Muslimah News, TOKOH BICARA — Para tokoh pendidik dan intelektual muslimah memberikan pandangannya terkait Maulid Nabi Muhammadﷺ. Mereka mengatakan, wajib meneladan Rasulullah, termasuk mempraktikkan sistem kepemimpinannya, sistem Islam kafah.
1. Ummu Nashir N.S. (Aktivis Muslimah)

Berjuang Melahirkan Masyarakat Islam
Rabiulawal adalah bulan istimewa karena ada peristiwa penting di dalamnya, di antaranya kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Oleh karenanya, ini menjadi momen yang tepat untuk makin mencintainya sepenuh hati.
Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai bukti cinta kita kepada sosok manusia mulia ini?
Wujud mencintai Rasulullah ﷺ adalah dengan menjadikan beliau sebagai teladan terbaik bagi kita dengan menjalankan semua yang dibawanya dan menjauhkan semua yang dilarangnya (QS Al-Hasyr: 7).
Dari sirah Rasulullah ﷺ kita memahami bahwa Rasulullah memberikan teladan dalam melakukan aktivitas dakwahnya di tengah manusia, melakukan pengaderan para Sahabat, kemudian berinteraksi dengan masyarakat hingga lahir masyarakat baru. Sebuah kehidupan masyarakat yang menerapkan Islam secara kafah dalam sebuah negara.
Sudah seharusnya peringatan Maulid Nabi ﷺ dijadikan momen bagi kaum muslim untuk terus berjuang melahirkan kembali masyarakat baru, yakni masyarakat Islam, sebagaimana yang kelahirannya pernah dibidani oleh Rasulullah ﷺ di Madinah.
2. Halima Noer (Aktivis Muslimah)

Cinta Nabi ﷺ, Meneladan Seluruh Aturan yang Dicontohkannya
Peringatan Maulid Nabi ﷺ adalah momen membuncahkan kecintaan dan kerinduan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad ﷺ. Cinta kepada Nabi ﷺ tidak cukup diungkapkan hanya dengan melakukan peringatan Maulid Nabi ﷺ, melainkan harus juga dengan amal perbuatan nyata. Apa itu? Sebagian menyebut bahwa cinta itu diwujudkan dengan memperbanyak berselawat untuknya. Benar, kita harus memperbanyak berselawat untuk Nabi ﷺ karena itu adalah perintah Allah Swt. (lihat QS Al-Ahzab: 56). Namun, berselawat saja tidak cukup.
Cinta harus dibuktikan dengan meneladan Nabi ﷺ dalam seluruh perkataan dan perbuatannya, termasuk meneladan kepemimpinannya dan mengambil seluruh aturan dan sistem pemerintahan yang dicontohkannya. Nabi adalah sosok pemimpin ideal. Sistem pemerintahan yang diwariskannya, yakni Daulah Khilafah Islamiah juga sistem yang ideal sehingga keduanya haruslah diambil.
Meneladan kepemimpinannya saja, tetapi tidak mengambil sistem pemerintahan yang dicontohkannya sama saja belum menjadikan Nabi ﷺ sebagai uswatun-hasanah (teladan terbaik ). Ini artinya kita belum mengamalkan dengan sempurna perintah Allah dalam QS Al-Ahzab ayat 21,
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah.”
Apa yang akhirnya kita dapatkan? Berbagai masalah menimpa negeri ini tanpa ada solusi.
Mari kita meneladan Nabi ﷺ dalam kepemimpinannya, juga dengan mengambil sistemnya sehingga seluruh masalah umat ini akan mendapatkan solusi terbaik. Allah pun akan memberikan rida-Nya dan membukakan pintu-pintu keberkahan dari arah mana pun yang Dia kehendaki.
3. Sari Muliyani, S.Pd. (Pendidik di Banjarmasin)

Rasulullah ﷺ Teladan Pendidikan
Menerapkan pendidikan Islam secara menyeluruh dapat dijadikan sumber dalam pendidikan kita sekarang. Rasulullah ﷺ telah memberikan suri teladan dan contoh nyata bagi kita semua mengenai pendidikan yang baik dalam Islam.
Jadi sudah seharusnya melalui momen Maulid Nabi Muhammad ﷺ ini, kita para guru bisa menjadi suri teladan yang baik untuk anak didik kita sebagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan suri teladan yang baik.
4. Nurhayati, S.Pd. (Guru di Kabupaten Deli Serdang)

Menerapkan Sistem Islam
Maulid Nabi Muhammad ﷺ selalu diperingati dengan meriah setiap tahunnya oleh kaum muslim di penjuru dunia. Ini adalah bukti kecintaan kaum muslim kepada Nabi Muhammad ﷺ. Namun, bukti cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar memperingati hari kelahirannya, tetapi juga wajib meneladan beliau.
Ketika Nabi Muhammad ﷺ datang membawa risalah Islam, maka itu pertanda sejak Islam terbit di Makkah akan selesai sampai Hari Kiamat. Islam bukan sekadar simbol agama, tetapi ideologi atau pandangan hidup yang harus diterapkan sebagai eksistensi kita di dunia.
Bahkan, agama dan kekuasaan mesti berdampingan tidak terpisahkan. Agama merupakan fondasinya, sedangkan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak memiliki fondasi, maka akan roboh. Segala sesuatu yang tidak memiliki penjagaan, pasti akan musnah. Jadi, kalau ada yang bilang agama dan negara itu berbeda aturannya, maka itu adalah pendapat yang salah. Selama kepemimpinannya, Rasulullah ﷺ menerapkan aturan Islam yang bersumber kepada Kitabullah dan Sunah di seluruh aspek kehidupan, bukan hanya pada aspek rohani. Itu yang disebut Islam kafah dalam bingkai Khilafah. Oleh karenanya, ketika kita ingin meneladan Nabi Muhammad ﷺ, maka harus menerapkan sistem Islam.
5. Dra. Radiatik, M.Pd. (Guru BK di Deli Serdang)

Rasulullah ﷺ Pemimpin yang Sukses
Maulid Nabi Muhammad ﷺ selalu diperingati dengan meriah di seluruh dunia, selawat yang berkumandang menggambarkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, kerinduan kepada Rasulullah ﷺ, dan yang penting adalah mengingatkan bahwa tidak ada kemampuan diri tanpa adanya syafa’atul ‘uzhma dari Rasulullah ﷺ.
Peringatan Maulid Nabi ﷺ menjadi bentuk refleksi akhlak kita, apakah sudah pantas berdampingan dengan akhlak Rasulullah ﷺ?
Apalagi dengan kepemimpinan beliau yang bukan sekadar pemimpin spiritual tanpa kekuasaan. Beliau memimpin semua umat dengan sistem kepemimpinan Islam kafah, sebagai pemimpin yang sukses. Dr. Zuwaimer, seorang orientalis Kanada, dalam bukunya Timur dan Tradisinya mengatakan bahwa tidak diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah pemimpin agama terbesar dan reformis, mumpuni, fasih, pemberani, dan pemikir yang agung.
6. Dr. Arfriani Maifizar, M.Si. (Intelektual Muslimah)

Cinta Paling Nyata
Pada hari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, kita diingatkan untuk meneladan kepemimpinan beliau yang penuh kasih sayang dan keadilan. Marilah kita jadikan momen Maulid Nabi ﷺ sebagai titik awal memperkuat komitmen kita dalam mengikuti Sunah Nabi yang tidak hanya mengajarkan kita tentang ibadah, tetapi juga tentang kepemimpinan yang mengayomi dan melayani umat.
Rasulullah ﷺ adalah contoh pemimpin yang tidak hanya berbicara, tetapi juga bertindak. Dalam setiap langkah kepemimpinannya, beliau menunjukkan bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Mari kita rayakan Maulid Nabi ﷺ dengan memperbanyak selawat dan berdoa agar kita senantiasa diberikan petunjuk untuk meneladan akhlak mulia beliau dalam kehidupan sehari-hari. Maulid Nabi ﷺ adalah waktu untuk merenungkan ajaran dan teladan Rasulullah ﷺ.
Ketika kita menyatakan mencintai Nabi ﷺ, berarti kita harus berusaha untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip yang beliau ajarkan. Dalam menghadapi tantangan zaman, kita perlu mengingat bahwa kepemimpinan yang baik adalah yang berlandaskan pada keadilan, kebijaksanaan, dan kasih sayang.
Selamat Maulid Nabi ﷺ! Semoga cahaya kenabian senantiasa menerangi hati kita dan menginspirasi kita untuk menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Mari kita jadikan momen ini sebagai pengingat untuk terus berjuang di jalan-Nya, mengikuti jejak beliau dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam bernegara. Di tengah kerinduan akan sosok pemimpin yang meneladan Nabi ﷺ, marilah kita berkomitmen untuk menjadi agen perubahan yang membawa kebaikan. Dengan meneladan kepemimpinan Rasulullah ﷺ, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih baik, penuh cinta, dan kedamaian. Semoga kita selalu ingat bahwa meneladan Nabi ﷺ adalah bentuk cinta yang paling nyata. [MNews/RA]
#TokohBicara #MaulidNabi
#MeneladanKepemimpinanRasulullah
