Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.
Muslimah News, TAPAK TILAS — Maroko termasuk wilayah penting dalam sejarah perkembangan Islam, demikian pula dengan penduduknya. Mereka inilah yang dikenal dengan sebutan bangsa Berber, Fez, Marrakech, atau bangsa Moor.

Wilayah Maroko juga sering disebut sebagai Maghrib al-Aqsha (Negeri Barat Jauh) sekaligus dikenal sebagai gerbang Islam menuju Andalusia dan Eropa. Selain karena posisinya ada di wilayah paling barat Afrika Utara, Maroko juga menjadi pintu pembuka pembebasan Andalusia dan Eropa.
Adalah Thariq Bin Ziyad, pada 711 M memimpin pasukan untuk menembus Selat Gibraltar dengan tujuan membebaskan Andalusia. Ia menjalankan misi futuhat ini atas perintah Musa bin Nushair, gubernur Afrika Utara pada masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah (705-715 M).
Tentu saja untuk menembus selat pemisah antara benua Afrika dan Eropa ini mereka harus melalui wilayah Maroko. Hingga pada praktiknya banyak bangsa Moor terlibat dalam proyek ini.
Setelah futuhat berhasil, migrasi bangsa Moor ke dan dari berbagai wilayah di Andalusia, bahkan Eropa pun tidak bisa dihindarkan. Wajar jika sentuhan budaya bangsa Moor banyak dijumpai pada jejak peninggalan Islam di berbagai kawasan di dua wilayah tersebut.
Persentuhan dengan Islam
Bangsa Moor sendiri mengenal Islam melalui upaya dakwah yang dilakukan negara Khilafah pada masa Dinasti Umayyah. Sekitar tahun 670 M, Khalifah Muawwiyah bin Abi Sofyan (Muawwiyah I, berkuasa antara 661-680 M) melakukan pembebasan besar-besaran ke wilayah Barat, mulai Afrika Utara hingga ke Eropa, termasuk Maroko, Aljazair, dan Tunisia.
Pasukan yang dikirim ke wilayah Maroko dan sekitarnya adalah pasukan yang dipimpin Uqbah ibnu Nafi (lahir pada 622 dan wafat pada 683 M). Usianya yang panjang memungkinkan baginya terlibat dalam berbagai proyek futuhat sejak masa Khalifah Umar bin Khaththab ra.
Pada masa kepemimpinan Muawiyyah I dan Yazid I, Uqbah jugalah yang memimpin pembebasan wilayah Maghrib, termasuk Aljazair saat ini, Tunisia, Libya, dan Maroko. Bahkan bersamaan dengan misi ini, Muawiyyah I juga merintis penaklukan Konstantinopel, ibu kota negara adidaya di masa itu, Romawi. Misi ini dipimpin oleh anaknya, Yazid I.
Meski pada masa itu Konstantinopel belum berhasil ditaklukkan, tetapi proyek pembebasan ke Barat tersebut boleh disebut berhasil dengan gemilang. Wilayah-wilayah di Afrika Utara berhasil masuk dalam wilayah kekuasaan politik Islam dan menjadi kewalian/kegubernuran. Konon, Maroko sendiri benar-benar menjadi bagian wilayah kekuasaan Islam pada 681 M, yakni saat Yazid I naik ke tampuk kekuasaan.
Dalam catatan sejarah Islam, masa-masa itu disebut-sebut pula sebagai salah satu era keemasan Islam, termasuk di Maroko. Seluruh warga negara Islam, termasuk yang ada di wilayah yang baru dibebaskan bisa merasakan hidup dalam ketenteraman dan keadilan.
Jejak Peradaban
Sepanjang sejarahnya, Maroko pernah diperintah oleh dinasti yang berbeda-beda. Mulai dari Dinasti Umayyah, Abbasiyyah, Murabithun, Muwahiddun, Saadi, lalu Idrisi dan Alawy yang syi’ah hingga abad 17 M.
Setelahnya, sebagaimana negeri-negeri Islam lainnya, Maroko pun terjebak dalam situasi politik internasional yang makin tajam. Kekuatan Kristen makin keras penentangannya terhadap kekuasaan Islam. Ditandai dengan gencarnya gerakan reconquista serta perebutan wilayah-wilayah Islam demi menghancurkan kekuatan kekhilafahan.
Hanya saja, meski Maroko harus melewati kondisi demikian, sisa peradaban emas Islam tidak pernah hilang. Tradisi dan budaya, bangunan-bangunan kukuh dan indah, lembaga pendidikan, dan lain-lain masih bisa kita lihat jejaknya hingga sekarang.

Bahkan, banyaknya bangunan peninggalan Islam di Maroko membuatnya dikenal sebagai Negeri Seribu Benteng. Bangunan tersebut ada yang berbentuk masjid dengan konstruksi yang sangat kokoh dan indah. Di antaranya, ada Masjid Koutoubia (Kutubiyah) dan Istana El Badi di Marakesh, Menara Hasan di kota Rabat, serta Masjid Hassan II di Cassablanca.

Ada pula bangunan berupa madrasah dan universitas. Di antaranya, Medersa Ben Youssef atau Madrasa Ben Youssef di Marakesh yang merupakan sekolah terbesar di masanya, serta Universitas Al Qarawiyyin di kota Fez yang merupakan universitas paling tua di dunia (berdiri 859 M) dan masih beroperasi hingga sekarang.

Konon, pendirian Universitas al-Qarawiyyin ini diawali dari diskusi yang sering digelar di Masjid Al Qarawiyyin. Pendiriannya dipelopori dua orang perempuan kaya bernama Fatimah al-Fihri dan Mariam, serta mendapat dukungan dari pihak penguasa.
Memang bukan rahasia, jika penguasa Islam dari masa ke masa dikenal sangat concern terhadap masalah pendidikan. Sebagai bentuk dukungan, selain menyediakan berbagai fasilitas fisik yang memadai, biasanya diikuti pemberian beasiswa, guru yang bermutu, penyediaan buku-buku dan perpustakaan, serta berbagai fasilitas lain yang menunjang pendidikan berkualitas tinggi.
Tidak heran jika output sistem pendidikan Islam rata-rata mampu menghasilkan profil muslim berkualitas mumpuni. Selain memiliki kepribadian yang tinggi, juga siap berkontribusi dalam melahirkan peradaban cemerlang.
Siapa tidak kenal profil Ibnu Batutah (w. 1377 M/779 H) atau Muhammad bin Abdillah, seorang petualang muslim yang demikian terkenal. Juga Al-Qadi Iyyad (w. 1149 M/544 H) atau Iyyad bin Musa, seorang hakim terkenal di Ceuta dan Granada, atau Al-Ajurum penulis kitab Nahwu Al-Jurumiyah, serta As-Sanusi (w. 1490 M/895 H) atau Muhammad bin Yusuf, dan lain-lain.
Dalam Kuasa Kekufuran
Sejak era penjajahan Eropa, sekira abad 16 hingga 19 M, Maroko terus menjadi rebutan bangsa-bangsa kafir, terutama bangsa Spanyol (1884) dan Portugis. Posisi geografisnya yang strategis serta tanahnya yang subur membuat wilayah Maroko memiliki daya tarik tersendiri untuk menjadi sasaran penjajahan.
Adapun pasca perang dunia I, tepatnya tahun 1912, hingga pertengahan abad 20, Maroko jatuh ke tangan Prancis. Pada masa ini, Maroko menjadi negara protektorat Prancis dengan sebutan Maroko Prancis. Baru pada 18 November 1956, Maroko dinyatakan merdeka, namun tetap diikat oleh negara eks penjajahnya dalam ikatan negara franco phone (negara-negara yang berbahasa Prancis).
Sejak saat itu hingga sekarang, Maroko memilih menganut sistem kerajaan, namun dalam ekonomi dan sosialnya, menjalankan sistem yang cenderung liberal. Adapun di bidang politik, Maroko dikenal dekat dengan Amerika. Terbukti, Maroko menjadi salah satu negara Arab yang yang secara resmi menjalin hubungan diplomatik dengan Israel sesuai arahan tuannya.
Kondisi ini tentu sangat disayangkan karena bagaimanapun Maroko merupakan wilayah dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Semestinya, ajaran Islam melekat kuat dalam seluruh aspek kehidupan mereka, hingga umat Islam di Maroko mampu kembali meraih kemuliaan dan kedaulatannya.
Sungguh sejarah tidak akan pernah melupakan bahwa Maroko adalah salah satu pintu gerbang kemenangan Islam. Nenek moyang mereka telah berkontribusi meninggikan kalimah tauhid di langit Andalusia dan Eropa maka bagaimana mungkin hari ini mereka memilih tunduk kepada bendera musuhnya? Wallahualam. [MNews/Has]
