[Nafsiyah] Hakikat Kasih Sayang Allah

[Nafsiyah] Hakikat Kasih Sayang Allah

Penulis: Ustaz Arief B. Iskandar

Muslimah News, NAFSIYAH — Banyak orang mengukur kemuliaan dari rezeki yang ia dapatkan. Banyak yang mengira, seseorang yang bergelimang rezeki atau kaya berarti dimuliakan dan disayang Allah Taala. Tidak sedikit pula yang menduga, seseorang yang sedikit rezekinya atau miskin berarti tidak dimuliakan dan disayang Allah Taala.

Sesungguhnya kaya bukan ukuran kemuliaan. Miskin bukan ukuran kehinaan. Orang kaya belum tentu disayang Allah Taala. Orang miskin belum tentu tidak disayang Allah Taala.

Ini karena Allah Maha Pengasih (Ar-Rahmân). Dengan sifat yang Allah miliki ini, semua makhluk Allah kasih, tanpa pilih kasih. Mukmin atau kafir, Allah beri rezeki. Orang bertakwa atau para pendosa, Allah beri nikmat yang beraneka. Orang taat atau tukang maksiat, Allah kasih sehat. Oleh karena itu, saat Anda diberi banyak rezeki, dikasih beragam nikmat, dan selalu dalam keadaan sehat, tidak berarti Anda otomatis disayang Allah Swt., kecuali jika semua itu menjadikan Anda makin taat kepada-Nya.

Di sisi lain, Allah Maha Penyayang (Ar-Rahîm). Semua makhluk memang Allah kasihi hatta kaum kafir dan para pendosa. Semua diberi rezeki, tanpa kecuali. Semua diberi nikmat, tanpa diskriminasi. Namun, hanya kaum mukmin yang layak Allah sayangi. (Lihat QS Al-Ahzab [33]: 43). Merekalah yang layak mendapatkan surga-Nya yang abadi. Mengapa? Ini karena hanya orang mukmin yang sanggup menjadikan seluruh rezeki dan nikmat Allah Swt. sebagai sarana untuk selalu taat dan bertakarub kepada Allah Taala. Mereka menggunakan rezeki dan nikmat Allah Swt. untuk beribadah kepada-Nya, menafkahi keluarganya, berinfak di jalan-Nya, menolong orang-orang yang kesulitan, bersedekah dan berwakaf untuk kepentingan Islam dan kaum muslim, dsb. Merekalah mukmin yang sebenarnya. Ini sebagaimana firman-Nya,

“Orang-orang yang menegakkan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah kaum mukmin yang sebenarnya. Mereka berkedudukan tinggi di sisi Tuhan mereka, serta mendapatkan ampunan-Nya dan rezeki yang mulia.” (QS Al-Anfal [8]: 3–4).

Wa mâ tawfîqî illâ billâh wa ’alayhi tawakkaltu wa ilayhi unîb. [MNews/YG]

Sumber: ariefbiskandar[dot]com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *