[Tokoh Bicara] Memahami Arah Hijrah

[Tokoh Bicara] Memahami Arah Hijrah

Muslimah News, TOKOH BICARA —

Hijrah Sesuai Contoh Rasulullah Saw.

Hijrah secara pribadi adalah menguatkan tekad untuk mencari ilmu tauhid, akidah, muamalah, dan ilmu agama lain yang bisa mengantarkan diri untuk kembali kepada fitrah. Hijrah secara sosial ialah mengajak masyarakat  untuk mencerahkan pemikiran agar kembali menata hidup bermasyarakat, bermuamalah, dan berekonomi sesuai contoh Rasulullah (saw.).

Ai Nurhayati, M.Pd. (Guru di Sukabumi)
—

Pahamilah Arah Hijrah yang Sesungguhnya

Memaknai hijrah bukanlah sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Namun, lebih dalam lagi dapat kita artikan sebagai sebuah proses berani mengambil sebuah keputusan untuk menerima, meyakini, dan mengamalkan kebenaran yang datang dari Allah.

Tidak banyak yang bersegera mengubah pola pikir dan pemahamannya, dari yang awalnya jauh dari Islam, menuju pemahaman Islam yang menyeluruh (kafah) ketika mendapat seruan untuk kembali ke jalan-Nya. Ini karena mereka belum mengetahui arah hijrahnya.

Hijrah juga bukan sekedar tren yang ketika orang beramai-ramai berhijrah, kemudian latah mengikuti tanpa paham tujuan dan arahnya. Hijrah yang yang dapat membawa ke arah perubahan hakiki adalah hijrah pemikiran, pemahaman, sikap, dan tingkah laku. Hingga hijrah peraturan hidupnya, yakni dari sistem kufur menjadi sistem Islam dalam naungan Khilafah Islamiah.

Bersegeralah membuka hati untuk menerima kebenaran. Yuk hijrah dan menjadi bagian pejuang agama Allah!

Diansyah Novi Susanti, S.Pt.
—

Mencakup Perubahan Spiritual dan Moral

Hijrah, dalam konteks Islam, tidak hanya merujuk pada perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga mencakup perubahan spiritual dan moral. Bagi aktivis muslimah, hijrah sering kali dimaknai sebagai sebuah perjalanan transformasi diri yang lebih mendalam. Ini adalah upaya untuk meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah Taala.

Kholifah, S.Ag., M.Pd. (Pendidik)
—

Peristiwa yang Sangat Monumental

Hijrah sebagai sebuah peristiwa yang sangat monumental dalam sejarah kekuasaan Islam tidak dimaknai semata berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain, dari  Makkah ke Madinah. Juga bukan semata sebuah langkah menghindari tekanan, rencana, dan perbuatan jahat para pemimpin kafir Quraisy.

Lebih dari semua itu, hijrah adalah sebuah perintah yang sangat penting yang diberikan Allah Swt. kepada Rasulullah saw. untuk mengantarkan manusia keluar dari dzulumati kepada an-Nur. Hijrah meninggalkan sistem pengaturan dalam kehidupan masyarakat dan negara yang melakukan penyembahan kepada tagut, keluar menjadi satu sistem yang baru, yakni tegaknya kekuasaan Islam dengan diangkatnya Rasulullah saw. sebagai kepala negara.

Hijrah adalah sebuah momen yang sangat penting karena itu adalah awal dari tegaknya kekuasaan Islam setelah dilakukan proses dakwah yang sangat panjang oleh Rasulullah saw. bersama para sahabatnya. Bahkan, Allah Swt. memberikan kemudahan dan pertolongan dengan diterimanya permintaan Rasullullah kepada para pemilik kekuatan dan kekuasaan untuk memberikan kekuasaan mereka kepada Islam.

Kondisi ini juga berpadu dengan terbangunnya opini umum atau opini publik dari masyarakat Madinah yang dilakukan dakwah oleh utusan Rasulullah saw., yakni oleh sahabat Mushab bin Umair. Ketika dua hal ini berpadu, yaitu pemberian kekuatan kekuasaan dari suku besar di Madinah, yakni suku Aus dan Khazraj, serta terbangunnya konsolidasi opini publik di masyarakat Madinah, kemudian mereka memberikan kekuasaan itu dengan melakukan baiat kepada Rasulullah saw. dalam peristiwa Baiat Aqabah II.

Hijrah adalah sebuah proses untuk mengawali tegaknya kekuasaan Islam, menata kehidupan yang baru, baik dalam aspek keluarga, negara, dan masyarakat. Rasulullah saw. melakukan penataan di berbagai sektor setelah dilakukannya proses hijrah, baik dalam aspek perekonomian, sosial, hukum, dan berbagai aspek yang lain dalam tatanan regulasi negara.

Beliau saw. membangun pasar yang baru, meninggalkan sistem regulasi ekonomi dan berbagai transaksi yang lama dan jahiliah, yang bertumpu pada sistem ribawi yang penuh dengan kecurangan, penipuan, dan manipulasi. Semua ini ditinggalkan dengan dibangunnya sistem pasar yang baru dengan menggunakan aturan Islam.

Begitu juga perlakuan terhadap perempuan. Kita lihat setelah terjadi momen hijrah dan tegaknya kekuasaan Islam di Madinah, perempuan menjadi sosok yang disayangi, dihormati, dimuliakan, diposisikan sebagai ratu, senantiasa dinafkahi, dan tidak dituntut untuk melakukan hal-hal yang memang berat untuk dilakukan. Tuntutan mencari nafkah, misalnya, tidak dilakukan dalam sistem kekuasaan Islam. Ini tidak diwajibkan kepada mereka, tetapi semata menjadi pilihan apabila mereka ingin melakukannya. Dengan demikian, mereka berada dalam ruang lingkup masyarakat yang juga memperhatikan kehormatan dan kemuliaannya.

Meskipun para perempuan dalam sistem kekuasaan Islam yang baru setelah fase hijrah tidak dituntut untuk mencari nafkah, tetapi mereka sangat aktif di berbagai sektor, baik pendidikan, kesehatan, dll. Dapat kita lihat di sini, hijrah ternyata bukan hanya menjadi perintah, tetapi juga menjadi kebutuhan bagi semua umat manusia hari ini yang tengah berada pada kegelapan, berada pada sistem yang penuh dengan kezaliman, dan ketakadilan.

Hijrah menjadi kebutuhan semua umat manusia untuk keluar dari dzulumati, keluar dari kegelapan, menuju kepada an-Nur, menuju kepada cahaya, yakni tegaknya kekuasaan Islam yang insyaallah tidak akan tegak dalam waktu lama lagi. Sebagaimana yang telah Allah Swt. kabarkan dan informasikan dalam bisyarah atau berita gembira dalam hadis Rasulullah saw. riwayat Imam Ahmad. Hadis yang sangat panjang tentang fase kehidupan manusia, ditutup dengan sabda Rasulullah, “Tsumma takunu Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.”

Insyaallah, tegaknya kekuasaan Islam menjadi informasi yang menggembirakan bagi semua manusia hari ini. Ini tidak bisa hanya kita tunggu, tetapi harus kita perjuangkan bersama. Semoga Allah Swt. memudahkan langkah perjuangan ini menuju pada kabar gembira yang telah Allah Swt. sampaikan

Nida Saadah, S.E., M.E.I., Ak. (Akademisi sekaligus pakar ekonomi Islam)
—

Lebih Berkarakter dengan Islam Kafah

Hijrah merupakan gerakan menuju pribadi yang lebih baik dan gerakan mengubah tatanan kehidupan yang lebih berkarakter dengan Islam kafah.

Dra. Wahyuni, S.Pd. (Guru di Sidoarjo)
—

Jalan yang Terbaik

Hijrah merupakan proses perubahan menuju jalan yang lebih baik. Jalan yang terbaik itu adalah jalan Allah Swt., yakni Islam rahmatan lil ‘alamin.

Sutji (Praktisi Pendidikan di Sidoarjo)
—

Butuh Proses dan Progres

Hijrah bukanlah sesuatu yang belum ada menjadi ada, bukan sesuatu yang hilang kemudian ditemukan, bukan pula yang sudah berlalu kita ulang kembali. Hijrah adalah memperbaiki keadaan yang kurang baik menjadi baik, yang sudah baik menjadi lebih baik lagi. Bukan kesempurnaan, tetapi pada titik kebenaran.

Hijrah juga termasuk perintah Allah Swt. dalam QS An-Nisa ayat 100, “Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak.”

Berhijrah butuh proses dan progres, butuh jihad dan niat yang kuat. Butuh keistikamahan sebagai ketaatan kita kepada Allah Taala. Jadi, bersabarlah dan niatkan hijrah karena Allah. Sesungguhnya hijrah itu bukan dengan siapa, tetapi karena siapa. Sesungguhnya Allah Swt. menilai hamba-Nya karena niatnya.

Semangat berhijrah, kawanku, untuk meraih perubahan yang positif. Hidup hanya sekali, carilah rida Ilahi selagi nyawa masih Allah beri.

Aini Luthfiyah, S.Sos.I. (Guru PAI di Surabaya)
—

Setengah Hijrah?

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada Hari Kiamat, sampai ia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya ke mana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana ia mengamalkannya, tentang hartanya dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR Tirmidzi).

Bagi saya, masa itu bukan sekadar satuan waktu, melainkan kesempatan yang sudah Allah takdirkan kepada kita. Di dalamnya akan ada serangkaian konsekuensi, apabila kita sudah memenuhi kriteria yang sudah ditetapkan.

Akil balig adalah titik masa di mana siapa pun yang sadar bahwa dirinya muslim, harus tunduk patuh dalam syariat-Nya. Sementara itu, momen syahadat menjadi masa bagi mereka yang atas petunjuk-Nya menjadi insan yang memilih, sadar kembali pada kebenaran ajaran Islam.

Akan tetapi, dari titik masa ini, tidak sedikit yang melalaikan bahkan mengabaikan hukum Allah yang sudah lengkap mengatur seluruh urusan manusia. Entah karena merasa sudah di “zona aman” dengan aksioma “sudah muslim insyaallah pasti diselamatkan”, atau karena sesimpel malas belajar saja.

Akibat yang jamak terjadi, merasa muslim, padahal hidupnya sekuler dan enggan mempelajari ilmu Islam secara utuh. Dampak terburuknya, lantas berevolusi menjadi seorang islamofobia yang dengan kesadaran penuh maupun latah, memilih satu gerbong dengan para kafir harbi, lalu menggembosi umat dari dalam. Na’udzubillah. Ini gambaran paling horor, menjadi kaum munafik yang ciri-cirinya sudah jelas dideskripsikan dalam Al-Qur’an maupun Hadis.

Sementara itu, serangkaian hambatan dari luar yang tidak dapat dimungkiri, kerap menarget saudara-saudara muslim yang berangkat dari kondisi mualaf. Dipersulit keluarga yang telah beda akidah, perkara finansial yang tidak sedikit membuat mereka goyah di tengah impitan badai ujian, sampai minimnya pembimbing yang bukan sekadar mualim.

Harusnya, yang bertugas jadi “Bani Ansar”-nya ketika Muhajirin pada zaman Rasulullah saw. turut berhijrah ke Madinah itu, ya muslim yang sudah lebih dahulu mendapat nikmat hidayah. Namun, apa mau dikata? “Bani Ansar”-nya pun masuk angin kena badai sekularisme multidimensi.

Oleh sebab itu, ketika kembali dihadapkan pada fenomena hijrah yang sering kali menjadi kemasan baru komodifikasi agama, kita sepatutnya menanyakan pada diri masing-masing, apa iya kita sudah haqqul yakin dengan kebenaran janji-Nya? Bahwa ujian pasti dari dengan kemudahan yang menyertainya? Juga yakin bahwa menolong agama Allah sejatinya kita sedang menolong diri kita sendiri agar selamat dari murka-Nya di Yaumulakhir nanti?

Bab satu yang harus dievaluasi ulang adalah niat, lalu diikuti bab selanjutnya, yakni itibak pada Nabi Muhammad (saw.). Tidak mudah memang, karena harus siap jadi ghuraba di tengah absurditas akhir zaman yang serba syubhat ini. Akan tetapi, bukan tidak mungkin. Bukankah jika cinta menjadi bahan bakarnya, seseorang akan rela melakukan apa saja demi yang dikasihinya?

Lalu, apa yang sudah benar-benar kita tinggalkan untuk membuktikan kesungguhan cinta kita pada Allah dan Rasul-Nya? Siapkah kita mengatakan, “Kami dengar dan kami taat,” ketika menjawab panggilan Allah untuk memenuhi seluruh ketetapan syariat-Nya? Ini karena hijrah bukan sekadar melakukan segala yang Allah suka, melainkan juga siap meninggalkan segala yang Allah benci.

Mari bersegera, sebab dua kiblat kita dalam ancaman nyata, sedangkan waktu terus berlari. Al-Aqsha masih terjajah, sedangkan Al-Haram sudah dinaungi awan hitam. Lihatlah Najd, Thaif, dan negeri-negeri Syam yang makin memperlihatkan tanda-tanda akhir zaman.

Jangan cuma diam! Waktu kita tidak banyak. Ayo jawab panggilan itu! Bersama-sama dalam satu barisan yang kuat, sebagai khairu ummah yang siap menjemput perubahan besar yang sudah ditakdirkan-Nya, yakni kemenangan yang nyata.

Semoga kita semua dinobatkan menjadi orang beriman di akhirat nanti karena siap berhijrah total, bukan setengah hijrah, sekadar hijrah kemasan. Takbir!

Annisa Theresia (Kak Tere, Influencer)
—

Harus Diusahakan dengan Cara Menjemputnya

Hijrah tidak melulu tentang perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Lebih jauh lagi, hijrah bermakna perubahan seseorang atau suatu kelompok dari yang tadinya kurang baik menjadi baik; tadinya baik; menjadi jauh lebih baik, terutama dalam ketakwaannya kepada Allah Taala.

Hijrah ini tidak bisa ditunggu datangnya, melainkan harus diusahakan dengan cara menjemputnya, salah satu caranya adalah dengan menambah pengetahuan dalam ilmu agama; dan berteman atau memilih lingkungan yang mendukung dalam fase hijrah kita.

Semoga Allah mudahkan kita dalam berhijrah menjadi muslim/muslimah yang kafah. Bukan hanya kita sendiri, tetapi membawa orang sekitar kita untuk bersama-sama dalam berhijrah.

Iis Isnawati, S.Pd.I. (Guru PAI dan Pembina Keputrian di SMK Negeri di Majalengka)
—

[MNews]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *