[Nafsiyah] “Musibah” Agama

[Nafsiyah] “Musibah” Agama

Penulis: Ustaz M. Taufik N.T.

Muslimah News, NAFSIYAH — Imam Asy Sya’bi menceritakan bahwa Qodhi Syuraih (w. 78 H) berkata, “Sesungguhnya jika aku ditimpa musibah, maka aku memuji Allah empat kali, yakni karena aku tidak tertimpa musibah yang lebih berat, karena aku dianugerahi kesabaran atasnya, karena dengan itu aku mengucapkan kalimat istirja (innalillahi wa inna ilaihi rajiun) sehingga aku memperoleh pahala, dan karena musibah itu tidaklah menimpa agamaku.” (Siyâru A’lâmi an Nubalâ, juz 4 hal 105).

Setiap orang pasti pernah mendapatkan musibah. Hanya saja, ketika “musibah” itu tidak menimpa agama, maka “musibah” tersebut tergolong masih ringan. Bahkan “musibah” tersebut jika disikapi dengan sabar akan memberikan kebaikan.

“Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Allah tinggikan ia satu derajat atau Allah hapuskan darinya satu kesalahan.” (HR Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad).

Musibah bisa jadi juga merupakan kasih sayang Allah Taala. Dia ingin menegur hamba-Nya agar tersadar, atau ingin bersegera memberikan hukuman di dunia saja. Ada seorang laki-laki menemui seorang wanita yang dahulunya, pada masa jahiliah adalah pezina. Lelaki tersebut bermaksud mencumbuinya. Ia membentangkan tangannya kepada wanita itu. Lalu wanita itu berkata, “Tahan, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menghilangkan kesyirikan. ‘Affan (perawi hadis) berkata, “Telah hilang kejahiliahan dan Islam telah datang kepada kami.” Kemudian, laki-laki itu berpaling meninggalkannya, tetapi wajahnya terkena dinding hingga terluka.

Lelaki itu mendatangi Nabi saw., dan mengabari beliau. Kemudian beliau saw. bersabda, “Kamu adalah hamba yang Allah menghendaki kebaikan kepadamu. Jika Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba, niscaya akan menyegerakan siksa atas dosanya. Jika Dia menghendaki kejelekan, maka Dia akan menangguhkan dosanya sehingga akan menumpuk penuh dosanya untuk dibalas pada hari kiamat.” (HR Ahmad, shahih lighairihi)

Adapun “musibah” jika menimpa agama, kadang banyak yang tidak merasa. Al Hâfidz Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) dalam kitab Bahjatul Majâlis sampai menyindir dengan sebuah syair, “Wahai saudaraku, sesungguhnya sebagian laki-laki itu layaknya binatang ternak dalam bentuk seorang laki-laki yang mendengar dan melihat. Ia cerdas untuk setiap musibah yang menimpa hartanya, tetapi ketika musibah tersebut menimpa agamanya, ia tidak merasakan (apa-apa).”

Kalau musibah yang berupa bencana alam menimpa, pertolongan masih bisa diharapkan. Banyak manusia terketuk hatinya untuk membantu. Namun, siapa yang sanggup menolong ketika harus berhadapan dengan Allah Swt. karena agamanya tertimpa “musibah”? Ketika hukum-hukum-Nya diabaikan. Ketika manusia berpikir bahwa mereka lebih berhak mengatur diri mereka sendiri, sementara aturan yang bersumber dari wahyu dikesampingkan dengan berbagai alasan. Ketika aurat sudah tidak dianggap tabu lagi untuk ditampilkan. Ketika riba dan zina justru menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan. Ketika semua ini terjadi, tetapi tidak terbetik rasa prihatin sedikit pun, ini sungguh musibah besar.

“Musibah” agama ini telah melahirkan “musibah” lain. Gangguan jiwa berat yang dialami jutaan penduduk Indonesia, bunuh diri yang dilakukan oleh ribuan orang Indonesia setiap tahun, jutaan bayi diaborsi (dibunuh) setiap tahun, dan berbagai masalah sosial lainnya merupakan akibat dari musibah jenis ini.

Rasulullah saw. menyatakan, “… Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan memilih-milih apa yang diturunkan Allah (yang sesuai dengan hawa nafsunya saja yang dipakai), kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka.” (HR Ibnu Majah dengan sanad hasan).

Kita pantas merasa berdosa ketika tidak ikut membantu korban bencana alam. Namun, sudahkah kita merasa berdosa ketika tidak ikut mengatasi “bencana” yang lebih besar ini? Alasan apa yang akan kita sampaikan ketika kelak kita ditanya di hadapan-Nya? Allahu A’lam. [MNews/YG]

Sumber: mtaufiknt[dot]wordpress[dot]com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *