Dengan begitu, beban rakyat tidak berat sehingga mereka mudah menjalankan perannya masing-masing secara optimal. Para laki-laki mencari nafkah dan para perempuan menjalankan tugasnya sebagai ibu dan pengatur rumah. Para anak mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya dan terjadi sinergi yang baik antara pihak sekolah dan orang tua.

Di sisi lain, negara mempunyai tanggung jawab membangun suasana yang kondusif bagi terwujudnya sinergi tersebut. Negara harus menjaga media informasi dari berbagai racun berupa pornografi, flexing, membicarakan aib, dan yang lainnya. Sebaliknya, negara memberikan suasana keimanan, akademis, dan berlomba-lomba dalam kebaikan dalam media informasi.

Fungsi dan Tujuan Pendidikan Tingi dalam Islam

Fungsi dan tujuan pendidikan tinggi adalah mencetak generasi Islam penjaga peradaban mulia. Dari perguruan tinggi tercetak generasi atau lulusan yang peduli masalah umat, serta memiliki kemampuan sains dan teknologi, maupun kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul di negaranya serta memiliki kepedulian yang tinggi pada masyarakat di sekitarnya. Hal ini hanya akan terwujud jika negara menjalankan perannya sebagaimana yang Allah Taala perintahkan, yaitu sebagai pengurus rakyat yang sesuai dengan aturan (syariat) yang Allah turunkan, menjaga keamanan rakyat dari berbagai kerusakan, serta memastikan diri sebagai negara yang berdaulat penuh.

Perguruan tinggi mendapatkan input dari pendidikan pada level sebelumnya, yaitu lulusan setingkat SMA, demikian juga SMA mendapat input dari lulusan SMP, dan seterusnya dari SD dan TK, hingga anak yang lahir kualitasnya dipengaruhi kualitas kedua orang tuanya. Dari sini dapat dilihat, lingkaran yang dapat menghasilkan output perguruan tinggi yang unggul, membutuhkan penanganan manusia pada semua level dan ini hanya bisa dilakukan jika manusia menggunakan aturan dari Zat yang menciptakan manusia dan alam semesta. Allah sajalah yang Maha Tahu bagaimana manusia bisa menjadi manusia berkualitas yang sesungguhnya.

Gambaran fungsi dan tujuan perguruan di atas sudah pernah dijalankan oleh kaum muslim di level negara, yaitu Khilafah Islamiah, sebagai penerus dari Daulah Islam di Madinah yang dipimpin Rasulullah. Kurikulum pendidikan dari semua jenjang pendidikan dalam Khilafah Islamiah berbasis akidah Islam, bertujuan mencetak generasi berkepribadian Islam dan siap menghadapi tantangan hidup dengan penguasaan sains teknologi yang tinggi.

Kurikulum pendidikan pada semua level dirancang oleh negara dengan melibatkan berbagai ahli ilmu dan ulama. Kurikulum pendidikan dalam sistem Islam ditopang oleh kekuatan politik dan ekonomi Islam. Dengan politik Islam, negara menjaga agar generasi terdidik tidak terkontaminasi dengan gaya berpikir dan berperilaku asing sehingga target membentuk kepribadian Islam tidak terganggu. Dengan sistem ekonomi Islam, negara memberikan pendidikan pada semua level secara gratis dan dengan kualitas sarana prasana terbaik. Negara juga memastikan lingkungan masyarakat dalam suasana yang kondusif untuk terwujudnya tujuan pendidikan.

Dari sistem pendidikan dan semua perangkat pendukung di atas, lahirlah sosok-sosok berkualitas. Pada level SMA, siswa sudah siap menghadapi kehidupan, baik dari segi mental maupun keterampilan dalam kehidupan. Artinya, mereka yang statusnya alumni setingkat SMA sudah mempunyai kesanggupan untuk menghadapi kehidupan, termasuk memberikan nafkah dan menjadi suami  bagi laki-laki, sedangkan yang perempuan siap menjalankan peran sebagai ibu dan pengatur rumah.

Pendidikan tinggi mendapatkan input berupa calon mahasiswa yang berkualitas dari jenjang SMA. Mereka yang masuk ke pendidikan tinggi adalah mereka yang menginginkan lanjut studi dan memiliki kemampuan. Kurikulum pendidikan tinggi dirancang oleh negara untuk menjawab tantangan dan kebutuhan negara dan rakyat. Temuan dari para peneliti diimplementasikan dan dihilirisasi oleh negara, bukan oleh swasta.

Akibatnya, rakyat dapat menikmati hasil para intelektual dengan murah atau bahkan gratis. Sedangkan para intelektul secara materiel mendapatkan hadiah dari negara, dan secara spiritual intelektul mendapatkan amal kebaikan yang mengalir padanya. Inilah suasana yang ada antara rakyat, intelektual, dan negara. Terjadi hubungan yang sinergis di antara ketiganya yang fondasinya adalah akidah dengan visi akhirat.

Dalam Islam, negara berperan kuat dalam memastikan setiap individu memperoleh ilmu. Kemandirian dan visi negara menjadi kunci dalam menguasai ilmu pengetahuan serta merancang sistem pendidikan berkualitas. Sistem politik negara mengarahkan pengelolaan sumber daya alam dan manusia untuk mencapai tujuan politiknya. Negara membangun sistem penelitian dan pengembangan yang terintegrasi dengan lembaga penelitian, departemen-departemen, dan perguruan tinggi yang dikendalikan, didorong, dan dibiayai penuh oleh negara.

Dari sistem Islam terbukti telah lahir banyak ilmuawan dari berbagai bidang, antara lain Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi di bidang matematika dan astronomi, Ar-Razi di bidang kedokteran dan kimia, Ibnu al-Haytham di bidang fisika dan optik, Al-Biruni di bidang geografi dan astronomi, Abbas Ibn Firnas di bidang Teknik dan penerbangan, dan masih banyak lagi. Mereka pada umumnya merupakan polymath, yaitu ahli di berbagai bidang ilmu sekaligus.

Dorongan para ilmuwan dalam melakukan risetnya adalah dorongan keimanan, bukan dorongan materi. Hal ini tecermin dari wahyu pertama yang diturunkan Allah Taala, ”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-Alaq [96]: 1—5).

Motivasi mencari ilmu bertebaran dalam hadis Rasulullah ﷺ di antaranya, ”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR Ibnu Majah).

Dengan sistem pendidikan Islam, tercetak generasi tangguh dan bertakwa pada Allah Swt. dengan berbagai level keilmuan yang dapat mengisi seluruh lini kehidupan, hingga meninggikan peradaban manusia dengan ketinggian yang belum pernah dicapai peradaban mana pun di muka bumi. [MNews/RR]

Catatan kaki:

1 https://id.investing.com/news/economy-news/perguruan-tinggi-dituntut-adaptif-kesiapan-kerja-lulusan-jadi-tantangan-mendesak

2 https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-8475320/banyak-sarjana-belum-siap-kerja-orang-tua-cari-kampus-yang-siapkan-karier

3 https://jatim.antaranews.com/berita/1064029/kemnaker-lulusan-siap-kerja-solusi-jawab-kebutuhan-industri

4 https://www.greenpeace.org/usa/sustainable-agriculture/issues/corporate-control

5 https://beritajatim.com/pakar-unair-jangan-jadikan-mahasiswa-sekrup-mesin-kapitalisme

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *