Muslimah News, INTERNASIONAL — Kenya telah mendapatkan pinjaman sebesar Ksh.40 miliar dari Tiongkok untuk membantu menyelesaikan proyek-proyek yang terhenti di 15 daerah. Ketua Komite Anggaran Majelis Nasional Ndindi Nyoro mengatakan kesepakatan yang ditandatangani oleh kedua negara akan membuat kontraktor kembali bekerja pada September.
Aktivis muslim dari Kenya Shabani Mwalimu kepada Kantor Berita ideologis internasional (5-9-2024) menyatakan bahwa transformasi struktural ekonomi negaralah yang membuat negara-negara, seperti Kenya terjerat utang sehingga menyebabkan peningkatan tingkat utang dan menambah penderitaan rakyat.
“Untuk memulai transformasi struktural ekonomi, banyak negara Afrika memerlukan investasi besar-besaran dalam infrastruktur yang didukung oleh pinjaman dari pasar domestik dan eksternal. Dalam hal ini, Pemerintah telah memutuskan untuk mengakses pinjaman baru dari Tiongkok,” jelasnya.
Kenya, lanjutnya, telah menghabiskan Ksh.152,69 miliar untuk membayar utang kepada Tiongkok pada tahun keuangan yang baru saja berakhir yang menggarisbawahi beban pembayar pajak dalam melayani pinjaman yang diambil untuk membangun jalur kereta api modern.
“Ketika William Ruto mulai memimpin pemerintahan Kenya pada Agustus 2022, utang luar negeri negara tersebut sekitar $62 miliar atau 67% dari produk domestik brutonya. Rezim terakhir yang dipimpin William Ruto sebagai wakil presiden telah banyak meminjam dari negara-negara pemberi pinjaman komersial seperti Tiongkok untuk membiayai proyek infrastruktur besar, termasuk jalur kereta api yang menghubungkan Nairobi dengan kota pelabuhan Mombasa,” paparnya.
Pinjaman Komersial
Mwalimu memaparkan bahwa sebagian besar pinjaman tersebut bersifat komersial. “Artinya, pinjaman tersebut memiliki suku bunga yang tinggi. Sementara itu, infrastruktur tersebut gagal menghasilkan pendapatan yang diharapkan,” ucapnya.
Lebih buruk lagi, lanjutnya, banyak pemimpin Afrika yang meminjam uang dari luar negeri, mengambil alih dana tersebut untuk penggunaan pribadi, dan mewariskan utang kepada rakyat yang mereka pimpin.
Mwalimu kemudian menggambarkan adanya protes dua bulan lalu yang berujung maut. Banyak spanduk yang dikibarkan untuk mengecam Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, yang dituduh sebagai penyebabkan krisis. “IMF, Bank Dunia, Hentikan Perbudakan Modern” demikian tulisan dalam salah satu spanduk.
“Protes tersebut memang merupakan hasil dari kebijakan kapitalis yang korup, seperti menaikkan pajak dan mencari pinjaman yang telah menyebabkan penderitaan dan kesulitan yang luar biasa, tidak hanya di Kenya, tetapi juga di seluruh dunia,” tegasnya.
Rupanya, ia membeberkan, mencari pinjaman merupakan alat rancangan yang digunakan oleh Barat yang membina sekelompok kecil orang lokal yang menjadi pemimpin, yang akan menggabungkan kekuatan politik dan komersial untuk mengendalikan ekonomi negara-negara dunia ketiga seperti Kenya.
Ekonomi Islam
Mwalimu kemudian menegaskan bahwa untuk memutus rantai “monster” peminjaman Kenya dan dunia pada umumnya, membutuhkan model ekonomi baru yang tidak lain adalah sistem ekonomi Islam yang berfokus pada distribusi dan sirkulasi kekayaan daripada produksi dan akumulasi kekayaan di dalam segelintir elite.
“Lebih jauh lagi, dengan mata uang bimetalik yang hanya berdasarkan emas dan perak, pinjaman berbasis bunga tidak memiliki peluang dalam ekonomi Islam. Memang, sistem unik ini akan diterapkan di bawah Khilafah (kekhalifahan-red.) yang akan didirikan kembali berdasarkan metode Nabi Muhammad saw.,“ pungkasnya. [MNews/AH]
