Penulis: Rindyanti Septiana, S.H.I.
Muslimah News, OPINI — Slogan “muda berfoya-foya, hidup kaya raya, mati masuk surga” pernah melekat di kalangan anak muda. Apakah slogan ini masih terus eksis di tengah mereka? Nyatanya, banyak anak muda ingin cepat kaya. Di media sosial, mereka banyak diiming-imingi kemudahan, seperti tidak perlu kerja bisa kaya, hingga mereka pun terjerat penawaran yang mudah.
Ahli perencanaan keuangan, Rista Zwestika, mengungkapkan bahwa banyak anak muda di Indonesia yang terjerat dengan pinjaman online (pinjol) dan investasi bodong. Gen Z diberikan kemudahan, yakni anak muda usia di bawah 19 tahun sudah bisa mendaftar pinjol. Berdasarkan data, sebanyak 72.146 masyarakat Indonesia yang berusia di bawah 19 tahun sudah terlibat pinjol.
Jika diakumulasikan, pinjaman ini mencapai Rp168 miliar. Sebanyak 10.900 orang dengan kategori usia 19—34 tahun memiliki pinjaman mencapai Rp26 triliun. Mereka menggunakan pinjol sebagian besar untuk kebutuhan konsumtif, seperti belanja online, traveling, dan menonton konser. (Liputan 6, 21-2-2024).
Mental Kasino
Di kalangan anak muda, menjamur “the casino mentality”, yakni paradigma ingin cepat kaya dan mudah dalam waktu singkat. Hal itu tanpa disertai pertimbangan terhadap risiko yang dihadapi. Janji keuntungan besar yang ditawarkan dari berbagai pinjol dan investasi bodong menyebabkan anak muda kehilangan rasionalitas mereka.
Selain itu, adanya tekanan dari lingkungan sosial untuk ikut serta dalam “peluang investasi” memengaruhi keputusan seseorang agar tidak dicap ketinggalan tren disebut FOMO (fear of missing out). Dr. Rhenald Kasali menyatakan bahwa seharusnya pada umur 20-an, anak muda seharusnya melakukan investasi pada bidang pengetahuan, pendidikan, relasi, serta keterampilan.
Ia mengidentifikasi ada 10 toxic words yang meracuni sebagian generasi saat ini. Di antaranya cuan, quarter life crisis, insecure, passion, hustle culture, toxic workplace, work life balance, passive income, dan privilege. Hal ini mengkhawatirkan karena dianggap tren, sedangkan dampaknya cukup mengganggu terhadap perkembangan mental generasi muda. (Detik[dot]com).
Lebih parahnya lagi, tercatat tahun lalu sebanyak 25 orang bunuh diri karena pinjol, bank keliling, dan bank emok. Jumlah ini yang tertinggi dalam lima tahun terkahir, angka kasus bunuh diri sungguh mencemaskan dan seharusnya menjadi alarm tanda bahaya bagi semua pihak. Solusinya juga harus menyeluruh melingkupi masalah ekonomi dan kesehatan mental.
Akar masalah maraknya pinjol dan investasi bodong karena penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Banyak perusahaan pinjol berupaya meraup keuntungan besar dengan membuai anak muda yang minim literasi keuangan dan memiliki gaya hidup konsumtif. Sementara itu, pemerintah seolah tutup mata, tidak memberikan tindakan tegas, faktanya ratusan pinjol ditutup, tapi tetap muncul lagi.
Gagal Memberikan Pendidikan Karakter dan Ideologis
Maraknya anak muda terbuai jerat pinjol dan investasi bodong mengonfirmasi bahwa negara gagal memberikan pendidikan karakter dan ideologis. Ditambah gaya hidup materialistis akibat penerapan sistem kapitalisme menjamur di tengah kalangan muda. Materialistis merupakan sikap seseorang yang memandang kebahagiaan atau pencapaian dari sisi materi semata.
Sejatinya, kapitalisme menjadikan kebebasan individu, termasuk anak muda bebas memiliki harta dan menggunakannya sekehendak hati. Prof. Aric Rindfleisch dari Illinois State University AS menyatakan bahwa sifat materialistis, mencintai harta berlebihan akan memberikan sejumlah dampak negatif. Bahkan, orang-orang materialistis cenderung lebih sulit menerima kenyataan dan mudah stres.
Semua itu mengakibatkan mereka bisa melakukan “maladaptive consumption”, yakni ketakrasionalan pola konsumsi. Misal, membeli barang yang tidak dibutuhkan, mengonsumsi barang juga jasa yang mengancam kehidupannya. Hidup berfoya-foya tanpa memperhatikan kebutuhan atau keinginan. Memiliki sikap paranoid terhadap kematian.
Perilaku materialisme menyebabkan hidup tidak tenang, lebih mudah gelisah dan resah karena tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Jika demikian, generasi apa yang akan dicetak dari peradaban sampah bernama kapitalisme? Tentu generasi yang rapuh, budak harta, dan takut mati. Astagfirullah.
Pemuda Terarah dalam Bimbingan Islam
Pemuda dalam Islam bukanlah generasi yang mudah terbuai iming-iming uang untuk menjadi kaya dengan waktu singkat. Pemuda Islam memiliki hidup yang terarah dalam bimbingan aturan Islam.
Pertama, memiliki tujuan hidup yang benar. Islam mengajarkan kaum muslim untuk hidup dalam rangka beribadah kepada Allah Taala dan mencari rida-Nya semata. Setiap melakukan sesuatu mempertimbangkan rida-Nya bukan keuntungan materi saja.
Kedua, memiliki cara pandang yang benar terhadap harta. Harta bukan tujuan hidup atau standar kebahagiaan. Ia hanya sarana yang Allah berikan untuk menunaikan berbagai ketaatan kepada-Nya. Memiliki harta ditujukan untuk membayar zakat, menunaikan haji dan umrah, bersedekah, mencari pahala yang terus mengalir, memberi nafkah keluarga, dan lain-lain.
Sabda Rasulullah saw, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau menyangka karena banyak harta orang menjadi kaya?” Saya (Abu Dzar) menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Engkau menyangka karena harta sedikit orang menjadi miskin?” Saya (Abu Dzar) berkata, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya, kekayaan adalah kecukupan dalam hati. Kemiskinan adalah miskin hati.” (HR Hakim dan Ibnu Hibban).
Ketiga, beriman terhadap rezeki. Rasulullah saw. bersabda, “Kemudian diutuslah malaikat kepadanya untuk meniupkan roh di dalamnya. Ia pun diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rezekinya, ajalnya, amalnya, serta celaka atau bahagianya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Khatimah
Ada satu hadis yang juga harus menjadi pengingat bagi anak muda dan semua muslim. “Siapa saja yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan membuat perkaranya berantakan, kemiskinan berada di depan kedua matanya, dan dunia tidaklah datang, kecuali yang telah ditentukan bagi dirinya saja. Siapa saja yang menjadikan akhirat (sebagai) niatnya, niscaya Allah akan memudahkan urusannya dan menjadikan rasa kecukupan tertanam dalam hatinya dan dunia akan mendatanginya dan dunia itu remeh.” (HR Ibnu Majah).
Generasi Islam tidak akan terbuai dengan pinjol dan investasi bodong. Jika mereka mau menikmati hidup yang sejahtera. Hal itu bisa terwujud dengan tegaknya institusi Islam bernama Khilafah. Tercatat oleh sejarah, Khilafah yang meliputi 2/3 dunia menjadi peradaban maju dan menyejahterakan seluruh manusia. Bahkan, dalam salah satu periode kekhalifahan, pernah tidak ada satu pun warga yang layak menerima zakat karena semuanya hidup dalam kemakmuran. Masyaallah. [MNews/Gz]
