[Kabar] Pengamat: Pemuda Perlu Mewaspadai Pesan Khusus Paus Fransiskus

[Kabar] Pengamat: Pemuda Perlu Mewaspadai Pesan Khusus Paus Fransiskus

Muslimah News, NASIONAL – Dalam kunjungannya ke Indonesia, Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik dunia dan Kepala Negara Vatikan, menyampaikan pesan khusus kepada Presiden Jokowi untuk diteruskan kepada anak-anak muda Indonesia.

Paus menekankan pentingnya pendidikan dan sekolah dalam mendidik anak-anak muda untuk menghargai perbedaan. Ia berharap agar pesan-pesannya tentang toleransi, pendidikan, dan penghargaan terhadap perbedaan dapat diterima dan diaplikasikan oleh generasi muda Indonesia, sebagai langkah penting menuju perdamaian dan keharmonisan dalam masyarakat global.

Pengamat politik Endiyah Puji Tristanti memberikan pandangannya soal itu. “Anak-anak muda Indonesia perlu mewaspadai pesan khusus dari kunjungan Paus Fransiskus,” ujarnya kepada MNews, Rabu (11-9-2024).

Ia beralasan, pemuda Indonesia mayoritas muslim dan Islam sebagai ajaran hidup yang sempurna lebih mengetahui apa dan bagaimana mewujudkan puncak kebaikan bagi kehidupan manusia.

Endiyah lalu membacakan terjemah surah Ali Imran ayat 118, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu (bithanah) di luar kalanganmu [karena] mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh Allah telah menerangkan ayat-ayat-Nya, bagi yang mau memahami.”

Ia berpesan kepada para pemuda muslim agar mengambil sikap yang benar, yaitu mencukupkan diri berpegang pada ajaran Islam.

“Tidak perlu terpukau dengan pesan semu Paus Fransiskus sebab sepanjang penerapannya Islam jauh lebih berpengalaman dalam mengajarkan dan mewujudkan toleransi,” tegas Endiyah.

Salah Alamat

Dalam penilaiannya, membawa pesan toleransi kepada pemuda Indonesia adalah salah alamat. “Di Indonesia berdiri ribuan gereja, bahkan tidak sedikit pura dan wihara. Jika pemuda Indonesia tidak paham toleransi, pasti semua rumah ibadah agama selain Islam sudah dihancurkan secara massal oleh masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Seharusnya, ia melanjutkan,  Paus Fransiskuslah yang belajar toleransi dari kaum muslim di Indonesia agar di Vatikan [negara asal Paus] bisa dan boleh berdiri masjid yang banyak.

“Juga agar Paus mengingatkan Kepala Negara Monako, Uruguay, yang masyarakatnya mayoritas Katolik seharusnya masjid boleh berdiri di sana. Artinya, Paus tidak layak mengajari pemuda muslim Indonesia soal toleransi,” kritiknya.

Endiyah tidak menampik, memang ada masalah perdamaian di dunia global yang ditandai dengan banyaknya penjajahan, baik penjajahan fisik, militer, maupun penjajahan ekonomi, budaya, bahkan politik.

“Pertanyaannya siapa yang melakukan penjajahan? Penderitaan masyarakat Palestina, misalnya, disebabkan oleh arogansi penjajahan Yahudi dan dukungan penuh Amerika Serikat. Lantas apakah Paus telah memberikan kutukan kepada para pemimpin [Zion*s] Yahudi dan Amerika Serikat?” tanyanya retoris.

Menurutnya, toleransi versi Paus terasa hambar. “Jika Paus tidak paham persoalan dunia hari ini, maka apakah tidak lebih baik Paus lebih banyak belajar dan menahan diri untuk berkelakar soal perdamaian dunia?” sindirnya.

Politik Sekuler

Endiyah menyayangkan, hasil pendidikan politik yang diberikan oleh partai-partai politik dan fakultas-fakultas ilmu politik di Indonesia.

“Pendidikan politik yang selama ini diberikan kepada generasi muda adalah pendidikan politik sekuler yang menghasilkan manusia-manusia sekuler yang gagap merespon berbagai peristiwa politik kekinian,” ungkapnya.

Dalam pengamatannya, sejak Zion*s Yahudi membumihanguskan Gaza pada Oktober 2023 lalu, respons publik Indonesia terutama kaum muda sangat luar biasa memberikan dukungan kepada Palestina.

“Munculnya kesadaran melek peristiwa politik dikaitkan dengan ruh keimanan generasi muda tentu ini tidak baik bagi para pendukung Zion*s. Sebab jika berlanjut, kesadaran ini akan meluas sampai pada tuntutan menyelamatkan Palestina dengan kekuatan besar kaum muslim, maka benih kesadaran pemuda terhadap penjajahan perlu dibendung agar tidak mengganggu upaya normalisasi hubungan dengan [Zion*s] Yahudi,” ulasnya.

Berikutnya, ia melanjutkan, para pemuda bisa mengingat misi utama Paus terkait dialog antar-agama untuk memperkuat kerukunan dan kedamaian.

“Misi ini sejalan dengan isi Perjanjian Abraham (Abraham Accords) yakni perjanjian bilateral mengenai normalisasi hubungan Arab-Yahudi yang ditandatangani antara Yahudi dan Uni Emirat Arab serta antara Yahudi dan Bahrain pada 15 September 2020, yang dimediasi oleh Amerika Serikat,” bebernya.  

Alhasil, ia menganalisis, apabila Paus Fransiskus berdiri di sisi yang sama dengan Yahudi, dan Amerika Serikat menyerukan dialog antar-agama untuk perdamaian, maka tidak mungkin perdamaian dunia akan terwujud.

“Dua negara ini adalah negara teroris penjajah nomor wahid yang telah membuat wajah buruk dunia hari ini. Umat Islam selalu diajak berdiplomasi oleh penjajah. Jika penjajah gagal meraih tujuan, diplomasi diganti dengan bahasa perang oleh para penjajah. Selalu begitu seterusnya,” tegas Endiyah mencoba mengajak para pemuda berpikir kritis.

Terakhir ia menyeru, “Wahai para pemimpin di negeri ini, wahai para ulamanya, wahai para intelektual, janganlah mengajari generasi muda untuk berkiblat kepada pihak yang salah. Misi perdamaian yang dibawa oleh penjajah itu hanyalah semu. Generasi muda ini butuh untuk dicerdaskan, dinaikkan level berpikir politiknya, bukan diajari membeo pada penjajah,” tutupnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *