Penulis: Ustaz Irfan Abu Naveed
Muslimah News, NAFSIYAH — Mahabah (cinta) kepada Allah itu beralamat. Alamatnya adalah taat. Mahabah kepada Allah juga bersyarat. Syaratnya adalah al-ittibâ’. Meniti jalan yang mulia Rasulullah ﷺ. Ini sejalan dengan firman-Nya,
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian berpaling, sungguh Allah tidak menyukai kaum kafir.’” (QS Ali Imran [3]: 31—32).
Dalam ayat ini, Allah mengajari hamba-Nya agar membuktikan mahabah pada-Nya. Ditandai dengan bentuk kalimat syarat (jumlah syarthiyyah). Adanya huruf syarat (in dan fa’ jawâb syarthiyyah). Jawab-syarat senantiasa terikat pada syarat. Ini sebagaimana diuraikan Abu Hilal al-Askari (w. 395 H). Hal demikian menunjukkan bahwa syarat mutlak membuktikan mahabbatuLlâh adalah meniti jalan mulia Rasulullah ﷺ. Ini sebagai bagian dari bukti ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Imam Al-Azhari menegaskan,
Cintanya seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dengan menaati Allah dan Rasul-Nya, serta meniti jalan Rasul-Nya dalam ketaatan tersebut.
Mahabah hamba kepada Allah Swt. dibuktikan dengan mencintai keimanan yang terpatri indah dalam kalbu. Pada saat yang sama, ia membenci kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Betapa indah apa yang Allah Swt. firmankan,
“Ketahuilah oleh kalian bahwa di tengah-tengah kalian ada Rasulullah. Jika ia menuruti kemauan kalian dalam beberapa urusan, kalian benar-benar mendapat kesusahan. Namun, Allah menjadikan kalian ‘mencintai’ keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hati kalian. Allah pun menjadikan kalian membenci kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan lurus.” (QS Al-Hujurat [49]: 7).
Dalam ayat yang agung ini, Allah Swt. mengedepankan frasa fîkum di depan kata Rasulallah (taqdîm al-khabar ’alâ al-ism). Ini adalah kiasan dari peringatan atas perbuatan mengedepankan pandangan diri sendiri daripada pandangan Rasulullah ﷺ (li al-tahdzîr ’alâ wajh al-kinâyah). Pelajaran pentingnya, mengajari kaum muslim agar meniti semua yang Rasulullah saw. syariatkan atas mereka berupa hukum-hukum, meskipun hal tersebut tidak sesuai kehendak mereka.
Diikuti keberadaan al-fi’l al-mudhâri’ lafal yuthî’ukum. Ini menunjukkan bahwa jika perbuatan tercela tersebut berkesinambungan dan dianggap benar (fî katsîr[in] min al-amr), akan berakhir menjadi dosa dan kebinasaan.
Akan tetapi, Allah menganugerahi mereka cinta pada keimanan, yakni mendekatkannya dalam kalbu, mendorong ketaatan, dan membuahkan kebencian pada al-kufr (ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya), al-fusûq (melanggar hukum Islam), dan al-‘ishyân (menyelisihi ketaatan). Ini menunjukkan bahwa keimanan membuahkan ketaatan dan menjauhkan dari kemungkaran. Dipertegas dengan penyifatan ulâ’ika hum ar-râsyidûn. Mereka inilah yang khusus disifati ar-râsyidûn, yakni orang-orang yang konsisten di atas jalan lurus, tuntutan syariat, dan adab Islam (qashr al-shifat ‘alâ al-mawshûf).
Al-Hafizh Ibnu al-Jauzi (w. 597 H) dalam Bahr al-Dumû’ (hlm. 28) memperingatkan,
Kamu maksiat pada Allah, tetapi mengaku cinta pada-Nya
Ini mustahil dalam ukuran
Jika cintamu benar, niscaya kamu akan menaati-Nya
Sungguh pecinta itu taat pada yang ia cintai
Mahabah hamba kepada Allah tidak akan bertepuk sebelah tangan. Dalam perspektif balaghah, kalimat yuhbibkumuLlâh (Allah mencintai kalian) merupakan bentuk kiasan yang dipinjam (al-isti’ârah). Berkonotasi “Allah mengampuni kalian”. Ibnu Arafah menegaskan bahwa mahabbatuLlâh li al-’abd (cinta Allah pada hamba-Nya) diwujudkan dalam bentuk ampunan-Nya. Bisa juga berkonotasi Allah meridai kalian (yardhâ ’ankum), sebagaimana ditegaskan Syekh Mahmud bin Abdurrahim Shafi (w. 1376 H).
Sebaliknya, firman-Nya, “fa innalLâha lâ yuhibbu al-kâfirîna” bermakna Allah tidak akan mengampuni kekufuran karena Allah selamanya tidak meridainya,
“Jika kalian kafir, sungguh Allah tidak memerlukan (iman) kalian dan Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya.” (QS Az-Zumar [39]: 7).
Begitu pula segala bentuk kemungkaran yang mencakup keyakinan, pemahaman, dan amalan yang bertentangan dengan akidah dan syariat Islam, semisal Kapitalisme, Komunisme, dan Demokrasi, yang seluruhnya bertolak dari filsafat kufur. Imam Al-Syathibi (w. 790 H) pun memperingatkan, “Mereka pun tidak menjadi seperti itu, kecuali dengan keterikatan mereka terhadap hal-hal yang menyelisihi sunah. Mengikuti mereka (kaum filosof) dalam perkara ini merupakan kesalahan besar dan penyimpangan dari jalan lurus.
Begitu pula sikap buruk mempersekusi dakwah penegakan Khilafah yang akan menegakkan syariat Islam, serta menghalang-halangi manusia untuk menegakkan agama Allah dalam kehidupan. Semua ini merupakan sebab kemurkaan-Nya dan menjauhkan dari cinta-Nya. Hal yang menimpa kaum Tsamud, misalnya, cukup menjadi pelajaran,
“Adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk. Kemudian, mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Fushshilat [41]: 17).
Kalimat fastahabbû al-’umâ min al-hudâ’ (mereka lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk) merupakan bentuk kiasan yang dipinjam (al-isti’ârah) untuk menggambarkan betapa bodohnya mereka yang menukar petunjuk dengan kesesatan, setelah petunjuk tersebut sampai kepada mereka sehingga kesesatan digambarkan Allah dengan istilah al-’umâ’ (kebutaan).
Bukti paling aktual pada zaman ini, menimpa mereka yang bersikukuh menolak Khilafah, tetapi pada saat yang sama mati-matian membela Demokrasi-Kapitalisme (’asha-biyyah), dan menjegal dakwah penegakkan Khilafah Islamiah demi menjaga singgasana kekuasaannya yang fana. Wal ’iyâdzu bilLâh,
“(Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, serta menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.” (QS Ibrahim [14]: 3).
WalLâhu a’lam. [MNews/YG]
Sumber: alwaie[dot]net
