Penulis: Suci Gizela Pertiwi
Muslimah News, KISAH RAMADAN — Pada pertengahan abad ke-13, dunia Islam sedang berada dalam kondisi yang sangat lemah. Dari wilayah Asia Tengah, Pasukan Mongol bergerak cepat menaklukkan berbagai negeri dengan kekuatan pasukannya yang luar biasa. Kota-kota yang dilewatinya sering kali berakhir dengan kehancuran yang sangat dahsyat.
Peristiwa paling mengguncang terjadi pada 1258 ketika Hulagu Khan—pemimpin Mongol sekaligus cucu dari Genghis Khan—menyerbu dan menghancurkan Kota Baghdad, serta membunuh Khalifah Al-Musta’shim Billah. Peristiwa itu sekaligus mengakhiri Kekhalifahan Abbasiyah yang berdiri hampir lima abad lamanya.
Kehancuran itu bukan sekadar jatuhnya sebuah kota. Perpustakaan besar Baitul Hikmah dibakar, ribuan kitab ilmu pengetahuan musnah, dan banyak ulama dibunuh dengan kejam. Bagi kaum muslim saat itu, peristiwa ini terasa seperti runtuhnya peradaban Islam.
Ketakutan pun menyebar luas. Banyak negeri jatuh tanpa perlawanan. Bahkan, sebagian mulai meyakini bahwa Mongol adalah kekuatan yang tidak mungkin dilawan, hingga ada yang menyamakannya dengan Ya’juj dan Ma’juj yang disebut dalam riwayat akhir zaman.
Hanya saja, sejarah tidak berhenti di situ. Di tengah suasana penuh keputusasaan, Mesir justru mempersiapkan perlawanan. Dari negeri inilah kemudian lahir peristiwa besar yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai the Battle of ‘Ain Jalut (Perang ‘Ain Jalut). Pertempuran ini mematahkan anggapan bahwa Mongol tidak terkalahkan. Hanya dua tahun setelah jatuhnya Baghdad, kaum muslim kembali berdiri di medan perang untuk menghadapi Pasukan Mongol.
Saifuddin Qutuz dan Keputusan Melawan Mongol
Pada masa itu, Mesir berada di bawah kekuasaan Dinasti Mamluk yang masih relatif baru dan belum sepenuhnya stabil. Meski demikian, muncul seorang pemimpin yang kelak memainkan peran penting dalam sejarah, yakni Saifuddin Qutuz.
Qutuz bukanlah keturunan bangsawan. Pada masa mudanya ia bahkan pernah menjadi budak sebelum akhirnya naik menjadi salah satu tokoh penting dalam pemerintahan Mamluk. Dari latar belakang yang demikian, ia kemudian dikenal sebagai pemimpin tegas, berani, dan bertekad kuat mempertahankan negeri kaum muslim.
Ketika Hulagu Khan mengirim utusan ke Mesir dengan ancaman agar negeri itu tunduk kepada Mongol, Qutuz tidak memilih jalan kompromi. Atas saran panglimanya yang terkenal cerdas, Ruknuddin Baibars, ia memerintahkan agar para utusan Mongol tersebut dihukum mati, sebuah keputusan yang menjadi sinyal bahwa Mesir tidak akan tunduk pada ancaman.
Hanya saja, Qutuz memahami bahwa perang tidak cukup bermodalkan keberanian, melainkan juga biaya yang tidak sedikit. Alhasil, ia meminta fatwa dari ulama besar saat itu, Izzuddin bin Abdussalam. Sang ulama menegaskan bahwa jihad untuk mempertahankan negeri adalah kewajiban, tetapi para pemimpin tidak boleh membebani rakyat sebelum mereka sendiri mengorbankan seluruh harta yang mereka punya.
Qutuz menerima saran tersebut. Ia menjual hartanya dan para pemimpin pasukan mengikuti langkah yang sama. Sikap ini menumbuhkan kepercayaan kaum muslim sehingga mereka bersedia memberikan dukungan penuh bagi perjuangan melawan Pasukan Mongol.
Ramadan di Ambang Pertempuran ‘Ain Jalut
Pertempuran besar itu akhirnya pecah pada 25 Ramadan 658 H. Bagi Pasukan Mamluk, bulan puasa bukan alasan untuk melemahkan semangat mereka. Justru sebaliknya, mereka memandang Ramadan sebagai momentum spiritual yang menguatkan tekad, mengingat banyak kemenangan besar dalam sejarah Islam juga terjadi pada bulan yang mulia ini.
Bagi mereka, Ramadan bukan sekadar waktu menahan lapar dan dahaga, melainkan juga momen memperkuat ketundukan kepada Allah dan keimanan meneguhkan keyakinan terhadap pertolongan-Nya. Kesadaran inilah yang membentuk keteguhan mental Pasukan Mamluk.
Berbekal dorongan itulah, Pasukan Mamluk bergerak menuju wilayah Palestina. Dalam perjalanan ke sana, Qutuz memanfaatkan situasi politik yang ada dengan membuat kesepakatan agar Tentara Salib di Akka tidak ikut campur dalam konflik tersebut. Fokus utama mereka adalah menghadapi Pasukan Mongol yang dipimpin Kitbuqa Noyan, salah satu jenderal kepercayaan Hulagu Khan yang dikenal sebagai panglima tangguh di medan perang.
Lokasi pertempuran dipilih di sebuah lembah di Galilea, Palestina, bernama ‘Ain Jalut. Medan yang sempit dan dikelilingi perbukitan itu dianggap sangat tepat untuk menjalankan strategi penyergapan. Sebagian pasukan disembunyikan di balik bukit, sedangkan Baibars memimpin pasukan kecil untuk memancing Pasukan Mongol masuk lebih dalam ke lembah.
Terkepung di Lembah
Pasukan Mongol yang terkenal agresif segera mengejar pasukan kecil Baibars yang mereka anggap mudah dikalahkan. Lalu secara perlahan, Baibars mundur sambil terus memancing musuh agar makin masuk jauh ke lembah. Ketika Pasukan Mongol berada di posisi yang diinginkan, pasukan utama Mamluk pun muncul dari balik perbukitan dan menyerang dari berbagai arah. Pertempuran sengit pun tidak terelakkan.
Pada satu momen, sayap kiri pasukan kaum muslim sempat mengalami tekanan berat dari serangan Mongol. Pertempuran hampir saja berbalik menguntungkan Mongol. Melihat keadaan itu, Qutuz turun langsung ke medan perang. Ia memacu kudanya ke tengah pertempuran dan dengan lantang menyerukan seruan yang kemudian dikenang dalam sejarah, “Wa Islama! Wa Islama!”
Seruan itu berhasil membangkitkan kembali semangat para prajurit yang sempat goyah. Pertempuran berbalik menguntungkan Pasukan Mamluk. Salah satu panglima bernama Jamaluddin asy-Syamsi berhasil membunuh Kitbuqa Noyan. Tanpa pemimpin, Pasukan Mongol mulai kocar-kacir. Qutuz kemudian mengejar mereka hingga ke Bisan dan menghabisi sisa-sisa pasukan tersebut.
Kemenangan kaum muslim di Lembah ‘Ain Jalut ini menjadi kekalahan besar pertama bagi Mongol dalam ekspansi mereka ke wilayah barat. Jika Mesir jatuh saat itu, bukan tidak mungkin Mongol akan melanjutkan penaklukan hingga Afrika Utara dan wilayah lain di dunia Islam. Wajar jika kemenangan ini menjadi titik penting yang menghentikan laju Mongol di kawasan tersebut.
Namun, kisah kemenangan ini ternyata diikuti kejadian pilu. Dalam perjalanan kembali ke Mesir, Sultan Qutuz terbunuh dalam sebuah konspirasi. Setelah itu, Ruknuddin Baibars naik takhta sebagai Sultan Mamluk yang baru. Di bawah kepemimpinannya, kekuasaan Mamluk makin kuat dan menjadi pelindung dunia Islam dari ancaman Mongol maupun Tentara Salib.
Pelajaran bagi Kaum Muslim Hari Ini
Perang ‘Ain Jalut memberikan sejumlah pelajaran penting bagi kaum muslim.
Pertama, ketakutan yang berlebihan terhadap musuh dapat melemahkan mental, bahkan sebelum pertempuran dimulai. Kemenangan di ‘Ain Jalut membuktikan bahwa kekuatan yang terlihat sangat besar sekalipun ternyata tetap dapat dikalahkan atas izin Allah Taala.
Kedua, keteladanan pemimpin berpengaruh besar dalam menggerakkan pasukan. Ketika seorang pemimpin bersedia berkorban terlebih dahulu, pasukan akan lebih mudah mengikuti arahan dan mengerahkan segenap daya upayanya.
Ketiga, Pasukan Mamluk tidak hanya mengandalkan strategi dan kekuatan fisik, tetapi juga memiliki keyakinan kuat bahwa kemenangan sepenuhnya berada di tangan Allah. Kekuatan iman inilah yang membentuk keteguhan mental kaum muslim ketika menghadapi Mongol yang selama puluhan tahun dikenal hampir tidak pernah terkalahkan.
Keempat, peristiwa ‘Ain Jalut menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan yang menguatkan semangat perjuangan kaum muslim. Pasukan Mamluk tidak memandang puasa sebagai penghalang, melainkan dorongan ruhiah yang kian meneguhkan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi orang-orang yang berjuang di jalan-Nya.
Keyakinan yang sama juga harus terus hidup dalam diri kaum muslim sekarang, yakni bahwasanya Islam akan kembali dimenangkan-Nya, serta umat ini pun kelak akan kembali dipersatukan di bawah kepemimpinan yang menegakkan syariat-Nya secara kafah, yaitu Khilafah ‘ala minhajin-nubuwwah. [MNews/GZ]
