[Tafsir Al-Qur’an] Hakikat Perubahan (Bagian 1/2)

[Tafsir Al-Qur’an] Hakikat Perubahan (Bagian 1/2)

Oleh: Ustaz M. R. Kurnia

MuslimahNews.com, TAFSIR AL-QUR’AN — Allah Swt. berfirman,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya; mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar-Ra’du [13]: 11)

Makna Global

Manusia senantiasa dijaga oleh malaikat. Amal manusia dicatat oleh malaikat yang menyertainya, Raqib dan Atid. Karena semua amal manusia dicatat oleh malaikat dan manusia diberi pilihan, maka ketika seseorang atau masyarakat berada dalam kondisi buruk, mereka diperintahkan untuk melakukan perubahan.

Begitu pula sebaliknya, kenikmatan yang diberikan oleh Allah Swt. akan berganti menjadi malapetaka jika mereka mengubahnya. Perubahan yang terjadi diinformasikan oleh Allah Swt. hanya akan terjadi jika dilakukan oleh masyarakat itu sendiri, baik ke arah baik maupun ke arah buruk. Ketika suatu masyarakat hendak berubah maka masyarakat itu sendirilah yang harus memperjuangkan dan melakukan perubahan, bukan yang lain.

Di samping itu, bukan hanya mereka sendiri yang harus melakukan perubahan, apa yang harus diubah pun dijelaskan dalam ayat ini. Allah Yang Mahatahu menegaskan bahwa yang harus diubah itu adalah segala sesuatu yang terkait dengan apa yang hendak diubah tersebut dan yang meniscayakan terjadinya perubahan. Pangkal dari semua itu adalah pemahaman (mafâhim). Artinya, untuk mengubah suatu keadaan harus dilakukan perubahan mafâhim.

Jika suatu masyarakat hendak mengubah sistem ekonomi kapitalis menjadi ekonomi Islam haruslah dilakukan perubahan pemahaman dalam diri mereka tentang kebobrokan ekonomi kapitalis sekaligus pemahaman tentang kewajiban menerapkan ekonomi Islam dan pemahaman tentang apa dan bagaimana sistem ekonomi Islam.

Demikian juga untuk mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat Islam; pemahaman jahiliah yang berkaitan dengan pemikiran, perasaan, dan sistem aturan sebagai pembentuk masyarakat harus diubah dan diganti menjadi pemahaman yang berdasarkan Islam.

Pendapat Para Ahli Tafsir

Berikut ini adalah komentar para ahli tafsir berkenaan dengan ayat di atas:

1. Imam Jalalain: Frasa “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum,” bermakna tidak mencabut kenikmatan dari mereka; sedangkan frasa, “sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,” bermakna dari keadaan baik menjadi keadaan maksiat.

2. Imam Ibnu Katsir—mengutip hadis qudsi marfû’: Rasul bersabda: Allah berfirman: Demi kemuliaan-Ku, kebesaran-Ku dan ketinggian-Ku di atas ‘Arsy, tidaklah suatu negeri dan penghuninya berada dalam kemaksiatan kepada-Ku yang Aku benci, kemudian mereka berupaya mengubah keadaan tersebut menjadi ketaatan kepada-Ku yang Aku cinta, melainkan Aku akan mengubah bagi mereka siksa-Ku yang mereka benci menjadi rahmaht-Ku yang mereka sukai.” (Dari penuturan Ali bin Abi Thalib k.w., sebagaimana diriwayatkan dari al-Hafizh Muhammad bin Utsman.)

3. Imam Al-Ghazali: Allah tidak akan pernah mengubah kenikmatan yang telah diberikan kepada suatu kaum hingga mereka mengubahnya.

4. Imam Az-Zarqani: Sesungguhnya umat yang menghendaki Allah Swt. mengubah keadaan yang tidak mereka sukai ada pada kaumnya wajib mengubah sikap jiwanya terlebih dulu. Jika mereka telah melakukannya, niscaya Allah Swt. akan mengubah keadaan mereka pada keadaan yang mereka ridai. Ini merupakan satu-satunya mukjizat keilmuan Al-Qur’an. Setelah dibukakan rahasia ini oleh Al-Qur’an, teranglah bagi kita wajibnya amar makruf nahi mungkar untuk melakukan perubahan.

5. Imam Al-Baydhawi: Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan kenikmatan dan kebaikan suatu kaum hingga mereka sendiri mengubah kebaikan yang ada dalam diri mereka dengan keburukan.

6. Imam Az-Zarkasyi: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kenikmatan yang diberikan kepada suatu kaum hingga kaum itu sendiri mengubah apa yang ada dalam diri mereka.

7. Imam ath-Thabari: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kenikmatan dan kesehatan suatu kaum dengan cara menghilangkan dan membinasakannya hingga mereka mengubahnya sendiri dengan melakukan kezaliman dan kejahatan satu sama lain. Jika ini terjadi maka ketika itu turun siksa-Nya dan terjadilah perubahan.

8. Imam as-Suyuthi: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kenikmatan yang diberikan kepada suatu kaum hingga mereka mengubah apa-apa yang ada dalam diri mereka. Nikmat disini adalah Muhammad saw. yang diberikan kepada Quraisy, tetapi mereka kufur terhadapnya. Karena itu, Allah memberikannya kepada kaum Anshar.

9. Imam Ats-Tsa‘labi: Ayat ini merupakan kabar dari Allah Swt. bahwa jika Dia telah memberikan kenikmatan kepada suatu kaum, maka dengan kelembutan dan kasih sayang-Nya Dia tidak akan mengubahnya hingga datang dari mereka pihak yang mengubah keadaan mereka yang baik tersebut. Jika ini terjadi, maka Allah Swt. mengubah kenikmatan tersebut dengan malapetaka, seperti yang menimpa Quraisy saat mengingkari kenikmatan berupa kerasulan Muhammad saw. [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 2/2

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *