Penulis : Siti Nafidah Anshory, M.Ag.
Muslimah News, TAPAK TILAS — Kota Manado merupakan ibu kota Provinsi Sulawesi Utara. Kota ini merupakan kota terbesar kedua yang ada di Pulau Sulawesi, setelah Makassar.
Kota ini termasuk sedikit kota di Indonesia yang penduduk muslimnya minoritas. Saat ini setidaknya ada 30,95% muslim yang tinggal di kota tersebut. Sisanya menganut ajaran Kristen. Wajar jika Manado dan wilayah Sulawesi Utara lainnya identik dengan kota atau wilayah Kristen.
Sebelum Islam dan Kristen masuk, suku Minahasa yang merupakan penduduk asli Sulawesi Utara, termasuk Manado, menganut kepercayaan yang disebut Alifuru. Dengan kepercayaan ini mereka melakukan pemujaan serta penghormatan kepada para leluhur, terutama kepada mereka yang dianggap sebagai dewa (opo).
Kedatangan Islam
Konon orang-orang Islam, termasuk pedagang Arab, sudah sampai ke pesisir Sulawesi Utara sejak abad ke-16. Hanya saja, mereka tidak masuk ke pedalaman Minahasa, terutama Manado, yang saat itu masih kuat memeluk kepercayaan Alifuru.
Salah satu jalur masuknya Islam ke wilayah Sulawesi Utara ini adalah melalui jalur Gorontalo di Semenanjung Minahasa. Suku asli mereka, yakni suku Bolango sangat terbuka menerima dakwah Islam yang dilakukan dua dai asal Aceh, yakni Syekh Yusuf dan Syekh Abdul Rauf yang datang bersama rombongan pedagang dari Malaka dan singgah di pelabuhan Limboto.
Di sana, mereka menemui Raja Limboto yang bernama Ilato dan menyampaikan ajaran Islam kepadanya. Raja Ilato pun kemudian memeluk Islam dan mengubah namanya menjadi Sultan Amai. Begitu pun dengan rakyatnya. Mereka ramai-ramai memeluk Islam. Sampai-sampai, selain dikenal sebagai pusat perdagangan, Gorontalo pun menjadi pusat penyebaran Islam.
Dari Gorontalo, Islam kemudian masuk ke wilayah Bolaang Mongondow. Di sana dakwah Islam berkembang, terutama ketika salah seorang dai asal Patani bernama Syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman datang ke Bolaang Mongondow pada tahun 1564 Masehi. Ia bahkan berhasil mengislamkan Raja Wolio (Sultan Murhum) dari Buton yang sedang berkunjung ke sana.
Sayangnya, perkembangan Islam yang kala itu cukup pesat di Gorontalo dan Bolaang Mongondow ternyata tidak terlalu berpengaruh ke wilayah Sulawesi bagian utara lainnya, terutama di daerah Minahasa-Manado. Jejak Islam di daerah ini hanya terbatas di wilayah-wilayah tertentu yang menjadi tempat persinggahan para pedagang muslim, baik yang datang dari Arab maupun dari Nusantara lainnya, seperti dari Palembang, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Maluku, dan Jawa.
Terbatasnya proses dakwah di wilayah Manado Minahasa ini terkait keberhasilan upaya VOC Belanda untuk menancapkan kuku-kuku penjajahannya di wilayah ini. Hal ini masif terjadi setelah kejatuhan seluruh Maluku ke tangan Belanda pascaperjanjian Bongaya antara Kesultanan Gowa di bawah Sultan Hasanuddin dengan Belanda pada 18 November 1667.
Misi (Kristen) Vs. Dakwah Orang-Orang Buangan
Salah satu dampak direbutnya Maluku oleh Belanda dari Kesultanan Gowa-Makassar ini adalah terputusnya perdagangan beras dengan Jawa dan Makassar. Inilah yang mendorong Belanda untuk mulai melirik Sulawesi bagian Utara, terutama Minahasa, demi menguasai komoditas beras.
Hal ini dimulai ketika pada 1608, Gubernur Aulus Caerden mengirimkan sebuah kapal Belanda di bawah kapten Jan Lodewijkz Rossinggeyn ke Minahasa. Mereka datang dengan dalih akan membeli padi, tetapi pada saat yang sama berusaha menerapkan politik monopoli. Tentu saja upaya ini mendapatkan penentangan dari rakyat Minahasa hingga terjadilah Perang Tondano I tahun 1661–1664.
Namun, pada 10 Januari 1679, VOC berhasil mengikat orang Minahasa dengan Perjanjian Verbond yang berisi pengakuan bahwa Minahasa adalah sekutu setara bagi Belanda. Belanda siap membantu Minahasa dalam perang melawan kerajaan lainnya. Sebagai kompensasinya, penduduk Minahasa harus mengizinkan VOC mendirikan pos perdagangan VOC di Manado dan siap menyuplai beras bagi Belanda.
Inilah yang melatarbelakangi berdirinya loji (kantor dagang) Belanda yang diberi nama Loji Manado. Namun, beberapa tahun kemudian loji ini direbut oleh bangsa Spanyol dan kemudian diubah menjadi benteng atas perintah gubernur jenderalnya yang berkedudukan di Manila.
Pihak Belanda berhasil merebut kembali wilayah Minahasa setelah terjadi Perang Tondano ke-2 sekira tahun 1808—1809 yang berakhir dengan kekalahan rakyat Minahasa. Sejak saat itu, tanah Minahasa benar-benar jatuh ke tangan pemerintah kolonial Hindia Belanda dan resmi menjadi wilayah jajahan.
Untuk memperkuat kedudukannya, sekira tahun 1831 pemerintah kolonial mulai menggencarkan misi (Kristen) dengan mendatangkan pendeta-pendeta zending, para dokter, dan para pengajar. Ndilalah-nya, upaya kristenisasi melalui pendidikan dan kesehatan ini ternyata mendapat sambutan baik dari penduduk Minahasa sehingga akhirnya mayoritas penduduknya menerima ajaran Kristen dan bermitra dengan Belanda. Bahkan untuk memastikan loyalitas mereka, Belanda pun banyak menarik orang Minahasa untuk menjadi Tentara Belanda yang dikenal sebagai Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL).
Mercusuar Islam
Alhasil, kita bisa memaklumi mengapa sejak dahulu dakwah Islam menjadi sulit di Manado atau Minahasa. Selain karena masyarakatnya, Belanda pun melakukan langkah-langkah mencegah penyebarluasan dakwah Islam. Belanda, antara lain, melakukan pengawasan ketat kepada orang asing yang ada di Manado, seperti para pebisnis Arab yang berpotensi menyebarkan dakwah Islam. Belanda sengaja mengonsentrasikan keberadaan mereka di sebuah kampung yang kemudian dikenal sebagai Kampung Arab.
Hanya saja ada kebijakan Belanda yang sedikit banyak berpengaruh terhadap dakwah Islam, yakni ketika Belanda menjadikan Manado sebagai tempat pembuangan (pengasingan) tokoh perlawanan politik Islam.
Saat Perang Jawa (1825—1830) misalnya, pada 1828, Belanda sempat menangkap dan mengasingkan panglima perang Jawa di bawah pimpinan Pangeran Dipenogoro, yakni Kiai Modjo dan 62 prajuritnya di Manado. Mereka kemudian hidup melebur dengan masyarakat Manado.
Para pengikut Kiai Modjo ini kemudian banyak yang menikahi perempuan Minahasa. Lalu keturunan mereka menjadi penganut Islam yang beranak pinak hingga sekarang dan tinggal di Kampung Jawa di daerah Tondano (Jaton).
Selain Kiai Modjo, Pangeran Diponegoro pun sempat ditangkap dan diasingkan di Manado bersama 19 orang lainnya. Beliau tinggal di Manado selama 3 tahun, sebelum akhirnya dipindahkan ke Makassar hingga wafat di sana. Begitu pun dengan Tuanku Imam Bonjol, tokoh perang Aceh, usai kalah perang. Beliau bersama beberapa pengikutnya dibuang ke daerah tersebut dan hidup melebur di tengah masyarakat hingga wafat.
Saat ini kaum muslim masih terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu, seperti di Kampung Arab, Kampung Islam, Kampung Ketang Baru, dan Kampung Ternate Baru. Namun, di antara kantong-kantong itu, yang saat ini paling ramai adalah Kampung Arab di wilayah Kelurahan Istiqlal.
Kampung Arab saat ini bahkan dianggap sebagai mercusuar Islam di kota Manado. Di kampung ini terdapat Masjid Istiqlal yang sangat semarak dengan aktivitas syiar umat Islam. Bahkan kampung ini menjadi tanah kelahiran orang-orang besar dalam pergerakan Islam di Sulawesi Utara (Sulut). Pimpinan-pimpinan Masyumi, NU, dan Muhammadiyah di Sulut umumnya berasal dari Kampung Arab ini.
Fakta ini tentu menyimpan harapan tersendiri bagi masa depan dakwah Islam di Manado dan wilayah Sulawesi Utara lainnya. Meski saat ini mereka menjadi minoritas, tetapi kaum muslim di sana harus siap mengambil tanggung jawab untuk memastikan risalah Islam yang indah ini bisa sampai kepada seluruh masyarakat dengan sebaik-baiknya. Harapannya kelak mereka bisa menerima hidayah Islam dan bersama muslim di Nusantara lainnya bisa menjadi penegak peradaban Islam nan cemerlang. [MNews/Rgl]
*) Dinarasikan ulang dari berbagai sumber tulisan.
