Muslimah News, NAFAIS TSAMARAT — Dari Abu Hurairah ra., dari Rasulullah saw. bersabda, “Kalian akan berambisi atas kekuasaan dan akan menjadi penyesalan pada Hari Kiamat.” (HR Bukhari).
Ambisi terhadap kekuasaan sangat membahayakan pelakunya. Ia akan menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Ia juga akan mempertahankan statusnya meskipun harus melakukan kezaliman dan kerusakan-kerusakan yang lain.
Sebagaimana yang saat ini terjadi dalam sistem sekuler kapitalisme, banyak orang yang berebut ingin menduduki kursi kekuasaan dengan berbagai kepentingan. Akhirnya ambisi atas kekuasaan itu akan membuat mereka menyesal pada Hari Kiamat kelak. [MNews/RY-YG]

Ada salah satu kasus, Kejadian dimaluku Utara.
Merespon dari ketukan palu Wagub. Jek, Lesung, dan Fai maju kedepan membentangkan poster yang bertuliskan (Tanah Adat Bukan Tanah Negara, Pulau Mangoli Bukan Pulau Kosong; Tolak 10 IUP di Pulau Mangoli; Negara Mengusir Kami Masyarakat Pulau Mangoli Melalui 10 IUP).
Aksi bentangkan poster itu sebagai respon dari 10 UIP yang berada di Pulau Mangoli. Aksi kami di respon dengan pemukulan dari (oknum) Panitia Kongres HPMS, yang mengakibatkan kami di represif, wajah Jek lebam karena di pukul, dan di dorong keluar bersama Lesung dan Fai.
Dengan ambisi kekuasaan orang-orang yg menolak akan menjadi korban, dengan kerakusan pemerintah daerah, beginilah kehidupan di dalam sistem kapitalisme sekuler saat ini, yang lebih mementingkan kepentingan segelintir orang dibandingkan dengan keadilan dan kesejahteraan masyarakat setempat. Tentu berbeda dengan sistem kehidupan dalam Islam, Islam lebih mengutamakan kepentingan masyarakat dibandingkan dengan para korporat, bahkan mengusir para korporat memberhentikan pemimpin yg tidak adil dan TDK melindungi/ra’in kepada masyarakat nya, sebagai dalam hadist rasul, dan pemimpin daerah yang menjalankan itu atas suruan pemimpin pusat.
Terkait itu Rasulullah saw telah mengingatkan fungsi vital kepemimpinan Islam:
الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
Imam (Khalifah) itu adalah perisai (pelindung); orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepada dia (HR al-Bukhari dan Muslim